Ketika Kearifan Sunda Berdialog dengan Gus Dur: Menemukan Makna Nyiar Elmu dalam Tradisi dan Kemanusiaan

  • Bagikan
Firman Saefatullah, M. Pd (Guru MAN 3 Majalengka)
Firman Saefatullah, M. Pd. (ist)

Firman Saefatullah, M. Pd (Guru MAN 3 Majalengka)

Kita hidup pada zaman ketika informasi tersedia dalam jumlah yang hampir tak terbatas. Dalam hitungan detik, seseorang dapat mengakses ribuan buku, jurnal, video, dan berbagai sumber pengetahuan dari seluruh penjuru dunia. Kemajuan teknologi telah mengubah cara manusia belajar. Namun, kemudahan memperoleh informasi tidak selalu berarti kemudahan memperoleh kebijaksanaan. Di tengah banjir informasi, justru semakin banyak orang yang mengetahui banyak hal, tetapi kesulitan memahami makna dari apa yang diketahuinya.

Keadaan ini mengingatkan kita bahwa ilmu tidak identik dengan informasi. Informasi hanya menjadi ilmu ketika dipahami, direnungkan, dan dihayati dalam kehidupan. Karena itu, pendidikan sejati tidak cukup hanya mengajarkan apa yang harus diketahui, tetapi juga bagaimana seseorang belajar, bersikap, dan memaknai setiap pengalaman hidupnya.

Barangkali di sinilah kearifan para karuhun Sunda kembali menemukan relevansinya. Jauh sebelum lahir berbagai teori pendidikan modern, mereka telah meninggalkan sebuah falsafah sederhana yang hingga kini tetap terasa aktual, yaitu “luang tina daluang, ti papada urang, tina luang.”

Nyiar Elmu: Sebuah Perjalanan Seumur Hidup

Ungkapan tersebut berbicara tentang nyiar elmu, bukan sekadar memiliki ilmu. Pilihan kata nyiar dalam bahasa Sunda mengandung makna mencari dengan kesungguhan, ketekunan, dan kerendahan hati. Seorang pencari ilmu tidak pernah merasa selesai. Semakin banyak yang dipelajari, semakin ia menyadari bahwa masih banyak pengetahuan yang belum dijangkaunya.

Antropolog Kunto Adimihardja menjelaskan bahwa falsafah tersebut menggambarkan tiga sumber utama pengetahuan dalam pandangan masyarakat Sunda, yaitu tina daluang (belajar melalui bacaan), ti papada urang (belajar dari sesama manusia), dan tina luang (belajar melalui pengalaman hidup). Ketiga sumber itu membentuk satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Ilmu tidak tumbuh dari satu ruang saja, tetapi berkembang melalui interaksi manusia dengan teks, masyarakat, dan kehidupan.

Falsafah ini menunjukkan bahwa masyarakat Sunda sesungguhnya memiliki pandangan pendidikan yang sangat inklusif. Mereka tidak membatasi ruang belajar hanya pada sekolah atau lembaga pendidikan formal. Seluruh kehidupan adalah ruang belajar, selama manusia memiliki kesediaan untuk terus membuka mata, membuka pikiran, dan membuka hati.

Membaca sebagai Jembatan Peradaban

Bagian pertama, tina daluang, mengingatkan bahwa membaca merupakan pintu awal menuju pengetahuan. Daluang, yang dahulu menjadi media tulis tradisional, melambangkan warisan ilmu yang dititipkan oleh generasi sebelumnya kepada generasi berikutnya.

BACA JUGA:  Pameran Ekonomi Kreatif dan Musik Tampilkan Potensi Majalengka

Membaca bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan dialog lintas zaman. Ketika seseorang membaca, ia sedang bercakap dengan orang-orang yang mungkin telah lama tiada. Ia belajar dari pengalaman, kegagalan, dan kebijaksanaan mereka tanpa harus mengulang seluruh perjalanan yang sama.

Islam sendiri menempatkan membaca sebagai fondasi peradaban melalui wahyu pertama, Iqra’. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi literasi bukan sekadar kebutuhan akademik, tetapi juga bagian dari proses memuliakan manusia. Bangsa yang gemar membaca sesungguhnya sedang membangun masa depannya dengan belajar dari pengalaman masa lalu.

Belajar dari Sesama, Merawat Kerendahan Hati

Namun, para karuhun Sunda memahami bahwa tidak semua pengetahuan dapat ditemukan dalam buku. Karena itu, mereka menambahkan jalan kedua, yaitu ti papada urang.

Setiap manusia adalah guru. Seorang petani, nelayan, pedagang, guru, bahkan anak kecil sekalipun menyimpan pengalaman yang layak dipelajari. Pengetahuan tidak selalu lahir dari ruang kuliah atau laboratorium. Ia sering kali tumbuh dari percakapan sederhana, kerja bersama, dan pengalaman hidup sehari-hari.

Pandangan ini selaras dengan nilai silih asah, silih asih, silih asuh yang menjadi fondasi hubungan sosial masyarakat Sunda. Belajar bukanlah perlombaan untuk menjadi yang paling pintar, melainkan proses saling mencerdaskan dan saling memanusiakan. Kerendahan hati menjadi syarat utama dalam perjalanan mencari ilmu, sebab seseorang yang merasa telah mengetahui segala sesuatu sesungguhnya telah menutup pintu pembelajaran bagi dirinya sendiri.

Pengalaman sebagai Guru yang Paling Jujur

Jalan ketiga, tina luang, membawa kita pada pemahaman bahwa kehidupan adalah sekolah yang sesungguhnya. Banyak pelajaran yang tidak pernah selesai dijelaskan oleh buku, tetapi dapat dipahami melalui pengalaman.

Kegagalan mengajarkan ketabahan. Kehilangan mengajarkan keikhlasan. Keberhasilan mengajarkan tanggung jawab. Bahkan kesalahan sering kali menjadi guru yang paling efektif karena meninggalkan pelajaran yang sulit dilupakan.

Budayawan Jakob Sumardjo melihat bahwa kebudayaan Sunda dibangun di atas kemampuan manusia membaca harmoni alam dan kehidupan. Gunung, sungai, pepohonan, dan padi bukan sekadar bagian dari lanskap alam, tetapi juga sumber nilai yang membentuk cara berpikir masyarakat Sunda. Alam menjadi ruang kontemplasi yang mengajarkan keseimbangan, kesederhanaan, dan kebijaksanaan.

BACA JUGA:  Meng-alqurankan Ucapan Sendiri

Gus Dur dan Jalan Kemanusiaan

Falsafah Sunda tersebut menemukan resonansinya dalam pemikiran K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Meskipun tidak pernah secara langsung membahas ungkapan “luang tina daluang, ti papada urang, tina luang”, perjalanan intelektual Gus Dur memperlihatkan semangat yang sama dalam memandang ilmu.

Gus Dur adalah contoh seorang pembelajar sejati. Ia membaca kitab-kitab klasik pesantren, tetapi juga mendalami sastra, sejarah, filsafat, politik, hingga kebudayaan dunia. Ia belajar kepada para ulama, tetapi juga membuka diri terhadap pemikiran siapa pun yang dapat memperkaya wawasannya. Bagi Gus Dur, ilmu tidak boleh dibatasi oleh tembok identitas, sebab setiap pengetahuan yang membawa kemaslahatan layak untuk dipelajari.

Yang lebih penting lagi, Gus Dur menunjukkan bahwa tujuan akhir ilmu adalah kemanusiaan. Pengetahuan yang tidak melahirkan empati hanya akan menjadi kebanggaan intelektual. Sebaliknya, ilmu yang menghadirkan penghormatan kepada martabat manusia akan menjadi cahaya yang menerangi kehidupan bersama. Di sinilah perjalanan mencari ilmu menemukan makna terdalamnya.

Relevansi bagi Pendidikan Masa Kini

Di tengah tantangan pendidikan abad ke-21, falsafah “luang tina daluang, ti papada urang, tina luang” menawarkan perspektif yang sangat relevan. Pendidikan tidak boleh hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga harus membentuk budaya literasi, kemampuan berdialog, dan keberanian belajar dari pengalaman.

Madrasah, sekolah, keluarga, dan masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama dalam membentuk ekosistem belajar sepanjang hayat. Ketika peserta didik dibiasakan membaca, menghargai pendapat orang lain, serta mampu mengambil hikmah dari setiap pengalaman hidupnya, sesungguhnya mereka sedang dipersiapkan menjadi manusia yang utuh.

Pada akhirnya, kearifan Sunda dan pemikiran Gus Dur bertemu pada satu titik yang sama: ilmu bukanlah tujuan akhir, melainkan jalan menuju kemanusiaan. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menghadirkan manfaat bagi sesama. Sebab ukuran sejati seorang pencari ilmu bukanlah seberapa banyak yang ia ketahui, melainkan seberapa dalam ilmunya membentuk akhlak, memperluas kasih sayang, dan menguatkan pengabdiannya kepada Tuhan dan kemanusiaan. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *