oleh

Meski Pandemi Covid-19, Minuman Cilemon Banjir Pesanan

Citrust.id – Endin Hardianto (38), pemuda asal Desa Sukawana, Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka, sukses merintis bisnis UMKM jualan minuman dari bahan lemon meski pandemi Covid-19.

“Tidak terpengaruh walau ada pandemi. Justru produk kami dengan brand Jeruk Cilemon dibutuhkan sebagai untuk meningkatkan daya tahan tubuh,” kata pemuda yang akrab disapa Kang Ehar itu saat ditemui di kediamannya, Jumat (13/11).

Kang Ehar mengungkapkan, kalaupun bahan bakunya ada, order atau pesanan Jeruk Cilemon malah semakin meningkat.

“Order sampai daftar tunggu setiap bulannya. Kami sulit memenuhi karena bahan baku lemon lokal tidak ada atau terbatas,” ungkap pria alumni SMAN 1 Majalengka itu.

Kang Ehar sukses merintis bisnis minuman Cilemon di tengah Pandemi Covid-19.

Alumni UPI Bandung itu mengungkapkan, pada bulan Oktober, pihaknya baru bisa memenuhi orderan 200 botol Cilemon atau setengahnya dari pesanan 400 botol Cilemon.

“Bulan ini baru 50 botol yang terpenuhi karena kami kesulitan bahan baku Lemon lokal, “ungkapnya.

Kang Ehar mengatakan, pihaknya mengandalkan bahan baku lemon dari para petani lokal di Sukawana. Namun, terkendala bahan baku pada musim kemarau tidak ada panen Lemon.

“Bahan baku lemon tersedia pada bulan Maret sampai Juni. Sedangkan Oktober-November tidak ada lemon. Terpaksa ambil dari luar. Soalnya kami fokus pakai bahan baku lemon lokal. Kalau Lemon California ada tiap bulan, cuma rasanya lebih soft Sedangkan lemon lokal rasanya lebih kecut. Ini yang disukai konsumen,” jelasnya.

Ehar mengungkapkan, untuk pemasaran, dirinya melakukan promosi di sosmed, tetapi tidak menjual langsung tapi melalui reseller.

“Strategi penjualan saya memperbanyak reseller. Saking banyaknya, pesanan perhari bisa mencapai 70 botol,” ungkapnya.

Ehar menceritakan latar belakang membuat minuman dari bahan lemon yang berawal dari kakeknya punya kebun lemon. Namun, lemon kalau dijual ke bandar atau tengkulak cuma dihargai Rp2-3 ribu perkilogram.

BACA JUGA:   Penyalur TKI Ilegal Diringkus Polisi

“Setelah itu, saya ubah strategi penjualanya. Lemon saya kemas dengan kemasan lebih bagus sehingga bisa laku Rp10-15 ribu perkilogram,” ungkapnya.

Minuman Cilemon.

Sesudah itu, dari pengalaman yang beli lemon banyak ibu-ibu yang ingin praktis dan survei di Majalengka serta banyak merek-merek pabrikan yang masukk, akhirnya memutuskan membuat sendiri minuman lemon dengan merek Cilemon.

Ia juga berburu di grup medsos tentang minuman lemon, bertemu atau berkenalan dengan orang yang mau mengajarkan membuat minuman lemon dari Bekasi.

“Orang tersebut sampai mengajarkan buat sirup dari lemon dan dengan dibuat minuman. Nilai ekonomis buah Lemon lebih tinggi. Akhirnya saya terus membuat minuman ini sampai sekarang,” ujar Ehar.

Ehar berpesan di masa pandemi covid-19 agar terus optimis dan tetap bergerak di sektor ekonomi terutama bagi UMKM.

Gundukan sumbangan sampah plastik untuk pembangunan masjid di Desa Sukawana, Kecamatan Kertajati, Majalengka.

“Selain Cilemon, saya juga mengelola sampah melalui Bumdes. Kami mengkoordinir sumbangan sampah plastik buat pembangunan masjid, khusus sampah plastik, kaca dan kertas,” ungkap Ehar yang juga ketua Bumdes di desanya.

Ehar mengungkapkan, mengelola sumbangan sampah merupakan salah satu solusi bagi pembiayaan pembangunan masjid di desanya.

“Apa yang bisa saya lakukan, ya dilakukan, walau nilainya kecil. Bagi warga yang tidak bisa menyumbang uang untuk pembangunan masjid, bisa menyumbang dalam bentuk sampah. Sampai sekarang sudah berkumpul sekitar 1 kuintal. Bahkan, dari luar desa pun sudah ada yang menyumbang,” pungkasnya. (Abduh)

 

Komentar

News Feed