Firman Saefatullah, M. Pd.
(Guru MAN 3 Majalengka)
Citrust.id – Menjelang peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia, makna kemerdekaan kembali menjadi bahan perenungan. Di tengah derasnya arus informasi, perkembangan teknologi, dan perubahan sosial yang berlangsung cepat, kemerdekaan tidak hanya dapat dipandang sebagai sesuatu yang telah diterima, tetapi juga sebagai arah yang perlu terus dijaga dan diperjuangkan.
Perenungan itu muncul dari suasana sederhana di sebuah madrasah menjelang sore. Setelah kegiatan belajar selesai, sejumlah murid masih terlihat sibuk dengan gawai masing-masing. Pemandangan tersebut kemudian memunculkan pertanyaan tentang bagaimana generasi yang tumbuh di tengah derasnya informasi memahami arti kemerdekaan.
Selama 81 tahun Indonesia merdeka, perayaan setiap bulan Agustus kerap dipahami sebagai momentum untuk mengenang perjalanan bangsa. Namun, kemerdekaan juga dapat dilihat dari pertanyaan yang lebih mendasar: apakah kemerdekaan merupakan hadiah yang tinggal dinikmati atau hidayah yang mengandung arah bagi kehidupan bersama?
Dalam perspektif tersebut, kata “hadiah” dan “hidayah” memiliki makna yang berbeda meski mempunyai kedekatan asal-usul bahasa. Keduanya disebut berasal dari akar kata Arab ه د ي (h-d-y). Hadiah bermakna pemberian, sedangkan hidayah berkaitan dengan petunjuk atau arah.
Perbedaan makna itu kemudian digunakan untuk melihat kemerdekaan dari sudut pandang yang lebih luas. Hadiah datang dari luar dan diterima, sedangkan hidayah membutuhkan proses untuk dicari, dipelihara, dan diwujudkan dalam kehidupan.
Kemerdekaan Indonesia pun tidak cukup dipahami sebagai sesuatu yang telah selesai setelah bangsa ini terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga menjadi jalan panjang untuk membangun masyarakat yang memiliki daya, kemandirian, serta arah kehidupan berbangsa.
Persoalannya, dunia saat ini bergerak semakin cepat. Globalisasi, media sosial, dan budaya serba instan membuat perubahan terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Informasi dapat hadir dari berbagai arah, tetapi derasnya informasi tidak selalu membuat masyarakat memiliki pegangan yang semakin kuat.
Perbedaan pilihan politik, informasi yang belum tentu benar, hingga dorongan mendapatkan pengakuan di ruang digital dapat membuat masyarakat mudah terpecah. Banyaknya pilihan yang tersedia justru dapat menjadi persoalan ketika tidak disertai kejelasan mengenai tujuan yang hendak dicapai.
Dalam kondisi tersebut, persoalan bangsa bukan hanya mengenai kemampuan mengikuti perkembangan zaman. Tantangan lainnya adalah memastikan agar kecepatan perubahan tetap disertai arah yang jelas.
Pendidikan kemudian memiliki posisi penting dalam proses tersebut. Dari sudut pandang seorang guru madrasah, pendidikan tidak semata-mata berkaitan dengan nilai dan ijazah, tetapi juga proses membantu peserta didik menemukan arah hidupnya.
Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara mengenai pendidikan sebagai proses “menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak” agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat.
Gagasan itu menjadi semakin relevan ketika anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang dipenuhi informasi dan perubahan. Pendidikan tidak cukup hanya memberikan pengetahuan serta keterampilan, tetapi juga perlu membantu mereka menentukan sikap dan arah ketika menghadapi berbagai perubahan.
Pemikiran serupa juga ditemukan dalam gagasan KH. Hasyim Asy’ari melalui kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim. Pendidikan tidak hanya ditempatkan sebagai jalan memperoleh ilmu, tetapi juga berkaitan dengan adab dalam mencari, menerima, dan mengamalkan ilmu.
Dengan demikian, peringatan HUT ke-81 RI dapat menjadi momentum untuk melihat kembali makna kemerdekaan. Pertanyaannya bukan semata-mata apa yang dapat diterima masyarakat sebagai “hadiah” dari negara, melainkan apakah bangsa ini masih memiliki arah yang jelas dalam menghadapi perubahan zaman.
Di tengah berbagai kesibukan menyambut perayaan kemerdekaan, refleksi menjadi bagian penting untuk dilakukan. Kemerdekaan bukan hanya tentang menghitung apa yang telah diperoleh, tetapi juga memastikan bahwa bangsa Indonesia masih mengetahui arah yang hendak dituju. (*)







