oleh

Sanggar Pringgadhing Handoyo MY dan Jaringan Komunitas Swaratala Siap Lakoni Teater Ider-ideran Ngomongayam

CIREBON (CT) – Kalau kita ngobrol ngalor-ngidul atau bicara ‘tinggi’ dan ‘sulit’ dicerna awam, maka omong kosong semacam itu oleh orang Cirebon dikatakan Ngomongayam (bahasa-ayam). Mengapa omong-kosong disebut Ngomongayam? Saya tidak tahu. Bisa saja di sini dijelaskan soal Ngomongayam, tapi saya harus siap-siap dicap;sedangNgomongayam.

Ngomongayam di sini, adalah judul pertunjukkan Teater Ider-ideran (Teater Jalanan; Street Teater) teater yang dipentaskan dalam bentuk pawai (Bahasa Cirebon – ider-ideran).

Teater Ider-ideran Ngomongayam akan bergerak dari Lapangan Kebumen (Lapangan Jean Henri Dunant) melewati jalan depan gedung BAT, Kanoman, Keprabonan, Pulasaren, Masjid Agung Ciptarasa dan berakhir di Panggung Utama yang terletak di halaman depan dalam Keraton Kesepuhan.

Teater Ider-ideran Ngomongayam akan berproses setiap hari dari tanggal 1 sampai 4 Desember 2014 di Kota Cirebon, waktunya Selepas Senja (ba’da magrib). Dalam proses selama 4 hari penonton akan menyaksikan perubahan Teater Ider-ideran Ngomongayam dari tahap satu sampai tahap empat atau puncak.

Teater Ider-ideran Ngomongayam menyampaikan gambaran persoalan kebudayaan Bangsa Indonesia yang diakibatkan oleh kegagalan budaya bahasa. Persoalan Kebudayaan Indonesia yang hingga saat ini tak juga kunjung jelas sosok dan jati dirinya.

Bahasa Indonesia yang lahir pada tahun 1928 dalam perjalanannya untuk mencapai wujud kebudayaan bangsa yang utuh, telah sejak lama ‘tersesat’ di ‘pasar politik’ kekuasaan. Disebabkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa bangsa telah kehilangan dan dihilangkan ruh-nya, yaitu budaya bahasa-bahasa nusantara yang berasal dari pulau jawa, sumatera, kalimantan, sulawesi, maluku, bali, nusatenggara, papua dan pulau-pulau lainnya.

Dengan alasan Bahasa Nasional, budaya bahasa nusantara unsur utama bahasa Indonesia, dipinggirkan. Bahasa nusantara dan cuma dianggap sebutir fonem atau bahkan dianggap nonfonemik; sekedar bunyi, suara masa silam yang hanya membebani laju kemajuan.

BACA JUGA:   Prodia Berkomitmen Putus Mata Rantai Thalassemia

Jatidiri budaya nusantara yang sesungguhnya adalah leksikon budaya bangsa dan harus menjadi kerangka batin (language acquisition device) bangsa Indonesia, terbuang percuma dan kini merana jadi barang antik di loakan.

Saat undang-undang otonomi daerah lahir di tahun 2000, semakin nampak jelas bagaimana di antara Bahasa Nusantara semakin keras saling sikut di antara mereka, bertarung memperebutkan kapling di ruang Bahasa Nasional. Ruang bahasa sebagai ruang kekuasaan bukan ruang kebudayaan. Perebutan yang menjadikan Indonesia terus semakin didominasi oleh gagasan budaya politik dan tak kunjung mewujud menjadi gagasan kebudayaan yang utuh.

Dalam kondisi kebingungan budaya seperti itu, apa pun yang diproduksi wacana hanya jadi wacana dan wacana. Hiruk-pikuk percakapan tentang banyak hal hanyalah gumam saja, dengung kawanan lebah di sarang madu.
Pertunjukan Teater Ider-ideran Ngomongayam menyajikan proses eksplorasi gerak dan percakapan di ruang publik terbuka selama 4 hari dengan memusatkan pada proses pengembangan stamina energi dan stamina konsentrasi.

Dialog dalam Ngomongayam dilakukan dengan bebas menyerupai kegiatan latihan kelas vokal yang sedang tekun melakukan proses penggalian, permainan fonemik (phonemics) dan nonfonemik (paralingual). Unsur gerak (kinetics) menjadi proses olah tubuh dalam interaksinya dengan tubuh masyarakat sesungguhnya.

Pentas Ngomongayam didukung 70 orang personil anggota Sanggar Pringgadhing Handoyo MY dan jaringan komunitas Swaratala dari desa Plumbon, Kabupaten Cirebon pimpinan seniman muda Mahisa Windu Segara, putra almarhum Handoyo MY, maestro kesenian dan budayawan Cirebon. (CT-125)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed