Citrust.id – Fakultas Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati (FK UGJ) mengembangkan kurikulum pendidikan dokter berbasis riset kesehatan masyarakat pesisir untuk menyesuaikan pembelajaran dengan persoalan kesehatan di wilayah Cirebon. Pengembangan tersebut dibahas dalam Workshop Pengembangan Kurikulum Meso yang berlangsung pada 10–11 Oktober 2026 di Auditorium Fakultas Kedokteran UGJ.
Workshop bertema “Penyusunan Kurikulum Pendidikan Dokter Berbasis Riset Kesehatan Masyarakat Pesisir dan Berjejaring Global dalam Mendukung Visi Fakultas Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati pada Tahun 2035” ini diarahkan untuk merumuskan kurikulum yang mengintegrasikan kompetensi klinis, penelitian, dan kebutuhan kesehatan masyarakat.
Dekan Fakultas Kedokteran UGJ, Dr. dr. H. Catur Setiya Sulistiyana, M.Med.Ed., M.M., mengatakan karakteristik geografis Cirebon sebagai wilayah pesisir menjadi salah satu pertimbangan penting dalam pengembangan pendidikan dokter.
“FK UGJ berada di wilayah Cirebon yang memiliki karakteristik geografis pesisir dengan berbagai tantangan kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, kami ingin mengembangkan kurikulum pendidikan dokter yang tidak hanya berorientasi pada kompetensi klinis, tetapi juga responsif terhadap kebutuhan kesehatan masyarakat setempat,” kata Catur.
Ia menjelaskan, kesehatan masyarakat pesisir akan menjadi salah satu kekhasan kurikulum FK UGJ. Pendekatan tersebut dikembangkan dengan mengedepankan penelitian tanpa mengesampingkan Standar Nasional Pendidikan Kedokteran (SNPK), standar World Federation for Medical Education(WFME), dan Outcome-Based Education (OBE).
Sejumlah persoalan yang menjadi perhatian meliputi penyakit tidak menular, stunting, masalah gizi ibu dan anak, sanitasi, keterbatasan air bersih, penyakit infeksi, serta penyakit kulit. Permasalahan kesehatan yang berkaitan dengan lingkungan dan pekerjaan masyarakat pesisir juga menjadi bagian dari materi yang akan dikembangkan.
Selain itu, perubahan iklim, pencemaran lingkungan, dan akses terhadap pelayanan kesehatan turut menjadi pertimbangan. Berbagai persoalan tersebut akan digunakan sebagai dasar untuk menyusun pembelajaran dan menentukan arah penelitian mahasiswa.
“Kami ingin membangun kurikulum berbasis riset atau research-based curriculum, yaitu mengintegrasikan penelitian dengan proses pembelajaran mahasiswa,” ujar Catur.
Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa akan didorong terlibat langsung dalam identifikasi masalah kesehatan, survei lapangan, penelitian, hingga analisis data kesehatan masyarakat pesisir. Proses ini diharapkan membantu mahasiswa memahami persoalan secara lebih mendalam dan menyusun solusi berdasarkan bukti ilmiah.
Dengan demikian, kemampuan lulusan tidak hanya diukur dari penguasaan kompetensi klinis. FK UGJ juga menargetkan dokter yang mampu berpikir kritis, melakukan penelitian, berkomunikasi dengan baik, serta memahami faktor sosial dan lingkungan yang memengaruhi kesehatan.
“Kami ingin menghasilkan dokter yang tidak hanya kompeten secara klinis, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, melakukan penelitian, berkomunikasi, serta memahami determinan sosial dan lingkungan kesehatan,” kata Catur.
Penerapan kurikulum juga direncanakan terhubung dengan kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui pendekatan community-based medical education. Program yang disiapkan mencakup edukasi kesehatan, pencegahan stunting, peningkatan gizi masyarakat, pemeriksaan kesehatan, edukasi sanitasi, dan pendampingan masyarakat pesisir.
Pelaksanaannya akan didukung kolaborasi dengan pemerintah daerah, Dinas Kesehatan, puskesmas, serta berbagai mitra terkait. Kerja sama tersebut diharapkan dapat mendukung pelaksanaan program yang berkelanjutan dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Di tingkat yang lebih luas, FK UGJ juga akan memperkuat jejaring dengan perguruan tinggi, institusi pendidikan kedokteran, dan lembaga penelitian nasional maupun internasional. Kolaborasi itu diarahkan pada penelitian bersama, pertukaran mahasiswa dan dosen, kuliah pakar, serta pengembangan inovasi kesehatan masyarakat pesisir.
Catur berharap persoalan kesehatan lokal dapat dikaji melalui perspektif dan standar keilmuan global. Dengan cara tersebut, kekhasan daerah dapat menjadi bagian dari pengembangan pendidikan dan penelitian kedokteran yang memiliki jangkauan lebih luas.
Workshop ini menargetkan tersusunnya rancangan kurikulum meso yang mencakup capaian pembelajaran, peta kurikulum, integrasi materi kesehatan pesisir, distribusi mata kuliah,metode pembelajaran hingga sistem penilaian. Setelah rancangan selesai, fakultas akan melanjutkan proses penyempurnaan dokumen, validasi akademik, persetujuan institusi, serta persiapan implementasi. Workshop Meso Kurikulum ini merupakan salah satu dari rangkaian workshop pengembangan kurikulum, yaitu pengembangan kurikulum makro, kurikulum meso, kurikulum mikro, penyusunan RPS dan bahan ajar serta instrumen pembelajaran lainnya.
Kurikulum tersebut direncanakan diterapkan secara bertahap setelah seluruh proses akademik dan administratif diselesaikan. Jadwal penerapan akan ditentukan melalui keputusan fakultas.
Pengembangan kurikulum ini sekaligus menjadi bagian dari langkah FK UGJ dalam mendukung visi UGJ tahun 2035, yaitu menjadi perguruan tinggi riset unggulan berbasis kearifan lokal pada tataran global.
“Target utama kami adalah menghasilkan dokter yang unggul, profesional, berdaya saing global, sekaligus memiliki kepedulian terhadap kebutuhan kesehatan masyarakat lokal,” tutur Catur.
Ia menegaskan, pendidikan dokter perlu membekali mahasiswa dengan kemampuan untuk memahami persoalan kesehatan dari akar masalahnya, bukan hanya menangani penyakit yang dialami pasien.
“Kami ingin FK UGJ tidak hanya menghasilkan dokter yang mampu mengobati penyakit, tetapi juga dokter yang mampu memahami akar permasalahan kesehatan masyarakat, melakukan penelitian, dan menghadirkan solusi nyata. Melalui pengembangan kurikulum berbasis riset kesehatan masyarakat pesisir, kami berharap FK UGJ semakin unggul, memiliki kekhasan, dan mampu berkontribusi pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat, baik di tingkat lokal, nasional, maupun global,” kata Catur.
Melalui pengembangan tersebut, FK UGJ berharap dapat memperkuat pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dengan menjadikan persoalan kesehatan pesisir sebagai salah satu fokus keunggulan, sekaligus mempersiapkan dokter yang profesional dan mampu bersaing di tingkat global. (Haris)







