Kebakaran Lahan Majalengka Meluas, Damkar Hanya Punya Dua Armada Aktif

Kebakaran Lahan Majalengka Meluas, Damkar Hanya Punya Dua Armada Aktif
Kebakaran lahan Majalengka meluas, Damkar hanya punya dua armada aktif. (ist)

Citrust.id – Sebanyak 244 kejadian kebakaran tercatat di Kabupaten Majalengka selama Januari hingga September 2026. Lonjakan kasus yang terjadi dalam tiga bulan terakhir membuat kebutuhan penguatan layanan pemadam kebakaran semakin mendesak, sementara dari enam mobil pemadam yang dimiliki pemerintah daerah, hanya dua unit yang masih dapat dioperasikan.

Data Dinas Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran (Satpol PP dan Damkar) Kabupaten Majalengka menunjukkan peningkatan jumlah kebakaran yang cukup signifikan sepanjang tahun ini. Kenaikan paling mencolok terjadi saat memasuki periode kemarau, terutama pada Agustus dan September.

Pada semester pertama, jumlah kejadian kebakaran relatif lebih rendah. Rinciannya, Januari tujuh kejadian, Februari lima kejadian, Maret empat kejadian, April sembilan kejadian, Mei tujuh kejadian, dan Juni sebanyak 14 kejadian.

Memasuki Juli, jumlahnya meningkat menjadi 45 kejadian. Tren tersebut berlanjut pada Agustus dengan 54 kejadian, sebelum mencapai angka tertinggi pada September sebanyak 99 kejadian.

Tingginya frekuensi kebakaran menjadi tantangan bagi petugas dalam menjangkau lokasi kejadian. Persoalan semakin kompleks karena wilayah Kabupaten Majalengka cukup luas dan jarak antara satu daerah dengan daerah lainnya relatif berjauhan.

Kepala Bidang Pemadam Kebakaran Dinas Satpol PP dan Damkar Kabupaten Majalengka, Puja Gustian, mengatakan kesiapan armada masih menjadi salah satu kendala utama dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Dari enam kendaraan pemadam kebakaran yang tersedia, hanya dua unit yang saat ini bisa digunakan untuk operasional. Akibatnya, petugas harus menghadapi keterbatasan ketika beberapa kejadian kebakaran berlangsung dalam waktu berdekatan.

“Dari enam mobil Damkar, yang bisa dipergunakan hanya dua unit. Sementara kasus kebakaran cukup tinggi dan wilayah Kabupaten Majalengka juga luas, dengan jarak antardaerah yang berjauhan,” ungkap Puja.

Keterbatasan kendaraan tersebut turut memengaruhi jangkauan pelayanan, terutama di kawasan selatan Majalengka. Menurut Puja, kemampuan penanganan kebakaran di wilayah tersebut belum berjalan optimal.

BACA JUGA:  Libur Panjang HUT RI, Pertamina Pastikan Stok BBM di Ruas Tol Aman

Adapun kawasan bagian bawah atau dataran yang lebih mudah dijangkau masih dapat dilayani petugas. Namun, waktu kedatangan armada ke lokasi terkadang belum sesuai dengan harapan masyarakat.

“Untuk sementara, wilayah selatan Majalengka belum bisa teratasi secara optimal oleh Damkar. Sedangkan wilayah bagian bawah masih bisa tertangani, walaupun terkadang tidak tepat waktu,” jelasnya.

Persoalan lain muncul dari keterbatasan sumber daya manusia. Saat ini, jumlah personel yang mendukung pelayanan pemadam kebakaran hanya sekitar 32 orang.

Untuk membantu memenuhi kebutuhan petugas di lapangan, Dinas Satpol PP dan Damkar bahkan harus melibatkan personel melalui penugasan bawah kendali operasi (BKO) dari Satpol PP.

Dengan kondisi tersebut, kebutuhan penguatan layanan tidak hanya menyangkut penambahan kendaraan. Ketersediaan tenaga operasional dan peralatan pendukung juga menjadi bagian penting agar penanganan kebakaran dapat menjangkau seluruh wilayah.

Di sisi lain, kebakaran lahan turut menambah beban penanganan petugas. Berdasarkan data luas area terdampak, kebakaran di wilayah utara mencapai sekitar 500 meter persegi, sedangkan di selatan mencapai 1,8 hektare.

Sementara itu, wilayah barat mencatat luas kebakaran lahan sekitar 10,5 hektare. Angka terbesar berada di kawasan timur dengan luas mencapai 19,3 hektare.

Sebaran kebakaran lahan tersebut menunjukkan besarnya wilayah yang membutuhkan kesiapsiagaan petugas. Terlebih saat cuaca kering, api berpotensi menjalar lebih luas sehingga penanganan harus dilakukan dengan mempertimbangkan tingkat kedaruratan dan akses menuju lokasi.

Kondisi armada yang terbatas membuat petugas harus menyesuaikan prioritas ketika menghadapi beberapa laporan kebakaran. Jarak lokasi, tingkat bahaya, serta kemampuan menjangkau titik kejadian menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan pemadaman.

Keterbatasan fasilitas tersebut juga mendapat perhatian masyarakat. Warga berharap pemerintah daerah segera mengevaluasi kondisi kendaraan operasional dan memprioritaskan perbaikan armada yang tidak dapat digunakan.

Abduh, warga Talaga, menilai jumlah kendaraan yang benar-benar siap beroperasi belum sebanding dengan kebutuhan pelayanan di wilayah Majalengka. Menurutnya, kebakaran bisa terjadi sewaktu-waktu sehingga kesiapan armada menjadi hal penting.

BACA JUGA:  Karna Ajak Semua Pihak Sukseskan Penurunan Angka Stunting di Majalengka

“Kalau dari enam mobil yang tersedia hanya dua yang bisa digunakan, tentu ini perlu menjadi perhatian. Kebakaran tidak bisa diprediksi kapan dan di mana terjadinya. Kami berharap armada yang rusak segera diperbaiki dan kebutuhan kendaraan tambahan bisa diprioritaskan,” ujarnya.

Harapan serupa disampaikan Sarip, warga Rajagaluh. Ia menilai pembenahan layanan pemadam kebakaran harus mencakup ketersediaan peralatan dan kecukupan personel, bukan hanya pengadaan kendaraan baru.

“Petugas Damkar berada di garis depan ketika masyarakat menghadapi musibah kebakaran. Karena itu, mereka perlu didukung kendaraan yang siap pakai, peralatan yang memadai, dan jumlah personel yang cukup. Jangan sampai masyarakat yang tinggal jauh dari pusat kota kesulitan mendapatkan pertolongan,” katanya.

Menurut warga, pemerataan jangkauan pelayanan juga perlu diperhatikan. Masyarakat di wilayah utara, selatan, barat, dan timur Majalengka diharapkan memperoleh akses penanganan kebakaran yang memadai.

Evaluasi terhadap kesiapan armada, kelengkapan alat pelindung diri, peralatan pemadaman, serta kebutuhan personel menjadi sejumlah hal yang dinilai perlu mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Majalengka.

Selain itu, pemetaan kawasan rawan kebakaran dan pengaturan kesiapsiagaan petugas juga diperlukan untuk mendukung respons darurat. Koordinasi penanganan diharapkan mampu membantu mempercepat kedatangan petugas ke lokasi kejadian.

Masyarakat juga perlu meningkatkan kewaspadaan, khususnya selama musim kemarau. Pemeriksaan instalasi listrik, penggunaan kompor secara aman, serta menghindari pembakaran sampah dan pembukaan lahan menggunakan api secara sembarangan menjadi langkah pencegahan yang perlu diperhatikan.

Dengan catatan 244 kejadian kebakaran hingga September 2026, kesiapan layanan Damkar Majalengka menjadi persoalan yang perlu segera dievaluasi. Ketersediaan armada yang berfungsi, peralatan memadai, dan personel yang cukup dibutuhkan agar masyarakat di seluruh wilayah mendapatkan penanganan ketika kebakaran terjadi. (Abduh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *