oleh

Keraton Kanoman Cirebon Gunakan Lonceng Sebagai Penanda Waktu Salat

Citrust.id – Masa keemasaan Cirebon tak bisa lagi diragukan dengan kejayaan masa lampaunya. Terbukti dengan adanya keraton-keraton yang masih ada sampai saat ini, yakni Keraton Kanoman, Keraton Kasepuhan, Keraton Kacirbonan dan Keraton Keprabonan.

Begitu juga saat Cirebon dikuasai oleh kolonial, Cirebon menjadi Kota Praja (Kota cCirebon). Kekuasaan kolonial di Cirebon silih berganti, sampai pada masa kepemimpinan Thomas Stamfold Raffles, saat kepemimpinanya Raffles memberikan kenang-kenangan kepada Keraton Kanoman yaitu sebuah lonceng.

Pemberian lonceng itu sebagai tanda politik, karna saat itu pemberhentian sultan sebagai Raja dilakukanya, demi tidak terjadinya pemberontakan dari pihak Kerton, maka berikanlah Lonceng itu.

Lonceng itu diberikan sekitar tahun 1815 oleh Raffles dan diterima oleh Raja Sultan Muhammada Qomarudin, yang menjabat sebagai Sultan Kala itu.

Lonceng itu saat pertama kali diterima oleh Sultan dipergunakan sebagai penanda waktu salat lima waktu dilanggar alit Keraton Kanoman.

Namun sejak tahun 1950 sampai saat ini tidak lagi difungsikan. Kondisi lonceng tersebut yang tidak memungkinkan untuk dibunyikan. Ada keretakan yang cukup parah pada badan Lonceng, namun masih tetap ada pada tempatnya.

Farihin (23), seorang abdi dalem Keraton Kanoman menuturkan kepada citrust.id, bahwa lonceng itu tidak lagi dipakai. Dulunya digunakan sebagai penanda waktu salat lima waktu, “dan sekarang kondisinya bisa anda lihat sendiri, begitu rapuh dan tidak utuh lagi, ada keretakan pada bagian badan Lonceng,” ungkapnya kepada citrust.id. / 314

BACA JUGA:   Wagub Uu Buka Konferensi Kerja PWI Jawa Barat

Komentar

News Feed