oleh

Sering “Makan” Korban, Pemdes Trusmi Wetan dan Pemangku Adat Dukung Pacuan Kuda Dihilangkan

Cirebontrust.com – Kuwu Desa Trusmi Wetan, Yuhantono mengatakan, pihak pemerintah desa maupun pemangku adat di Trusmi sebetulnya tidak tinggal diam terhadap pacuan kuda yang terus memakan korban tersebut.

“Dari tahun-tahun lalu juga kita sudah tidak setuju kalau pacuan kuda digelar, karena acara intinya adalah arak-arakan welit, bukan pacuan kudanya. Apalagi pacuan kuda ini tiap tahunnya memakan korban, ada juga yang meninggal dunia beberapa tahun yang lalu,” katanya.

Bahkan, saking seringnya memakan korban, menurut Yuhantono, pacuan kuda ini kerap disebut arisan.

“Ada guyonan semacam arisan, nanti di tahun-tahun depan nama siapa yang akan keluar sebagai korban? Guyonan ini keluar karena memang tiap tahunnya selalu ada korban,” tukasnya.

Menurutnya, karena susah dilarang, akhirnya pemerintah desa dan pemangku adat mengatakan kepada para penunggang kuda agar resiko ditanggung sendiri.

“Ya sudah akhirnya kita bilang saja, kalau kecelakaan maka merekalah yang bertanggung jawab. Jadi, kalau memang Pemerintah Kabupaten Cirebon akan mengkaji ulang dan melarang pacuan kuda ya kita setuju sekali,” tuturnya.

Menurutnya, para joki yang menunggangi kuda sebetulnya merupakan para pemuda dari tiap blok-blok desa. Namun, joki-joki pada pacuan kuda pada beberapa tahun belakangan ini banyak yang berasal dari luar wilayah Trusmi.

Selain itu, para joki yang sering meminum minuman keras sebelum naik kuda, turut menjadi penyebab cukup seringnya kecelakaan. Pada Memayu Trusmi beberapa tahun ke belakang, kuda-kuda yang akan ikut pacuan bahkan sudah dibawa ke jalan mulai pukul 02.00 WIB.

“Padahal kan sebenarnya pukul 05.30 WIB juga tidak mengapa. Bayangkan saja kalau dibawa ke jalan mulai pukul 02.00 WIB, berarti joki tidak tidur, kemudian jokinya mabok, ya sudah kecelakaan tidak bisa terhindarkan,” imbuhnya. (Iskandar)

Komentar

News Feed