Citrust.id – Ahmad Dzuizzin, S.H., M.H. terpilih sebagai Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Cirebon melalui Konferensi Cabang (Konfercab) yang berlangsung di salah satu hotel di Jalan Tentara Pelajar, Kota Cirebon, Sabtu (22/8/2026).
Ahmad terpilih setelah melalui persaingan dengan Muhammad Iqna Syam. Setelah dipercaya memimpin organisasi kepemudaan di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) tersebut, ia langsung menetapkan sejumlah agenda yang akan menjadi fokus kepengurusannya.
Konsolidasi organisasi, kaderisasi, pengawalan terhadap ulama, serta hubungan dengan pemerintah menjadi beberapa prioritas yang disampaikan Ahmad seusai Konfercab. Ia menilai pelaksanaan agenda tersebut membutuhkan keterlibatan seluruh struktur organisasi, mulai dari PAC hingga ranting.
“Alhamdulillah. Sebenarnya saya tidak bisa sendiri tanpa teman-teman PAC dan ranting. Karena saya terpilih dari mereka, suara itu berasal dari ranting dan PAC,” ujarnya.
Ahmad mengatakan, GP Ansor Kota Cirebon akan kembali memperkuat perannya dalam mengawal ulama dan negara sekaligus membangun sinergi dengan pemerintah atau umara. Menurut dia, posisi Ansor sebagai badan otonom NU juga membuat kaderisasi menjadi bagian penting dalam keberlangsungan organisasi.
Ia menuturkan kader GP Ansor diharapkan dapat terus melanjutkan pengabdian di lingkungan NU setelah masa pengabdiannya di Ansor berakhir.
“Kami ingin menjaga organisasi dan kader sampai kapan pun. Setelah selesai di Ansor, ketika sudah tua, kita akan masuk ke NU, ke Nahdlatul Ulama. Karena kita ini badan otonom NU,” katanya.
Selain penguatan internal, Ahmad membawa perhatian khusus terhadap identitas Cirebon sebagai Kota Wali. Ia ingin GP Ansor ikut memperkuat kehidupan religius masyarakat dengan tetap berjalan beriringan dengan agenda pembangunan pemerintah daerah.
“Kota Cirebon ini Kota Wali. Kami ingin mengembalikan Kota Wali sebagaimana mestinya. Ansor pasti bergandengan dengan syariat Islam, dengan kaidah fikih dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah, tanpa mengesampingkan tujuan pemerintah daerah,” ungkapnya.
Untuk memulai kepengurusan, Ahmad akan menghimpun aspirasi dari lima Pimpinan Anak Cabang (PAC) dan 22 ranting GP Ansor yang berada di Kota Cirebon. Konsolidasi di tingkat bawah dinilai penting agar program organisasi sesuai dengan kebutuhan kader dan masyarakat.
“Langkah pertama kami adalah mensinergikan aspirasi dari lima PAC dan 22 ranting. Fungsi kami di tingkat bawah adalah menyiarkan Ahlussunnah wal Jamaah rahmatan lil ‘alamin. Siapa pun yang membawa rahmat, itu bagian dari semangat Ansor,” jelasnya.
Ahmad juga berencana menguatkan kembali keberadaan GP Ansor di tengah masyarakat melalui gerakan yang disebutnya sebagai upaya “menghijaukan Kota Cirebon”. Gerakan tersebut diarahkan untuk memperkenalkan kembali nilai-nilai ke-Ansoran kepada masyarakat.
“Kami ingin menggaungkan kembali Ansor, menghijaukan Kota Cirebon. Bahwa kami adalah pemuda yang memiliki itikad ke-Ansoran, yaitu itikad yang berlandaskan syariat Islam dan Ahlussunnah wal Jamaah,” katanya.
Menurut Ahmad, perubahan pola aktivitas anak muda menjadi salah satu tantangan yang perlu dihadapi GP Ansor. Ia melihat kebiasaan generasi muda saat ini mengalami perubahan, termasuk dalam aktivitas malam yang sebelumnya lebih banyak diisi dengan kegiatan mengaji.
Karena itu, GP Ansor Kota Cirebon akan berupaya menghadirkan kegiatan keagamaan dan kepemudaan yang tetap relevan dengan kondisi zaman tanpa meninggalkan nilai religius.
“Kami ingin menggaungkan kehidupan yang religius, tetapi dengan konsep ala Ansor. Ini menjadi salah satu tantangan kami ke depan,” ujarnya.
Pengawalan terhadap ulama juga ditempatkan sebagai agenda utama kepengurusan baru. Di sisi lain, Ahmad menekankan perlunya hubungan yang baik dengan pemerintah sebagai umara.
“Harapan kami yang utama adalah menjaga ulama yang ada di Kota Cirebon. Kemudian yang kedua bersinergi dengan umara atau pemerintah. Bagi kami, pemerintahan yang sah, baik di daerah maupun pusat, adalah umara yang harus kita taati selama tidak keluar dari syariat Islam,” tuturnya.
Dalam menjalankan organisasi, Ahmad memastikan kepengurusannya akan tetap mengacu pada Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga (PD/PRT) serta ketentuan organisasi yang berlaku.
Ia menyebut struktur GP Ansor berjalan secara berjenjang dari pimpinan pusat, wilayah, cabang, PAC hingga ranting. Karena itu, setiap tingkatan organisasi harus berjalan dalam satu komando.
“Kami selalu satu komando. Ada peraturan organisasi yang menjadi pakem, mulai dari pusat, wilayah, cabang, kecamatan sampai ranting. Semuanya harus satu komando sesuai PD/PRT dan peraturan organisasi, yang pada akhirnya bertujuan untuk kemaslahatan umat,” tegasnya.
Sementara itu, Plt Ketua PC GP Ansor Kota Cirebon, M Deni F, menjelaskan Konfercab dilaksanakan setelah dirinya mendapat mandat dari pimpinan pusat untuk menjalankan tugas kepengurusan sekaligus menggelar konferensi cabang.
Mandat tersebut diterimanya sejak April 2026 setelah terjadi kekosongan dalam kepengurusan PC GP Ansor Kota Cirebon.
“Karena memang tadinya ada kekosongan dalam pengurusan di Kota Cirebon, maka akhirnya pimpinan pusat menugaskan kepada kami sebagai kader untuk melaksanakan tugas tersebut,” kata Deni.
Menurut Deni, musyawarah dan mufakat menjadi bagian dari tradisi organisasi Ansor dalam menyelesaikan persoalan. Kontestasi baru ditempuh ketika kesepahaman antarkandidat tidak tercapai.
Ia juga memastikan proses Konfercab GP Ansor Kota Cirebon tidak disusupi kepentingan politik praktis.
“Saya bertanggung jawab penuh bahwa Konfercab kali ini tidak ada satu pun unsur politik dari siapa pun atau partai. Mudah-mudahan dengan itu semua akhirnya konferensi ini berjalan dan bisa diselesaikan dengan musyawarah mufakat,” tegasnya.
Deni berharap kepengurusan GP Ansor Kota Cirebon di bawah kepemimpinan Ahmad Dzuizzin dapat terus berkembang, semakin maju, dan lebih dikenal masyarakat.
Dengan terpilihnya ketua baru, GP Ansor Kota Cirebon kini memasuki fase kepengurusan yang akan diarahkan pada konsolidasi lima PAC dan 22 ranting, penguatan kaderisasi, pengawalan ulama, serta sinergi dengan pemerintah. (Haris)













