oleh

Tetangga Saya

aitrades

Oleh DADANG KUSNANDAR*

BANYAK cara untuk beramal. Banyak jalan menuju maslahat. Hanya saja kita kadang abai melihat hal-hal kecil di sekitar yang mengantarkan menuju amalun shalihun.

Masih terngiang kalimat itu di benak saya. Puluhan tahun lalu, tetangga saya, PNS di Cirebon, menuturkan cara praktis beramal.
Murah dan terjangkau, katanya. Siapa pun bisa melakukannya. Katanya pula beramal yang paling utama adalah ketika dalam keadaan miskin harta.

Soeroto namanya. PNS golongan II A di tahun 1970 dengan penghasilan tidak seberapa. Tetapi di tengah pendapatan tak banyak itu ia beramal nyata.

Suatu ketika, usai Shalat Isya di mesjid ia menjumpai Ketua DKM. “Pak boleh saya tahu pembayaran rekening listrik dan rekening air mesjid ini?”, katanya.

“Boleh. Tapi untuk apa?”, jawab Pak Haji Husen.
“Sebenarnya malu kalau saya ungkap”, katanya lagi.
“Sampaikan saja pak. Seperti bapak tak kenal saya pake malu segala”.
Sejenak Soeroto menarik napas. Dipandangnya wajah Haji Husen dengan seksama. Setengah berbisik ia meneruskan obrolan malam hari itu.
“Ijinkan saya yang membayar rekening listrik dan rekening air mesjid ini setiap bulan”, sambung Soeroto.
Pak Husen tersenyum simpul. Menatap Soeroto bagai hendak menguak kesungguhan niatnya. Mungkin juga ragu mengingat kemampuan keuangan lawan bicaranya.
“Sudah bapak pikirkan masak-masak keinginan ini?”.
“Sudah pak haji”.
“Sudah dibicarakan dengan istri?”
“Alhamdulillah sudah. Dan istri saya setuju”.
“Bapak tidak takut kekurangan setiap bulan?”.
“Insya Allah pak haji. Rejeki dan seluruh hidup kita ada dalam kuasa Allah”.
Dialog berhenti. Sejak November 1978 rekening listrik dan air mesjid menjadi tanggung jawab Soeroto.

BEBERAPA tahun kemudian, anak sulung Soeroto berhasil menyelesaikan pendidikannya di FK Universitas Rinjani. Lalu anaknya bekerja di Bandung. Tak berselang lama anak sulung Soeroto ikut wamil.

Di tahun 2017 anak sulung itu telah berpangkat Mayor TNI AU sambil merangkap sebagai dokter umum di beberapa rumah sakit. []

*Penulis lepas, tinggal di Cirebon. Ditulis untuk renungan amal sosial.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed