oleh

Guru Kami: Herdi Ayid Suyitno

aitrades

Catatan DADANG KUSNANDAR

SABTU, 8 Desember 2018 menjelang pkl. 11 WIB kami masuk ke rumah Pak Herdi AS. Sebelumnya, Rudy Suharyanto menghubungi telpon rumah beliau. Rencana silaturahim kepada guru-guru yang mendidik kami di SMP Negeri 3 Cirebon (1975 – 1979) berawal dari pesan Rinto Waluyo melalui whatsapp grup 3A maning sekitar dua pekan lalu.

Tanpa banyak berencana melalui medsos, Toto Sumanta dan Hidayatul Amin bergabung. Di tengah kesibukan semuanya, mengunjungi guru langsung ke kediamannya merupakan bakti kecil yang bisa kami berikan. Namun terutama memohon maaf apabila dulu kami nakal dan kadang menyakiti perasaan guru, meski tak sengaja.

Rudy sebagai murid kesayangan Pak HAS lantaran selalu dititipi kunci laboratorium Fisika, Rinto yang pernah memecahkan gelas ukur, saya yang mengatakan bahwa Pak HAS adalah guru yang galak ~tak pelak jadi menu obrolan silaturahim itu.

Obrolan meluncur usai kekagetan Pak HAS mereda. Tanpa konfirmasi kami langsung ke rumah di Gg. Karang Mulya No. 187 karena kami yakin Pak HAS ada di rumah.

Saat obrolan anak dengan bapak lancar mengalir, istri Pak HAS datang. “Ini bu, tamunya bodyguard semua”, kata Pak HAS, dan kami pun tertawa.

Vocal Pak HAS masih mantap, gaya tuturnya masih terjaga, hanya saja lelaki kelahiran Desa Banjarharja Kabupaten Brebes Jawa Tengah itu harus mengenakan alat bantu dengar. Lahir pada 17 Agustus 1934, masih tampak sehat meski ada kursi roda di ruang tamu.

Tak lebih satu jam kami di rumah beliau. Pak HAS bercerita masa sekolahnya di desa. Keinginan menjadi murid Sekolah Teknik gagal karena kekayaan orang tuanya yang sudah habis, sawah dan seekor kuda milik orang tuanya telah terjual. Maka ia memilih Sekolah Guru Besar (SGB). Konon pada masa itu bersifat ikatan dinas dan bisa langsung menjadi guru begitu selesai pendidikan.

Tahun 1950 Pak HAS mengajar di SD Negeri Cilengkrang, Ciledug Kabupaten Cirebon. Keinginannya yang kuat untuk meningkatkan karier dan pelajaran eksakta menuntun Pak HAS menjadi guru SMP Negeri Ciledug, kabarnya ia pun memperoleh tawaran di SMP Negeri I Kuningan, yang diberikan begitu saja kepada kawannya.

Oya alasan lain meninggalkan Desa Cilengkrang juga diperkuat oleh buruknya situasi politik ketika itu. Gerombolan DI/ TII kerap menyantroni desa dan merampas harta rakyat.

Kecerdasan intelektual beserta ketaan ibadah kepada Yang Mahaagung, Allah swt, membawa Pak HAS pada nilai-nilai akademis yang jempolan. Berkali mengikuti ujian nilai rata-ratanya 9, dan Fisika itulah yang amat disukainya.

Waktu pun terus bergulir. 1967 Pak HAS menjadi guru Fisika (saat itu dinamakan IPA 1) di SMP Negeri 3 Cirebon yang berlokasi di Jl. Tuparev depan warung kersem.

Ketika ditanya hal yang menarik dari SMP 3, beliau menjawab mantap. “Hobby saya terhadap Fisika makin terbuka”. Bahkan temuan alat pembiasan cahaya yang dulu pernah diajukan kepada gurunya digunakan untuk mengajar kami di SMP 3.

Sepanjang menjadi pawang lab, sepanjang menjadi guru Fisika SMP 3, Pak HAS sering mengikuti seminar dan diskusi Fisika di Bandung dan Jakarta. Hal yang baru kami ketahui. Tentu saja menambah kecakapan ilmu alam/ Fisika yang disukai Pak HAS.

Kakek enam orang cucu dan tiga putra itu menyediakan buku tamu yang kami tulis. Di dalamnya terdapat nama-nama alumni/ murid-muridnya yang singgah bersilaturahim ke rumah beliau.

Anak kesatu kini bekerja di Balitbang Kesehatan Pangandaran dengan pendidikan S2. Anak kedua dan ketiga lulusan S1. “Saya berkomitmen pada pendidikan”, ungkapnya.

Masih banyak yang belum tertulis pada catatan pendek ini tentang Pak HAS. Kami harus pamit karena akan menjumpai Pak Sopandi, guru agama Islam yang berdomisili di Wirasari.

Apa boleh buat. Rencana ke Pak Sopandi batal. Beliau tengah kondangan ke Indramayu. Insya Allah lain waktu kami akan jumpai.

Acara kangen dan silaturahim kepada guru berakhir di sebuah rumah makan Jl. Siliwangi Cirebon. Awong Siswono pun bergabung di sini dengan “meninggalkan” tugasnya di Indramayu.

Ingat Pak HAS ingat kembali masa kecil yang indah dan penuh senda gurau. Ingat masa SMP menyambung kembali ingatan masa lalu dengan larik cahaya dan kuntum do’a. Kini kami pun selalu berdo’a bagi seluruh guru yang berjasa besar membentuk karakter dan kekinian kami.

Mohon maaf bapak dan ibu guru atas segala kenakalan masa kecil kami. Wallahu ‘alam bishshawab.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed