oleh

Tuhan Dalam Diri Kita

aitrades

Catatan DADANG KUSNANDAR

DI dalam jiwa manusia Tuhan “bermukim”. Pada terjemahan bebas, Tuhan ada di kaki pengayuh becak. Bermodal kekuatan kaki dan kemampuan telapak kaki mengayunkan pedal, Tuhan menyapa. Kebutuhan ekonomi mang ceb dipenuhi oleh Tuhan. Kakinya itulah pengantar memperoleh uang halal bagi kelangsungan hidupnya beserta keluarga. Dan di kaki itu Tuhan ada.

Bagi petani, Tuhan ada di tangan, manakala ia mengayunkan cangkul ke gundukan tanah di hadapannya. Begitu seterusnya sesuai dengan profesi masing-masing.

Sementara itu bagi penulis, Tuhan ada di jemari tangan yang menari di atas keyboard mesin tulis. Maka jagalah jemari kita dari tulisan-tulisan yang memicu kekeruhan dan meluapkan emosi massa.

Tuhan pun ada di meja kantor. Dia membimbing pemilik meja itu untuk melakukan kebaikan atas tugas-tugasnya. Kerja yang optimal, proporsional, sesuai prosedur, termasuk kreativitas menuangkan gagasan menjadi fakta merupakan tuntutan seluruh pekerja.

Maka hindari pembuatan stempel palsu untuk merekayasa kemudahan kerja. Pun hindari mempersulit urusan client dengan alasan klasik: Jika bisa dipersulit mengapa harus dipermudah. Fungsi pelayanan prima tidak lain ialah pengejawantahan Tuhan dalam seluruh tindakan.

Tafsir keberadaan Tuhan yang multi dimensi ini pada dasarnya ialah sifat kudrat iradat sekaligus wujud Allah. Ebiet G. Ade pernah menyitir syair bagus, “Tuhan ada di sini, di dalam jiwa ini, berusahalah agar Dia tersenyum”.

Ramadhan 1439 H yang tengah kita jalani sangat tepat untuk mengevaluasi keberadaan Tuhan di dalam diri kita. Manusia, konon menurut keyakinan kaum sufi, kadang mencerminkan sifat Allah dan pada saat lain mencerminkan sifat syetan. Bergantung pada kita sendiri untuk memilih jalan Tuhan ataukah jalan syetan.

Ramadhan merupakan bulan perenungan diri atas sikap tauhid kita selama ini. Laalakum tattaqun (agar menjadi orang yang bertakwa) sebagaimana kerap disampaikan para juru dakwah di kegiatan kultum, pada mulanya adalah penempataan Tuhan di dalam diri kita. Yakinkah Tuhan akan menyinari kehidupan ketika dalam keseharian kita senantiasa merefleksikan Tuhan secara aplikatif. Wallahu ‘alam bishshawab. []

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed