Dugaan Keracunan MBG Kalijaga, Pasien Bertambah Jadi 395 Orang

Dugaan Keracunan MBG Kalijaga, Pasien Bertambah Jadi 395 Orang
Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon, Siti Maria Listiawaty. (Haris/Citrust.id)

Citrust.id – Jumlah pasien dalam kasus dugaan keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kelurahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, mencapai 395 orang per Kamis (22/10/2026) siang. Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon, Siti Maria Listiawaty, menyebut jumlah tersebut bertambah 64 orang dibandingkan data hari sebelumnya yang mencatat 331 pasien.

Dari total tersebut, sebanyak 218 orang menjalani rawat inap, sedangkan 177 lainnya menjalani rawat jalan atau telah diperbolehkan pulang. Meski jumlah pasien masih meningkat, laju penambahan kasus mulai melambat.

Ia menjelaskan, kondisi pasien yang masih dirawat relatif terkendali. Berdasarkan informasi dari rumah sakit, tidak ada lagi pasien yang mengalami kondisi serius hingga membutuhkan perawatan di ruang intensif.

“Rata-rata pasien masih mengalami diare sehingga membutuhkan ruang perawatan biasa, bukan ruang perawatan intensif,” ujarnya.

Sementara itu, Dinas Kesehatan Kota Cirebon masih menelusuri kemungkinan penyebab munculnya gejala pada pasien. Siti Maria mengatakan, pihaknya berkonsultasi dengan spesialis mikrobiologi klinik untuk memperkirakan rentang waktu munculnya gejala setelah konsumsi makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan.

“Kami juga sedang berkonsultasi dengan spesialis mikrobiologi klinik untuk mengetahui rentang waktu munculnya gejala setelah mengonsumsi makanan tersebut,” tuturnya.

Menurut Siti Maria, penelusuran juga mempertimbangkan kemungkinan pasien mengonsumsi makanan lain setelah menyantap MBG serta kondisi daya tahan tubuh masing-masing. Dari sekitar 700 orang yang mengonsumsi makanan tersebut, tercatat 395 orang mengalami keluhan dan menjadi pasien.

“Artinya, tidak hanya faktor makanannya atau bibit penyakitnya, tetapi juga kondisi ketahanan tubuhnya,” katanya.

Kelompok usia taman kanak-kanak (TK) tercatat sebagai kelompok dengan jumlah pasien tertinggi. Namun, terdapat pula 64 pasien berusia di atas 19 tahun. Salah satu hal yang menjadi perhatian ialah adanya makanan yang dibawa pulang sehingga waktu konsumsinya tidak diketahui secara pasti.

BACA JUGA:  Koalisi Kuningan Bersatu Pererat Sinergitas

Hingga Kamis siang, hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel pasien dan makanan belum tersedia. Sampel dari pasien masih menjalani proses pembiakan,

“Pemeriksaan sampel makanan diperkirakan membutuhkan waktu paling cepat dua minggu,” kata Siti Maria.

Dinas Kesehatan juga memperhatikan kemungkinan sampel pasien telah terpengaruh obat-obatan, termasuk antibiotik, yang berpotensi memengaruhi hasil pemeriksaan. (Haris)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *