oleh

Pemkot Cirebon Sambut dan Sukseskan Gotrasawala Tahun 2014

CIREBON (CT) – Walikota Cirebon Ano Sutrisno pada selasa (02/12) menyambut baik perhelatan Gotrasawala tahun 2014 di Kota Cirebon dan berharap kegiatan tersebut bisa sukses hingga selesai dan tentunya Kota Cirebon akan dikenal lebih luas lagi di seluruh penjuru tanah air dan dunia.

“Kami Kota Cirebon siap menggelar dan mensukseskan ajang Gotrasawala di Kota tercinta kami ” Ujar Ano. Kegiatan Gotrasawala sendiri tandas Ano akan dilangsungkan pada tanggal 3 hingga 6 Desember 2014 di seluruh wilayah di Kota Cirebon.

Kali ini Gotrasawala mengangkat tema Revisiting Cirebon in the 17th Century, suatu masa di kota Cirebon yang mencatat adanya sebuah perhelatan ‘akademik’ dan budaya berjudul GOTRASAWALA, yaitu pertemuan para ahli sejarah dan budayawan dari seluruh Nusantara plus negara-negara di Asia seperti Trengganu, Malaka dan Tumasik (Singapura), Mesir, Arab, India , Srilangka, Benggala, Campa, Cina, dan Ujung Mendini (Semenanjung Malaysia).

Dengan tema di atas Gotrasawala II di tahun 2014 ini akan memberikan fokus yang khusus kepada Cirebon sebagai sebuah entitas sejarah dan senibudaya yang memiliki kekhasan tersendiri dalam konteks wilayah Jawa Barat yang sangat luas dan majemuk. Seperti pada Gotrasawala I di tahun 2013 yang lalu, Gotrasawala II juga akan memiliki dua program besar, yaitu Konferensi dengan 2 buah topik.

“Revisiting Gotrasawala in 17th Century Cirebon” dan “West Javanese Arts: Past, Present and Future” (sebuah tema yang akan selalu muncul sebagai kesinambungan Gotrasawala).Konferensi ini akan berlangsung selama 3 hari, yaitu dari tanggal 4-6 September dan akan diikuti oleh para ahli sejarah dan senibudaya Indonesia baik dari negara-negara Australia, Eropa, Amerika maupun Asia. Tokoh akademik yang akan menjadi keynote speakers kali ini adalah Professor Taufik ABdullah seorang sejarahwan senior di Indonesia.

BACA JUGA:   Prodia Berkomitmen Putus Mata Rantai Thalassemia

Festival kesenian Jawa Barat yang juga bertema: Past, Present dan Future. Kegiatan festival ini juga akan di bagi menjadi 2 bagian besar, yaitu Main Festival yang akan menyajikan berbagai pertunjukkan kesenian klasik dan kontemporer Cirebon dan Jawa Barat, plus kesinambungan kerjasama para seniman Jawa Barat dengan seniman-seniman dari Eropa (musik) dan Amerika (tari dan teater) di ruang-ruang pertunjukkan formal, dan Fringe Festival yang akan menyajikan berbagai seni pertunjukkan rakyat Jawa Barat pilihan, baik yang tradisional maupun kontemporer di beberapa lokasi non-formal di kota Cirebon. Festival kesenian ini akan berlangsung pada tanggal 4-6 Desember di seluruh kota Cirebon.

Festival film etnografi Jawa Barat yang akan di awali oleh workshop selama 4 hari pada tanggal 16-19 Juli 2014 di Kampung Budaya Sindang Barang (Bogor). Instruktur workshop adalah sutradara film etnografi kelas dunia Lawrence Blair (Ring of Fire), Tino Sarunggalo (Manajer Produksi “Eat, Pray and Love”) dan Aqni Ariatama (Penata Kamera khusus film dokumenter).

Dari para peserta workshop ini akan di pilih 3 grup pembuat film yang akan di berikan dana 50 juta per grup untuk membuat produksi film etnografi dengan tema khusus tentang sejarah dan kehidupan budaya Jawa Barat.

Festival film etnografi ini juga akan menyajikan film-film penting tentang Jawa Barat dan Indonesia dimasa kolonial yang tersimpan di Dutch National Film Archive. Disamping itu masih akan ada kompetisi film etnografi se Jawa Barat yang akan memilih 7 nominasi film terbaik dengan hadiah masing-masing 7 juta dan sebuah film terbaik dengan hadiah 50 juta. (CT-113)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed