oleh

SLB Autis Bunda Bening

Catatan DADANG KUSNANDAR

MEMASUKI komplek asrama Sekolah Luar Biasa (LSB) Autis Bunda Bening Selakshahati di Cibirubeet Kec. Cileunyi Kab. Bandung, Rabu sore 19 September 2018 ~kejutan pertama terpampang di hadapan. Seorang remaja disabilitas komat-kamit di depan sebatang pohon. Kedua tangannya terangkat bagai memanjatkan doa.

Sambil menangis dia menyalami semua tamu. Kami bertujuh (seorang adalah keponakan kami, Raka Gibran Pratama) singgah di kantor sederhana Pondok Bunda Bening. Gibran (11) mengidap autis sejak kecil. Namun Gibran enjoy saja dan tampak mengamati lingkungan barunya.

Begitu duduk di kursi kantor ia langsung mengambil gitar dan memetik dawai sekenanya. Bola basket pun di-driblekan-nya ke lantai, lalu menimbang berat tubuhnya sendiri begitu melihat timbangan berat badan.

Kami sedih tapi apa boleh buat. Demi kesembuhan Gibran mau tidak mau kami harus rela meninggalkannya di pondok. Dan demi pulihnya kembali sebagaimana anak-anak seusianya, Pondok Bunda Bening merupakan alternatif yang tepat.

Jumlah siswa di SLB Autis Bunda Bening Selakshahati saat ini 63, ditambah Gibran jadi 64. Terjauh dari Singkawang Kalbar. Ada 5 asrama yang menampung siswa-siswa tersebut.

Berbincang dengan Rizki Ananda Ferisko, siswa SLB Autis, asal Jatinegara Jaktim yang sudah 4 tahun mukim, saya terenyuh. Rizki sudah dapat berkomunikasi dengan cukup baik. Malah dia asik memainkan ponsel adroidnya.

Ada asrama khusus siswa usia di bawah 10 tahun, sebanyak 6 siswa. Ada pula asrama siswa perempuan. Gibran akan menempati Asrama 1 sebagai asrama penanganan khusus. Seluruh siswa baru harus menghuni Asrama 1 terlebih dahulu.

Menurut Bunda Bening, iklaskan Gibran tinggal di sini. Jangan sampai dia merasa dijauhkan/ diasingkan dari keluarga. Itu sebabnya kami berpamitan dan bersalaman dengan Gibran meski dengan isak tangis kecil ibunya.

Tetapi Gibran tidak menangis, malah melambaikan tangannya kepada kami ketika berpamitan pulang. Harapan kami seluruh terapi yang dilakukan di Pondok Bunda Bening dapat menyembuhkan Gibran, juga 63 teman-temannya di sana.

Kepada Ibu Asrama, ibu Iis ~kami titipkan anak keponakan sesuai dengan program di pondok. Juga kepada Pak Ikin, Pak Bambang dan seluruh pengelola pondok terima kasih kami haturkan.

Semoga rencana perolehan dana CSR dari PT Pertamina segera turun sehingga SLB Autis Bunda Bening tidak terus menerus mengontrak 10 rumah di lokasi saat ini. []

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed