oleh

Tembang Sunda 1 Muharam

Catatan DADANG KUSNANDAR

SEORANG sahabat di Indramayu bersenandung sebuah tembang berbahasa Sunda. Jiga kalangkang tuh keur waktu fajar= bagai bayang- bayang ketika fajar. Di belah wetan deuh hurung gumebyar= di timur terang gemebyar. Nyebar mencar sinar puyar sa Pasundan= sinar terpancar menyebar se Pasundan. Nyambuwangsa Nusantara= tersambung ke Nusantara.

Rek nuaikeun nu ngadingding= ingin menuaikan yang tergambar. Indung peuting lir pipinding= rembulan bagai kepinding. Hilir angin ngadalingding= semilir angin berhembus. Bray beurang alam sinarling= terbukalah siang alam benderang.

Dua bait tembang/ kidung itu berkelindan dengan 1 Muharam 1440 Hijriyah. Puitis dan penuh makna. Saya lupa judul lagu yang pernah diajarkan guru sekolah dasar dulu. Tapi hingga kini masih hapal.

Tentang Pasundan yang disitir dalam lagu tersebut TIDAK bermakna etnosentrisme/ semangat kesukuan. Melainkan wujud rasa syukur kepada ilahi yang disenandungkan dalam kidung Sunda. Kalau ukurannya sebatas etnis yang ada hanya etnosentrisme. Jika ini yang dipahami maka berpotensi merusak kebhinekaan, merusak keindonesiaan.

Teman-teman ingat ada Kepulauan Sunda Besar dan Sunda Kecil yang terbentang di Nusantara? Ada Sunda Plat dan Sahul Plat dalam geografis laut dangkal di barat dan timur Indonesia. Sunda sebenarnya bukan bahasa ataupun etnis seperti yang kita tahu dan pahami sekarang, Sunda adalah ajaran yang terdiri dari: Parahyangan atau yang sekarang dikenal hablumminallah, Pawongan yang sekarang dikenal habluminnanas, dan Palemahan atau hubungan manusia dengan alam sekitar.

Dulu saya terpengaruh etnosentrisme ketika mempresentasikan Cirebon bukan Jawa dan bukan Sunda. Buku Denys Lombard (Nusa Jawa) bisa dibaca untuk memahami keunggulan Jawa yang di dalamnya ada etnis Sunda dan Jawa. Begitu pula buku-buku karya Anis Jati Sunda cukup bagus memposisikan Sunda dalam filosofi yang mudah dipahami dan logis. Di Jawa ada Serat Centini karya Pakubuwono sebagai kitab induk budaya Jawa. Di Cirebon ada Serat Candhini karya Pangeran Losari/ Sutajaya.

Dengan kata lain setiap etnis/ suku bangsa Indonesia memiliki kebanggaan atas daerahnya masing-masing. Saya yakin sekali kebanggaan atas suku masing-masing merupakan proses langsung rasa syukur kepada Tuhan Yang Mahaada.

Kembali ke 1 Muharam dalam kidung Sunda di atas, tampak bahwa memasuki penanggalan tahun baru Islam tak pelak kita harus tergerak merealisasikan impian dan harapan hingga sinar yang benderang itu mampu menyinari Nusantara.

Dengan demikian 1 Muharam bagi Nusantara bermakna mengukuhkan kembali nasionalisme dan terus menerus menjaga/ mempertahankannya. Bukan terjebak pada semangat kesukuan. Dan bukan mempertentangkan perbedaan yang memancing keriuhan/ ketidakindahan di tahun politik 2018, 2019.

Tancep kayon dari lagu ini: Nusantara dengan keberbagaiannya harus dipertahankan. Itu sebabnya posting hal politik yang mengundang polemik, juga copy paste masalah agama (kadang terjebak pada furu’iyah) dalam aplikasi media sosial harus dihindari. []

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed