oleh

Pasar Tradisional

Catatan DADANG KUSNANDAR

TAGAR #100ribudapatapa menghangatkan kembali pentingnya pasar tradisional. Uang Rp100.000,00 (seratus ribu rupiah) jika berbelanja di pasar tradisional bisa memperoleh banyak keperluan dapur. Menu 4 sehat 5 sempurna akan didapat dengan uang Rp100 ribu.

Masalahnya adalah keengganan sebagian masyarakat kita berbelanja di pasar tradisional. Kesan kumuh, becek, bau dan sebagainya merebak begitu saja dari tiap lorong pasar tradisional. Demikian pula kurangnya perhatian pemerintah daerah memoles pasar tradisional kerap memperkuat keengganan berbelanja di sana.

Awal mula tagar #100ribudapatapa ialah kunjungan Sandiaga Uno ke Riau beberapa waktu lalu. Sandiaga bercerita ada seorang ibu yang bertengkar dengan suaminya karena uang belanja Rp100 ribu. Menurut cerita Sandiaga, dengan duit belanja tersebut si ibu hanya membawa pulang bawang dan cabai.

Komentar pun bermunculan, bahkan ada yang menulis, “Jika Rp100.000,00 hanya dapat bawang dan cabai, berarti dia goblok, jangan salahkan suaminya”.
Mengelola uang belanja merupakan kelihaian ibu-ibu. Besar kecilnya uang belanja harian sangat ditentukan oleh kemampuan ekonomi masyarakat.

Belanja di pasar tradisional sesungguhnya menarik. Banyak hal terjumpa di sana. Selain karena ada prores tawar menawar harga, denyut ekonomi sangat terasa. Berbelanja di pasar tradisional bersama istri/ suami cobalah sesekali Anda lakukan.

Kawan saya menjadwalkan Minggu pagi merupakan saat belanja berdua ke pasar tradisional. Karena Pasar Kagok di Jl. Kembar (Nyi Mas Gandasari) sudah beralih fungsi, mereka belanja ke Pasar Kanoman. Hal itu dilakukannya hampir selama lima tahun. Kata kawan saya, asik juga menikmati es gusruk berdua dengan istri di Pasar Kanoman, serasa masa berpacaran.

Sepulang dari pasar mereka memasak bersama. Tentu saja sang istri yang lebih mengerti, sementara suami menjadi asisten yang siap menerima dan melaksanakan perintah. Begitulah menurut kisah kawan saya yang sudah almarhum enam tahun yang lalu.

Pengalaman menarik kawan saya di atas kiranya menginspirasi keharmonisan hubungan suami istri. Agaknya cukup bagus pula bila sesekali ditiru. Soal besaran rupiah yang dikeluarkan/ dibelanjakan itu relatif. Tapi jangan sekali pun berkata bahwa dengan seratus ribu rupiah hanya dapat bawang dan cabai.

Tugas pemerintah daerah menjadi penting guna menciptaka pasar tradisional yang sesuai dengan standar kekinian. Tak perlu merasa bakal kalah saing dengan pasar modern atau sistem belanja online (e-commerce). Setiap jenis usaha memiliki pangsa pasarnya masing-masing. []

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed