oleh

Tim Hore-hore

Catatan DADANG KUSNANDAR

SELAIN tim sukses para bakal calon kepala daerah, ternyata juga ada tim hore-hore. Yang dilakukan tim hore-hore tentu berbeda dengan tim hore-hore alias pemandu sorak. Siapa pun bakal calon yang menghendaki kehadirannya, mereka siap bekerja.

Istilah tim hore-hore secara tak sengaja saya dapatkan dari istri salah seorang bakal calon (balon) gubernur Sumatra Utara. Menurut Happy Farida, artis atau penyanyi yang dikontrak untuk kampanye balon kepala daerah masuk ke dalam kategori tim hore-hore. Demikian pula teman dan sahabat dari pasangan balon.

Cukup cerdik, Happy tidak mencantumkan komunitas anonim pada kategori ini. Bisa jadi hal ini dilakukan untuk mendulang dukungan kepada suaminya, Jarot Syaiful Hadi. Seingat saya, banyak tim hore-hore alias pemandu sorak pada setiap kampanye politik yang dihuni kelompok anonim.

Keberadaan tim hore-hore biasanya tercipta sesaat ketika tim pemenangan balon menghubungi seseorang yang bisa mendatangkan massa. Kepadanya diminta untuk dapat mendatangkan 1000 massa, misalnya. Tentu saja ada budget alias kompensasi dana sebagai konsekuensinya.

Sebut saja seseorang yang mampu mendatangkan massa itu bernama Cucuk, meminjam istilah Golkar pada era Orde Baru. Cucuk belum pasti berstatus anggota parpol. Cucuk hanya bertugas mendatangkan massa supaya kampanye balon tampak sukses dengan fakta banyaknya massa.

Tim sukses pun menghubungi beberapa Cucuk. Semakin banyak Cucuk menyanggupi keinginan tim sukses, semakin banyak massa yang datang pada kampanye balon. Biasanya sehari sebelum kampanye digelar, Cucuk melaporkan jumlah massa yang positif akan datang. Secara tertulis dan dibubuhi nomor ponsel serta paraf/ tanda tangan massa rekrutan Cucuk.

Lantaran kesibukan tim sukses/ pemenangan balon, data yang disodorkan Cucuk tidak dibaca teliti. Yang penting jumlahnya sesuai dengan perjanjian. Ada kejanggalan dapat ditemui di sini. Beberapa orang di dalam daftar Cucuk A boleh jadi ada juga di dalam daftar Cucuk B dan seterusnya. Boleh jadi pula daftar yang tertera seluruh Cucuk hanya rakitan alias bodong.

Keberadaan Cucuk dengan demikian bisa disejajarkan dalam kategori Tim Hore-hore. Pesta politik Indonesia paska 1998 dapat dikatakan dinamis dan cukup menarik untuk dicermati. Perilaku Cucuk misalnya sangat mungkin terjadi atas resistensi atas perilaku politisi yang dikenalnya. Boleh jadi pula perilaku Cucuk berlangsung akibat ketidakpuasan terhadap janji-janji politisi yang pernah dibantunya sebelum manggung di parlemen atau di kursi kepala daerah.

Menjelang 27 Juni 2018 yang sebentar itu, kita akan menyaksikan betapa banyak pembiasan perilaku politik. Pembiasaan perilaku termaksud diperlihatkan oleh semua elemen yang terlibat –politisi, tim sukses, massa pendukung, dan tim hore-hore.

Berangkat dari pemaparan singkat di atas dapat ditarik benang merah bahwa pesta demokrasi menggeliat dengan irama tariannya tersendiri. Gerak tubuh/ gestur para penari bisa mengikuti hentak musik yang diperkuat oleh tata cahaya. Sebaliknya musik dan tata cahaya yang mengikuti gerak penari. Semuanya tergantung dari sang sutradara.

Sang sutradara itu tidak lain adalah balon kepala daerah yang telah tercatat namanya di KPU setempat. []

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed