Citrust.id – Penghasilan yang tidak menentu tidak membuat Muchtar (68) mengabaikan kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Warga Cirebon tersebut justru menyisihkan Rp1.000 hingga Rp2.000 setiap hari agar iuran tetap terbayar dan perlindungan kesehatan bagi dirinya serta keluarga tidak terputus.
Kebiasaan itu telah dijalani Muchtar sejak terdaftar sebagai peserta JKN pada 2018. Baginya, membayar iuran bukan sekadar kewajiban, tetapi bagian dari persiapan menghadapi kebutuhan kesehatan yang sewaktu-waktu bisa muncul.
Sebelum menjalani pekerjaan yang sekarang, Muchtar pernah menjadi pengemudi angkutan kota dan buruh harian lepas. Pendapatannya kala itu berubah-ubah, bahkan dalam sehari terkadang hanya sekitar Rp30 ribu dan pada hari lain bisa mencapai Rp50 ribu.
Kondisi tersebut membuat Muchtar harus cermat membagi penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari. Ia kemudian memilih menyisihkan sedikit uang secara rutin untuk memastikan iuran JKN tetap dapat dibayarkan.
“Tidak pasti dapat penghasilannya berapa, jadi setiap hari selalu nabung seribu sampai dua ribu untuk bayar iuran JKN,” lanjutnya.
Manfaat kepesertaan itu kemudian dirasakan langsung oleh Muchtar dan istrinya. Dalam beberapa tahun terakhir, keduanya rutin menjalani pemeriksaan dan perawatan akibat masalah kesehatan, termasuk keluhan yang berkaitan dengan jantung dan saraf.
Muchtar juga menyebut dirinya dan sang istri pernah menjalani operasi serta harus mendapatkan perawatan di rumah sakit selama beberapa hari. Pengalaman tersebut semakin menguatkan pandangannya mengenai pentingnya memiliki jaminan kesehatan.
“Saya dan istri sudah sering kontrol pakai JKN. Kami juga pernah operasi, dirawat inap beberapa hari. Alhamdulillah sekarang enggak repot. Kalau enggak ada JKN, mungkin biaya yang sudah dikeluarkan bisa sampai ratusan juta,” tegas Muchtar.
Selama menjalani pemeriksaan dan pengobatan, Muchtar mengaku mendapatkan pelayanan yang baik dari dokter maupun perawat. Pengalaman tersebut membuat ia dan istrinya merasa lebih nyaman ketika harus menjalani kontrol ataupun perawatan.
Bagi Muchtar, keberadaan JKN juga memberikan ketenangan karena kebutuhan biaya kesehatan tidak selalu dapat diprediksi. Dengan kondisi penghasilan yang harus dikelola secara hati-hati, ia merasa terbantu ketika kepesertaannya dapat digunakan saat membutuhkan pelayanan kesehatan.
“Adanya BPJS Kesehatan kami sangat terbantu. Yang penting iurannya tetap dibayar, supaya kalau sewaktu-waktu membutuhkan pengobatan, JKN-nya bisa digunakan,” ujar Muchtar.
Muchtar berharap kepesertaan JKN miliknya dapat terus aktif sehingga manfaat perlindungan kesehatan tetap tersedia ketika diperlukan. Ia juga mengingatkan peserta lain agar tidak mengabaikan pembayaran iuran.
“Iuran JKN-nya jangan lupa dibayar ya supaya aktif terus,” pesan Muchtar.







