oleh

Unik, Warga Desa Sunia Baru Gelar Upacara Pareresan Ngalaksa

Citrust.id – Masyarakat Desa Suniabaru Kecamatan Banjaran Kabupaten Majalengka masih melestarikan tradisi yang berlangsung sejak nenek moyang sampai sekarang. Diantara sekian banyak upacara tradisional sebagai warisan budaya leluhur yang sampai sekarang masih dilestarikan yaitu Upacara Pareresan (ngalaksa).

Upacara Pareresan atau Ngalaksa adalah upacara adat desa yang dilaksanakan setiap 2 tahun sekali sebagai ucapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan hasil pertanian (tatanen) kepada warga sekaligus sebagai pelestarian nilai budaya yang dilakukan secara turun-temurun. Upacara ini melibatkan aktivitas seluruh warga masyarakat sehingga upacara ini disebut juga UPACARA DESA TEPUNG TAUN (ngarot/ngaruat).

Upacara pareresan disebut juga upacara ngalaksa, hal ini disebabkan adanya riwayat aktivitas leluhur yaitu konon katanya putri Eyang Suniantaka yang bernama Nyai Runday Kasih dipersunting oleh seorang perjaka dari kahiangan dan pada saat sedang melaksanakan kebahagiaannya mereka berdua menghilang (ngahiang) begitu saja adapun tempat mereka pada saat menghilang yaitu dibalong gede. Oleh karena itu, sampai sekarang balong gede tersebut dinamakan balong panglaksaan.

Ada beberapa hal yang menjadi puncak ritual upacara ngalaksa yaitu: Upacara tersebut dilaksanakan 2 tahun sekali dengan hari yang ditentukan yaitu hari Senin atau hari Kamis. Upacara diawali dengan mengunjungi makam Eyang Buyut Jambon yang berada dimakam Lame, rombongan tersebut diantaranya para sesepuh, pemuka adat, pejabat dilingkungan desa dan para tamu undangan. Kegiatan di Makam Lame yaitu Hadoroh /Kiriman Doa Kepada Para Leluhur Desa Sunia/Suniabaru Kemudian rombongan tersebut kembali ke tempat upacara disekitar Balong Panglaksaan. Upacara tersebut dipimpin oleh sesepuh adat (Kuncen Pemelihara Makam);

Kegiatan dibalong panglaksaan yang merupakan upacara puncak ritual yaitu berupa membuat serpihan makanan (baliung) dengan cara di fresh sehingga menjadi serpihan kecil seperti bakmi setelah mengalami gencatan dengan diiringi musik tabuhan tradisional sunda. Adapun lagu yang mengiringi upacara ngalaksa tersebut diantaranya adalah Saliasih, Kembang Gadung, Engko, Kembang Tanjung, Kembang Beureum. Hal ini berlangsung sampai siang hari/selesainya membuat serpihan makanan tadi. Upacara ini juga dipimpin oleh sesepuh adat yang bertindak sebagai lengser dengan memakai KAREMBONG LOKCAN (Paninggalan Nyai Runday Kasih) sebagai alat penarinya;

Kegiatan ini sudah berlangsung ratusan tahun dan pelaksana tugas-tugas tertentu seperti yang melaksanakan gencatan makanan (baliung) dikerjakan oleh orang tertentu beserta keturunannya.

Ketua panitia H. Ipin menjelaskan bahwa upacara pareresan ini merupakan hajat seluruh elemen masyarakat, sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan hasil pertanian (tatanen). Kemudian di dalam pesta rakyat ini ada beberapa kegiatan lain selain Upacara ritual Pareresan diantaranya, gogo ikan, wayang golek, volly ball, dan hiburan lainnya.

Ketua Karang Taruna Blok Cilandeuh Desa Suniabaru Kecamatan Banjaran Kabupaten Majalengka Ade Supriadi menambahkan dengan melaksanakan pareresan ini memberikan suatu pelajaran khususnya kepada pemuda generasi penerus untuk senantiasa melestarikan kearifan lokal daerah dan menjaga kebudayaan warisan leluhur kita. Karena zaman sekarang ini saya kira pengetahuan kebudayaan khususnya di kabupaten majalengka sangat rendah.

“Disamping itu pula pemerintah Majalengka haruslah melek melihat kondisi majalengka hari ini, jangan sampai kebudayaan lokal sendiri lambat laun akan hilang bahkan kita sebagai pribumi malah lebih mengenal budaya asing dari pada budaya lokal sendiri,”tukas dia. /abduh

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed