Pemkot Cirebon Kejar Target Stunting 13,05 Persen pada 2026

Citrust.id – Pemerintah Kota Cirebon memperkuat upaya penurunan stunting setelah prevalensi pada semester I 2026 tercatat 14,13 persen. Angka tersebut masih berada di atas target 13,05 persen pada akhir tahun, sehingga percepatan intervensi kesehatan bagi remaja, ibu hamil, balita, dan keluarga terus dilakukan.

Langkah tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam rapat koordinasi percepatan pencegahan dan penurunan stunting yang digelar di Bapperida Kota Cirebon, Kamis (13/8/2026). Pertemuan dipimpin Wakil Wali Kota Cirebon Siti Farida Rosmawati bersama Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sutikno serta diikuti perangkat daerah terkait.

Data Dinas Kesehatan menunjukkan prevalensi stunting 2026 naik tipis dibandingkan 2025 yang berada di angka 14,07 persen. Meski demikian, capaian tersebut jauh lebih rendah dibandingkan 19,9 persen pada 2023. Dari total 16.385 balita di Kota Cirebon, masih terdapat 2.191 anak yang mengalami stunting.

Perbedaan capaian juga terlihat antarwilayah. Kecamatan Pekalipan mencatat prevalensi tertinggi sebesar 16,37 persen, sedangkan Kecamatan Kejaksan menjadi wilayah dengan angka terendah, yakni 11,81 persen dan telah mencapai target.

Evaluasi terhadap 12 indikator intervensi kesehatan menunjukkan sebagian besar program telah memenuhi sasaran. Sebanyak 10 indikator bahkan mencapai atau melampaui target semester I, termasuk skrining anemia remaja putri yang mencapai 95,34 persen dari target 75 persen dan konsumsi Tablet Tambah Darah sebesar 92,9 persen dari target 65 persen.

Pada kelompok ibu hamil, cakupan pemeriksaan Antenatal Care (ANC) minimal enam kali mencapai 44,4 persen dari target 40 persen. Konsumsi suplemen gizi ibu hamil mencapai 50,59 persen dari target 48 persen, sementara pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil dengan Kekurangan Energi Kronis (KEK) mencapai 67,76 persen dari target 42 persen.

BACA JUGA:  HUT 101 RSD Gunung Jati, Ketua DPRD: Layanan Prima dan Profesional

Intervensi untuk balita juga menunjukkan capaian cukup tinggi. Pemantauan pertumbuhan melalui indikator D/S mencapai 94,47 persen, pemberian ASI eksklusif bagi bayi di bawah enam bulan mencapai 75,52 persen, dan pemberian MP-ASI beragam untuk anak usia 6–23 bulan mencapai 93,98 persen.

Namun, masih ada indikator yang perlu dikejar. Pemberian makanan tambahan untuk balita gizi kurang baru mencapai 29,82 persen dari target 32,5 persen. Sementara cakupan imunisasi lengkap bagi baduta berada di angka 30,5 persen, masih di bawah target 35 persen.

Siti Farida mengatakan penanganan stunting merupakan bagian dari upaya menyiapkan generasi masa depan yang sehat dan berkualitas. Ia menegaskan program tersebut menjadi salah satu prioritas pemerintah dalam strategi nasional.

Sutikno menekankan pencegahan perlu dilakukan jauh sebelum anak mengalami gangguan pertumbuhan, mulai dari masa remaja hingga periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan. “Stunting ini bisa dicegah. Karena itu, 1.000 hari pertama harus benar-benar dijaga dan masyarakat perlu terus mendapatkan edukasi serta pelayanan yang sesuai,” ujarnya.

Pemkot Cirebon juga memperkuat layanan melalui pemeriksaan kehamilan, imunisasi, pemantauan tumbuh kembang di Posyandu, PMT bagi ibu hamil dan balita bermasalah gizi, serta dukungan Program Makan Bergizi Gratis bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD.

Masyarakat didorong aktif memanfaatkan layanan kesehatan di Posyandu dan Puskesmas. Upaya tersebut diarahkan untuk mengejar target prevalensi 13,05 persen pada 2026 sekaligus mendukung sasaran jangka panjang zero stunting pada 2030. (Haris)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *