Citrust.id – Harga emas berjangka berpeluang kembali menguat hingga US$4.400 per troy ounce pada kuartal IV 2026, di tengah perhatian pelaku pasar terhadap inflasi Amerika Serikat dan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).
Analis sekaligus Kepala Cabang PT Equityworld Futures (EWF) Cirebon, Ernest Firman, menilai kondisi tersebut dapat menjadi peluang bagi investor untuk mempertimbangkan komoditas emas sebagai bagian dari strategi pengelolaan risiko investasi.
Ernest menyebut, harga emas yang saat ini berada di kisaran US$4.000–US$4.100 per troy ounce telah terkoreksi sekitar US$1.600 dari level tertingginya yang mencapai US$5.600. Penurunan tersebut membuka peluang bagi pelaku pasar yang mempertimbangkan potensi kenaikan harga pada periode berikutnya.
Meski demikian, ia tidak memperkirakan harga emas akan kembali menyentuh rekor US$5.600 dalam waktu dekat. Menurut Ernest, kisaran US$4.400 masih menjadi target yang berpeluang dicapai hingga akhir tahun ini.
“Kalau sampai ke break high sih saya rasa enggak, kalau sampai ke $5.600 lagi sih rasanya enggak. Kalau $4.000-an sampai $4.400 masih ada peluang,” ujar Ernest, Jumat (16/10/2026)
Ia menjelaskan, perkembangan ekonomi Amerika Serikat menjadi salah satu faktor utama yang perlu dicermati oleh pelaku perdagangan emas hingga akhir 2026. Dua indikator yang menjadi perhatian adalah inflasi dan arah suku bunga, terutama setelah data inflasi AS terbaru menunjukkan kondisi yang lebih buruk dibandingkan periode sebelumnya.
Pergerakan harga emas dunia berkaitan erat dengan dolar AS karena komoditas tersebut diperdagangkan menggunakan mata uang tersebut dengan satuan per troy ounce. Karena itu, perkembangan ekonomi AS dan perubahan nilai dolar dapat memengaruhi arah pergerakan harga emas di pasar global.
Setelah data inflasi dirilis, perhatian pelaku pasar kini tertuju pada langkah yang akan diambil The Fed. Keputusan mengenai kemungkinan perubahan suku bunga, termasuk peluang kenaikan, menjadi salah satu hal yang dinantikan pasar menjelang pengumuman yang diperkirakan berlangsung pada Desember.
Ernest menilai, arah kebijakan moneter tersebut berpotensi menjadi penentu pergerakan emas selanjutnya. Pelaku pasar saat ini masih menunggu kepastian mengenai langkah bank sentral AS sebelum menentukan respons terhadap perkembangan harga.
Di tengah kondisi pasar yang penuh tekanan, Ernest juga menyoroti pentingnya memperluas pemahaman investor mengenai pilihan instrumen investasi. Menurut dia, transaksi di pasar keuangan tidak terbatas pada saham, tetapi juga mencakup perdagangan komoditas, seperti emas dan minyak, melalui mekanisme perdagangan berjangka.
“Investor yang selama ini berfokus pada pasar saham dapat mempelajari alternatif tersebut untuk mendukung pengelolaan risiko. Ketika pasar saham mengalami tekanan, peluang pada instrumen lain, seperti emas berjangka, dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun strategi investasi,” ungkapnya.
Ernest Firman menambahkan, pelemahan dolar AS yang mungkin terjadi di tengah memburuknya inflasi Amerika berpotensi membuka ruang penguatan bagi emas. Namun, perkembangan tersebut tetap bergantung pada kondisi ekonomi dan keputusan kebijakan moneter yang akan datang.
Untuk periode tiga bulan terakhir pada 2026, ia melihat kisaran harga emas saat ini sebagai peluang yang dapat dicermati investor. Ernest juga mengingatkan nasabah dan calon nasabah yang masih berinvestasi di pasar modal agar mempertimbangkan pengelolaan risiko dengan memahami karakteristik serta potensi pergerakan harga emas berjangka. (Haris)







