ETF Emas Bukan Ancaman bagi Perdagangan Berjangka, Ini Alasannya

ETF Emas Bukan Ancaman bagi Perdagangan Berjangka
Kepala Cabang PT Equityworld Futures (EWF) Cirebon, Ernest Firman. (Haris/Citrust.id)

Citrust.id – Kehadiran Exchange Traded Fund (ETF) emas dinilai tidak serta-merta mengancam perdagangan emas berjangka. Kepala Cabang PT Equityworld Futures (EWF) Cirebon, Ernest Firman, melihat kedua instrumen tersebut memiliki karakter dan sasaran investor yang berbeda sehingga berpeluang berkembang dalam satu ekosistem investasi emas.

Menurut Ernest, ETF emas memang berpotensi menarik investor yang ingin mengikuti pergerakan harga emas untuk jangka menengah hingga panjang tanpa harus aktif mengelola posisi margin. Mekanisme transaksi melalui rekening efek serta pembelian tunai yang tidak mengenal margin call menjadi salah satu daya tariknya.

Namun, kondisi tersebut tidak berarti investor akan sepenuhnya meninggalkan perdagangan emas berjangka. Menurut dia, investor dapat membagi alokasi dan menggunakan masing-masing instrumen berdasarkan tujuan investasinya.

ETF dapat dimanfaatkan untuk eksposur investasi terhadap emas, sedangkan perdagangan berjangka menawarkan ruang bagi investor yang ingin melakukan transaksi lebih aktif. Instrumen berjangka juga memungkinkan pengambilan posisi beli maupun jual serta dapat digunakan untuk kebutuhan lindung nilai.

Ernest mengatakan, penggunaan leverage dalam perdagangan berjangka memang memberikan fleksibilitas terhadap modal. Di sisi lain, fasilitas tersebut juga meningkatkan risiko sehingga harus disertai pemahaman pasar dan pengelolaan yang disiplin.

Begitu pula dengan persoalan biaya dan likuiditas. Ia menilai karakter setiap produk perlu diperhatikan karena ETF tetap memiliki selisih harga beli dan jual, biaya pengelolaan, serta kemungkinan perbedaan harga pasar dengan nilai aset bersihnya.

“Jadi, tidak ada margin call bukan berarti tidak ada risiko kerugian,” kata Ernest.

Dari perspektif PT Equityworld Futures Cirebon, munculnya ETF emas justru menjadi perkembangan yang positif. Kehadiran instrumen baru dinilai dapat memperluas pilihan masyarakat sekaligus mendorong pelaku perdagangan berjangka meningkatkan edukasi, transparansi biaya dan risiko, serta kualitas pelayanan.

BACA JUGA:  Pemkab Gelontorkan Dana Rp 75 Miliar untuk Pembebasan Tanah Kampus ITB

Menurut Ernest, yang lebih penting adalah memastikan investor memilih instrumen berdasarkan tujuan dan kemampuan menanggung risiko. Sementara itu, besarnya kemungkinan perpindahan dana dari perdagangan berjangka ke ETF emas masih perlu dibuktikan melalui data.

Ia menilai ETF emas kemungkinan lebih banyak berhadapan dengan pembelian emas fisik dibandingkan perdagangan emas berjangka. Sebab, keduanya memiliki karakter penggunaan yang berbeda.

Ernest juga menilai narasi mengenai emas berjangka sebaiknya tidak sebatas pada potensi kenaikan harga emas. Salah satu karakter utama perdagangan berjangka adalah peluang memanfaatkan pergerakan harga dalam dua arah.

Investor dapat mengambil posisi ketika pasar bergerak naik maupun saat harga mengalami koreksi. Karakter tersebut membuat perdagangan berjangka berbeda dari pola investasi emas yang lebih umum, yakni membeli, menyimpan, dan menunggu kenaikan harga dalam jangka panjang.

“Jangan menjual narasi bahwa emas berjangka itu mudah menghasilkan keuntungan. Yang benar adalah potensinya besar karena fleksibel, tetapi harus dikelola dengan disiplin,” ujarnya.

Menurut Ernest, volatilitas pasar dapat menjadi peluang selama investor memiliki analisis dan manajemen risiko yang tepat. Sistem margin juga memungkinkan penggunaan modal secara lebih efisien, meskipun leverage memiliki konsekuensi berupa peningkatan potensi keuntungan sekaligus risiko.

Karena itu, ia menilai peran perusahaan pialang tidak sebatas menyediakan akses transaksi. PT Equityworld Futures Cirebon juga memiliki peran dalam membantu nasabah memahami pasar, membaca momentum, dan mengelola risiko.

“Dalam perdagangan berjangka yang dicari bukan hanya profit hari ini, tetapi bagaimana kita bisa tetap konsisten dan bertahan di market,” kata Ernest.

Terkait persaingan dengan ETF emas, Ernest memilih melihatnya sebagai peluang untuk memperbesar ekosistem investasi emas. Menurut dia, semakin banyak instrumen yang tersedia, semakin luas pula masyarakat yang mengenal emas sebagai bagian dari portofolio investasi.

BACA JUGA:  Lintas Instansi di Kota Cirebon Bersiap Hadapi Potensi Bencana Alam

ETF emas cenderung ditujukan bagi investor yang ingin memperoleh eksposur terhadap emas melalui mekanisme transaksi efek di bursa. Sementara itu, emas berjangka lebih sesuai bagi investor atau trader yang ingin aktif memanfaatkan volatilitas harga, termasuk ketika pasar bergerak naik maupun turun.

“Jadi menurut saya bukan ETF versus emas berjangka, tetapi ETF dan emas berjangka. Keduanya bisa hidup dalam satu ekosistem dan melayani kebutuhan investor yang berbeda,” ujar Ernest.

Ia melihat ETF emas juga berpotensi menjadi pintu masuk bagi masyarakat yang sebelumnya hanya mengenal emas dalam bentuk batangan. Ketika pemahaman mengenai emas sebagai instrumen finansial berkembang, sebagian investor dinilai dapat mencari instrumen yang lebih aktif dan fleksibel.

Kondisi tersebut sekaligus membuka ruang bagi industri perdagangan berjangka untuk memberikan edukasi lebih lanjut. Ernest menilai semakin banyak pilihan instrumen justru dapat menjadi bagian dari proses menuju pasar investasi emas Indonesia yang lebih besar dan matang. (Haris)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *