Citrust.id – Wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan (Ciayumajakuning) diperkirakan bisa menghasilkan sekitar 5.000 ton sampah dalam sehari. Di balik kebutuhan penanganan komprehensif dan modern, tersimpan potensi investasi yang besar.
Kondisi tersebut menarik perhatian Mahika Corp. Perusahaan yang bergerak di bidang kerjasama investasi pengelolaan sampah itu tertarik untuk menggarap wilayah Ciayumajakuning. Mereka berencana menggandeng Saman Corporation dari Korea Selatan.
Mahika Corp menunjukkan keseriusannya untuk menjajaki kerjasama tersebut dengan melakukan pertemuan bersama pemerintah daerah di Kabupaten dan Kota Cirebon pada Kamis (20/8/2026) lalu, di kantor Dinas Lingkungan Hidup masing-masing daerah. Bahkan, mereka juga meninjau lokasi tempat pembuangan akhir (TPA) di kedua daerah tersebut.
CEO Mahika Corp, Arif Hanif Hidayat mengatakan, inisiatif tersebut merupakan bagian dari upaya membuka peluang investasi pengelolaan sampah melalui kerja sama dengan Saman Corporation dan pemerintah Korea Selatan.
Pria yang juga berasal dari Cirebon itu menyebutkan, rencana investasi berskala besar ini turut menggandeng keterlibatan pengusaha lokal Cirebon. Perusahaan yang ia pimpin juga berdomisili di Cirebon.
“Pihak Saman Corporation intinya berminat berinvestasi untuk pengelolaan sampah,” kata Arif dalam keterangannya, Minggu (23/8/2026).
Arif memperkirakan, timbulan sampah Kabupaten Cirebon mencapai sekitar 1.000 ton per hari, sedangkan Kota Cirebon sekitar 216 ton per hari, dan Majalengka menghasilkan sekitar 600-700 ton sampah per hari.
Sementara timbulan sampah di Indramayu diperkirakan mencapai 800-900 ton per hari. Begitu juga dengan Kuningan yang memiliki potensi timbulan sampah dalam jumlah besar.
“Majalengka, Indramayu, Cirebon, Kuningan, ada beberapa spot itu kan sampahnya bisa kita secara collecting itu lebih dari 5.000 ton per hari. Itu kan sebuah hal yang agak susah untuk mengerjakannya pemerintah sendiri,” ujar Arif.
Bukan Sekadar Menawarkan Teknologi
Kendati membawa peluang teknologi pengolahan sampah, Mahika tidak langsung menawarkan kepada pemerintah daerah untuk pembangunan fasilitas atau pemilihan teknologi tertentu.
Menurut Arif, setiap daerah memiliki karakteristik berbeda, baik dari sisi demografi, kondisi wilayah maupun komposisi sampah. Oleh karena itu, pihaknya akan melakukan kajian terlebih dahulu secara menyeluruh.
“Kita tidak menawarkan teknologi dulu. Tahap awal, perlu kita lakukan kajian komprehensif mengenai persoalan hulu-hilir persampahan berikut solusinya,” katanya.
Dari hasil kajian tersebut, sambung Arif, dapat menjadi dasar untuk menentukan sistem pengelolaan sampah yang sesuai dengan karakter masing-masing wilayah.
“Setiap kultur wilayah pengelolaan dan basis datanya itu kan berbeda-beda. Dalam hal ini terkait demografi, hingga jenis sampahnya,” ujar Arif.
Mahika menawarkan pembiayaan kajian tersebut tidak membebani keuangan daerah. Pemerintah daerah tidak perlu mengeluarkan anggaran pada tahap awal proses investasi.
Arif menjelaskan, apabila pemerintah daerah menerima inisiatif tersebut dan telah terdapat Letter of Intent (LOI), pemerintah Korea Selatan akan memfasilitasi pembiayaan tahapan kajian hingga penyusunan Detailed Engineering Design (DED).
“Di saat kondisi lagi efisiensi, kita menawarkan untuk membantu mulai dari kajian awal sampai ke DED,” katanya.
Tahapan dari penyusunan studi kelaikan atau feasibility study (FS) hingga DED diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu tahun, apabila seluruh proses berjalan lancar.
Setelah tahapan persiapan selesai, pembangunan fasilitas pengolahan sampah dapat dilanjutkan melalui skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) maupun bentuk kerja sama badan usaha dengan pemerintah lainnya. (rls)













