oleh

Upacara Tradisi Pernikahan dan Kelahiran Masyarakat Tionghoa

Oleh JEREMY HUANG

BANYAK upacara yang dilakukan Masyarakat Tionghoa sejak kelahiran hingga kematian. Tetapi sayang, saat ini hampir hilang karena Banyak dilupakan oleh generasi muda.  Hendra Lukito, Pengamat Budaya Tionghoa, menceritakan tradisi masyarakat Tionghoa dalam pernikahan. Sebelum Pernikahan, di kebudayaan Tionghoa juga mengenal lamaran. Biasanya dalam prosesi lamaran yang sederhana, harus membawa dua keranjang buah-buahan, pakaian wanita, pakaian pria, dan Ang Pao berisi uang yang ditaruh di dalam keranjang wanita.

Dalam acara lamaran, sang pria didampingi kedua orang tua, kerabat dari orang tua, baik itu adik-kakak dari ayah mempelai pria atau adik-kakak dari pihak ibunya pria. Di keluarga, sang calon mempelai wanita juga ada pihak ayah ibu sang calon mempelai wanita. Dan ada juga family dari pihak ayahnya wanita, juga ada family dari pihak ibunya wanita.

Keluarga pihak pria ketika datang ke rumah wanita mereka, memberikan kiong hie tanda hormat kepada keluarga wanita. Kedatangan keluarga dari calon mempelai pria disambut oleh keluarga mempelai wanita, kemudian keluarga sang calon mempelai pria menjelaskan tujuan kedatangan sang calon mempelai pria. Setelah itu sang calon mempelai pria memberikan ang pao, sebagai pengganti air susu dan uang dapur untuk ibunya dari sang calon mempelai wanita.

Kemudian keluarga dari mempelai pria menyerahkan barang bawaan lamaran kepada keluarga wanita. Sang calon mempelai pria kemudian memasangkan kalung emas ke wanita. Dibalas oleh sang wanita dengan mengembalikan satu keranjang lamaran yang dibawa pria, yang berisi pakaian pria. Yang menjadi pantangan, di dalam keranjang tersebut tidak boleh ada anggur, karena khawatir akan menganggur.

Menurut Hendra Lukito dalam kepercayaan Masyarakat tionghoa, tidak boleh menikahkan anaknya setahun dua kali. Dan jika ada anggota keluarga yang meninggal, maka pernikahan mundur minimal setengah tahun.

BACA JUGA:   Jelang Tutup 2019, Serapan Belanja Langsung dalam APBD Masih Lesu

Hendra Lukito menjelaskan, pada hari pernikahan, Pengantin Pria dipakaikan jas pengantin oleh kedua orang tua mempelai pria. Kemudian rambut mempelai pria disisir dan dipakaikan sarung tangan oleh orang tua mempelai pria, sebagai tanda pelepasan tugas akhir dari pengabdian kedua orang tua pria.
Kemudian mempelai pria berlutut dan kiong hie (salam hormat dengan kedua tangan di lipat), sebagai tanda hormat dan terima kasih dari anak kepada orang tua yang sudah membesarkannya.

Kemudian mempelai pria diantar dengan pengapit bestman, dibawa dan diantar ke rumah mempelai wanita. Syarat pengapit dari pengantin pria harus masih lajang. Sementara itu di rumah mempelai wanita, sebelum Pengantin Pria dibawa ke rumah penganten wanita, ada upacara mandi kembang, dilakukan sehari sebelum pernikahan. Selain itu, minum jamu dan luluran.

Di hari pernikahannya, mempelai wanita disisir oleh ibu dari pihak wanita, kemudian didoakan. Setelah itu ayah ibu mempelai wanita menutup cadar mempelai wanita. Ketika mempelai pria datang, sang mempelai pria harus membeli jeruk yang dibawa anak kecil family dari mempelai wanita. Jika ada kakak mempelai wanita yang belum menikah, maka sang mempelai pria harus gunting pita yang dipasang keluarga mempelai wanita. Sebelum mempelai pria gunting pita, maka mempelai pria wajib menyerahkan uang melangkah untuk kakak mempelai wanita.

Kemudian, orang tua mempelai wanita menaburkan beras kuning yang ditutup dengan oblog. Artinya, orang tua mempelai wanita mendoakan supaya mempelai pria dapat rejeki banyak dan karier yang gemilang. Karena, beras kuning merupakan lambang gemilang makmur, kemudian pengapit pria kiong hie kepada kedua orang tua wanita sebagai tanda berakhirnya tugas pengapit membawa mempelai pria ke rumah mempelai wanita. Setelah itu ayah pengantin wanita memayungi mempelai pria. Artinya ayah mempelai wanita melindungi mempelai pria, karena mempelai pria sudah jadi anaknya, masuk sebagai anggota keluarga. Ayah dan ibu mempelai wanita menggandeng mempelai pria masuk ke kamar pengantin wanita. Setelah itu sang mempelai pria kiong hie kepada mempelai wanita. Kemudian kedua mempelai kiong hie dan sedjekui kepada kedua orang tua mempelai wanita, sebagai tanda hormat dan ucapan terima kasih.

BACA JUGA:   Polres Majalengka Amankan Ribuan Botol Miras

Setelah itu mereka ke gereja atau kelenteng untuk mengikuti upacara agama, yang meresmikan pernikahan mereka. Setelah upacara agama, kemudian mereka sedjekui dan kiong hie kepada kedua orang tua baik dari mempelai pria maupun mempelai wanita.

Kemudian ada acara ciong teg (tuang air teh) kedua mempelai tuang air teh kepada orang yang dituakan, baik dari pihak mempelai wanita dan mempelai pria. Dan orang yang di tuakan wajib memberi ang pao kepada kedua mempelai sebagai tanda persaudaraan. Setelah itu kedua mempelai melepas burung merpati sebagai tanda berakhirnya masa lajang mereka. Itulah tradisi pernikahan masyarakat Tionghoa. []

Komentar

News Feed