oleh

Mengenal TAYUB

Oleh Dadang Kusnandar
penulis lepas, tinggal di Cirebon

TARI Tayub atau Tayuban ada ketika Kerajaan Cirebon dipimpin Panembahan Ratu sekitar abad 17 Masehi. Penciptanya anonim, sebagaimana karya seni lain pada masa itu. Pengabdian berupa karya seni dihadiahkan bagi kerajaan, baik sebagai hiburan maupun upaya menitipkan pesan moral melalui karya seni.

Kartani (alm) menjelaskan, tayub merupakan tari pergaulan yang pada mulanya ditujukan bagi masyarakat menengah ke atas. Tari ini diciptakan untuk menyambut tamu keraton, setelah dipersilakan duduk lantas diminta menari dengan putri keraton. Tamu pun disuguhi wedang jamu untuk menyehatkan tubuh.

Menurut budayawan itu jarak peneri tayub perempuan dengan penari tayub lelaki berjauhan. Tujuannya untuk menghindar dan penari tak saling bersentuhan.

Dengan kata lain etika pergaulan dan nilai agama masih dipegang, serta harus terus dipertahankan. Asal kata tayub diambil dari bahasa Arab (thoyib) artinya baik.

Bagi Kartani, tayub merupakan tari pergaulan yang tidak semata tari; melainkan kepada perlunya menyeleraskan gerak tangan kaki penari mengikuti suara gamelan. Makin selaras makin asik ditonton dan tak urung mengundang tawa.

Meski bisa saja, penonton tertawa karena penari salah melakukan gerak ibing dan tak sesuai bunyi gamelan. Tari pergaulan ini mestinya jangan dicemari oleh hal-hal negatif.

Etnis Tionghoa yang bermigrasi dari Rembang menuju Cirebon melalui jalur laut saat meletus Pemberontakan Trunojoyo di Mataram, mencari suaka politik ke kerajaan Cirebon.

Harta kekayaannya dibawa serta. Sebagai ungkapan terima kasih atas kebaikannya Raja Cirebon, etnis ini ikut mengembangkan tayub. Sampai dengan tahun 2010, di Klenteng Jamblang Kabupaten Cirebon masih terdapat peralatan gamelan ~yang sangat mungkin dibeli dari keraton untuk menarikan tayub.

BACA JUGA:   Ini Penjelasan Kuasa Hukum INA terkait Penembakan di Ruko Sakura

Kendati gamelan yang berusia ratusan itu kini teronggok di gudang dan tak ada lagi yang mampu memainkannya. Bukan karena gamelan itu telah berkarat saja, tetapi juga para nayaga sudah tidak ada lagi.

Etnis Tionghoa memainkan tayub tidak disertai minuman keras. Melainkan dengan menyediakan jamu penghangat tubuh dan jaburan. Bahkan karena suaka politik yang diberikan keraton cirebon kepada etnis tionghoa, rasa terima kasih itu diwujudkan antara lain dalam pembangunan Gua Sunyaragi.

Tayub sebagai tari pergaulan kelas menengah atas, boleh jadi ketika itu diminati dan dikembangkan oleh etnis Tionghoa karena merasa dekat dengan kekuasaan (keraton) lantas otomatis masuk ke kategori kelas menengah. Sesuatu yang lumrah pada etnis mana pun.

Pada perjalanan berikutnya, Tayub disertai pesta minuman keras. Jarak penari lelaki dan perempuan jadi dekat. Kata tayub sendiri bergeser dari singkatan anayuba anawina, artinya ada yang diminum berupa minuman keras. Tayub pun berganti nama menjadi Pesta.

Kuwu dan camat pada masa itu memiliki alat gamelan sendiri. Untuk sebuah pesta. Konon gamelan itu dibeli dari keraton seharga 40 ringgit uang emas. Pergeseran ini terjadi karena perngaruh Belanda, sehingga ada kesenian lain yang dinamakan Ronggeng atau Lhedek.

Penari perempuan usai menampilkan kelihaiannya menari, juga bisa diajak memuaskan nafsu birahi lelaki yang membayarnya. Pengenaan kemben para penari tayub serta saweran turut mengubah keanggunan tayub menjadi tari “seronok”.

Gerakan Tayuban identik dengan Tari Gembyong, yang juga biasa pentas di kalangan istana. Kala dijajah Belanda, pihak perhubungan Indonesia kerap menggunakan Tayub sebagai media untuk memperlihatkan identitas budaya. Bahkan, Belanda tertarik dan membangun tiga sekolah Tayub di Cirebon.

Tarian ini untuk menyambut pesta golongan bangsawan dalam merayakan khitanan, pernikahan, atau yang paling meriah merayakan hari besar kenegaraan di kabupaten dan kewedanaan.

BACA JUGA:   Ini Penjelasan Anak Bupati Majalengka Terkait Berita Penembakan

Dalam pesta tersebut sudah menjadi kebiasaan di mana yang punya hajat menyediakan seperangkat gamelan, para nayaga, dan ronggeng. Para nayaga dan ronggeng biasanya dari kalangan rakyat yang khusus diundang atau didatangkan (dibayar) khusus dari pemangku hajat.

Ronggeng biasanya tidak kurang dari dua, yaitu yang satu menyanyi dan yang satu lagi menari bersama (diikuti) para bangsawan. Yang pertama disodori selempang (kain tipis) biasanya yang punya hajat, orang yang memiliki kedudukan dan pangkat yang tinggi.

Biasanya para penari atau para bangsawan, meneguk minuman keras (arak) tapi tidak sampai mabuk-mabukan hanya untuk menghangatkan badan. Hal ini merupakan kebiasaan hidup orang Barat.***

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed