oleh

Yogyakarta : Catatan Perjalananku Memahami Makam “Girilaya” (2)

aitrades

Oleh : BINTANG IRIANTO

Setelah saya menulis tentang Yogyakarta : Antara Intelektual  dan Spiritual yang tidak tuntas, maka mengelitik kembali  fikiran saya untuk menyambung tulisan kemarin selama perjalanan saya ke Yogyakarta . Dimana ketika ingin memahami sejarah maka harus mengunjungi beberapa tempat yang memang menjadi objek yang akan kita pahami kejadianya, atau kita pahami prosesnya sehingga akan terurai benang merahnya, apakah akan menjadi kepastian ?, tidak juga, karena kepastian adalah pemahaman yang terus menerus, satu masa dianggap benar tapi  pada masa lain dan ada pemahaman yang lain maka pemahaman masa lalau akan salah dan inilah yang disebut dengan dialektika-
logis.

Pada tulisan kemarin disalah satu sub judul saya menepatkan kata “Sejarah yang di Bungkam”, pada tema ini kita mengembalikan pemahaman kita tentang makam “Giriloyo” yang ditepatkan pada posisi yang penulis anggap meyedihkan, beliau adalah seorang Sultan Cirebon yang secara keturun dari Sunan Gunung Djati adalah ke tuju, artinya secara silsilah mempunyai jalur atau sanad keluarga yang sampai pada Baginda RAsulullah SAW. Selain sebagai seorang Habaib, sultan Girilaya adalah seorang pimpinan kesultanan cirebon yang tentunya menurut perjalanan Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa, sama posisi nya seperti munculnya Sultan Demak Bintoro yang di Pegang oleh Sultanya Raden Patah setelah meruntuhkan kerajaan Majapahit, dan Kesultanan Cirebon yang dipegang oleh Sunan Gunung Djati yang juga merupakan cucu Prabu Siliwangi telah meruntuhkan kekuasaan raja-raja pasundan dan akhirnya melahirkan Kesultanan Banten. Maka secara proses sejarah, Cirebon sejarahnya melebihi Kesultanan Mataram.

Persoalan seperti itu yang kemudian saya pertanyakan mengapa prosesnya ternyata ada sejarah yang belum dikuak secara adil, atau secara lebih terbuka tentang kedudukan kesultanan cirebon di bawa kepemimpinan Girilaya dari pada kesultanan mataram saat itu. Bila logika kita mencoba menerawang pada masa lalu, sesungguhnya kedudukan kesultanan cirebon lebih tinggi dalam tahta sejarah dari pada kesultanan mataram.

Pada surat perwakilan Belanda di Cirebon 1 Oktober 1684 (tiga tahun setelah ditandatanganinya perjanjian persahabatan Cirebon dengan Belanda tahun 1681) diceritakan tentang peristiwa Girilaya, pada tahun 1649 pangeran Girilaya naik tahta menjadi penguasa Cirebon, tidak lama setelah penobatannya, sekitar tahun 1650-an Amangkurat I dari Mataram mengundangnya beserta kedua putera tertuanya yaitu Martawijaya dan Kartawijaya untuk berkunjung ke keraton Mataram di kota Gede sekaligus menghormati naiknya Girilaya sebagai penguasa baru kesultanan Cirebon.

Selepas acara penghormatan selesai, beliau bersama kedua puteranya dilarang kembali ke Cirebon dan tinggal di lingkungan Mataram selama 12 tahun hingga kematiannya. Kebijakan tersebut merupakan kebijakan politik Amangkurat I terhadap para penguasa pesisir, hal yang sama juga dialami oleh pangeran Prasena, anak dari pangeran Tengah penguasa kerajaan Arosbaya (Bangkalan) di Madura, pada tahun 1624, empat tahun setelah pangeran Tengah meninggal dunia pada 1620, Mataram menyerang kerajaan Arosbaya, wali raja pada saat itu pangeran Mas dari Arosbaya (adik dari pangeran Tengah sekaligus  paman bagi pangeran Prasena yang pada saat itumasih kecil) berhasil melarikan diri ke Demak sementara pangeran Prasena berhasil dibawa ke Mataram dan diangkat menjadi adipati Cakraningrat penguasa Madura bagian barat, namun selama menjadi adipati, pangeran Prasena menghabiskan waktunya di Mataram mirip seperti kejadian yang menimpa pangeran Abdul Karim atau dikenal dengan nama pangeran Girilaya.

Dalam Sejarah itu pula kemudian pada zaman kepemipinan Amangkurat I terjadi posisi penyeimbangan kekuasaan jawa antara Mataram dengan Kesultanan Banten dan VOC, dimana saat itu Kesultanan Cirebon yang dipimpin oleh Sultan Girilaya posisinya berada di Mataram karena dipanggil oleh Sultan Amangkurat I (Pengganti dari Sultan Agung Mataram atau disebut juga dengan sultan Agung Hanyaraka Kusuma) dan kepemimpinan di Cirebon dipegang oleh Anakanya yang bernama Pangeran Wangsakerta selama 12 tahun atas pengangkatannya dari SUltan Ageng Tirtayasa karena hubungan dari jalur persaudaraan. Dan saat itu, menurut beberapa informasi sejarah Amangkurat I sedang melakukan perjanjian dengan Belanda untuk memadamkan pemberontakan yang dilakukan oleh Trunojoyo dan Trunojoyo merebut ibukota Mataram tanggal 28 Juni 1677 dan membebaskan putra-putra pangeran Girilaya yang ditahan oleh Mataram yaitu Martawijaya dan Kartawijaya.

Disaat dibebaskannya Pangeran Wertawijaya dan Kertawijaya oleh Trunojoyo, Sultan Ageng Tirtayasa menyuruh kepada beberapa punggawanya untuk menyusul anak Sultan Girilaya untuk dikembalikan ke cirebon. dari proses itu,sebenarnya Kesultanan Banten yang dipimpin oleh Ki Ageng Tirtayasa mempunyai kontak person dengan Pangeran Trunojoyo karena diantara kedua penguasa tersebut mempunyai orang yang diperbantukan dari mantan penguasa kesultanan makasar Sultan Hasanuddin, yaitu di Pangeran Trunojo ada Karaeng Galesong merupakan pengikut Sultan Hasanuddin yang di tundukan oleh VOC dan di Kiageng Tirtayasa ada Syekh Yusuf Al-Makasari.

Maka menjadi sebuah kepastian, bahwa Amangkurat I dianggap mempunyai hubungan dengan VOC, karena begtu pentingnya sekali bagi kepentingan Banten sehingga anak dari Girilaya di ambil untuk kembali menduduki kesultanan cirebon sebagai sultan yang sah secara keturunan. Dan disaat Sultan Girilaya dipanggil oleh Amangkurat I ke Mataram dengan alasan untuk memberikan penghargaan atas pelantikan atau penobatannya menjadi sultan cirebon dan tidak bisa kembali lagi memimpin cirebon, hal inilah yang menjadi catatan kritis terhadap kedudukan makam Giriloyo di Imogiri. **

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed