oleh

Ribuan Warga Ikuti Nyiramkeun Pusaka Kerajaan Talaga Manggung

Citrust.id – Ribuan warga Majalengka dan sekitarnya menghadiri acara “Nyiramkeun Pusaka” Kerajaan Talaga Manggung di Museum Talaga Manggung Desa Talaga Wetan Kecamatan Talaga Kabupaten Majalengka, Senin (14/10/2019).

Camat Talaga Ucu Sumarna mengatakan acara diawali kirab dan lomba tumpeng dan akan melaksanakan Deklarasi Alun-Alun Talaga Manggung sebagai area publik dan tempat berkumpul yang nyaman dan kemudian kirab keliling dan finish di Museum Talaga Manggung kemudian acara utama Nyiramkeun Pusaka.

Di tempat yang sama, Asda II Bidang Pembangunan Pemkab Majalengka H. Abdul Gani mengatakan mengapresiasi kepada Camat dan Muspika serta seluruh masyarakat Talaga.

“Kegiatan ini sangatlah penting agar kita tidak melupakan sejarah dan leluhur kita,”ungkapnya.

“Silahkan konsep dan anggaran untuk penyempurnaan Alun-alun ke depan ajukan ke Pemerintah Kabupaten, mari kita bangun alun-alun Talaga lebih bagus lagi seperti alun-alun Kabupaten yang saat ini sedang dibangun dengan anggaran 18 milyar,”ungkapnya.

“Sebentar lagi akan dibangun RSUD di Talaga dan tolong dirancang jalan Lingkar Luar untuk mengurai kemacetan dan semoga Nyiramkeun ini ke depan menjadi Destinasi wisata budaya dengan adanya Bandara Kertajati,”ungkapnya.

Panitia acara dari Keluarga besar Kerajaan Talaga Manggung Iman Firmansyah mengatakan acara ini intinya kita ingin mendekatkan silaturahmi dengan semua keturunan Talaga dan melestarikan warisan leluhur kita.

Iman mengatakan acara Nyiramkeun diawali dengan mengambil air dari 9 mata air yang terdapat di bekas wilayah Kerajaan Talaga Manggung.

Menurutnya Nyiramkeun merupakan kegiatan membersihkan artefak peninggalan Kerajaan Talaga Manggung yang disimpan oleh keturunannya dengan air tumbukan bunga Mayang yang disimpan dalam sebuah bejana besar dan biasa dilakukan pada hari Senin sebelum tanggal 20 bulan Safar.

“Masuk islamnya Raden Rangga Mantri atau Prabu Pucuk Umun terjadi di hari Senin bulan Safar dan meninggalnya Sunan Talaga Manggung pun terjadi di hari Senin bulan Safar,” ujarnya.

BACA JUGA:   Masyarakat Cirebon Sangat Antusias Manfaatkan Layanan Broadband dan Digital Telkomsel

Ritual Nyiramkeun ini, menurutnya dimulai dengan mengambil air dengan wadah dari bambu kuning ke sembilan sumber mata air yang dianggap keramat yaitu air dari Gunung Bitung, Situ Sangiang, Cikiray, Wanaperih, Lemahabang, Regasari dan Cicamas, dan Nunuk.

“Pengambilan air dilakukan oleh sesepuh atau tokoh adat pada awal bulan Safar, Bambu Kuning berisi air kemudian dibawa ke Museum Talaga Manggung untuk disatukan ke dalam satu kendi, kemudian dibacakan doa secara Islam,” jelasnya.

Dalam ritual Nyiramkeun air dari bambu kuning itu menurutnya disiramkan ke benda-benda pusaka, dimulai dari menyiramkan air ke arca Raden Panglurah, arca Simbar Kancana, pedang, gong dan benda pusaka lainnya. (Abduh)

Komentar

News Feed