oleh

Terlihat Anak-anak PAUD Khaerunnisa Senyum Sumringah saat Wisuda

Cirebontrust.com – Senyum sumringah tampak pada para peserta didik Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Khaerunnisa Des‎a Kanci Kulon, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon yang telah diwisuda. Begitupun para enam gurunya yang senantiasa tanpa pamrih mengajari para muridnya hingga lulus.

Bagaimana tidak, PAUD yang sudah berusia lima tahun ini tengah mewisuda peserta didiknya untuk ke-4 kali‎nya. Ada harapan besar dibalik acara seremonial tersebut bagi para guru dan orang tua siswa.

Yakni, mereka berharap, pengabdiannya selama satu tahun penuh mengajar dan mendampingi, bisa berimbas positif bagi para muridnya yang tengah diwisuda Sabtu (20/05) pagi ini. Tentunya tentang ilmu pengetahuan sebagai penunjang ke tingkat pendidikan selanjutnya.

“Saya pribadi sangat mengapresiasi pengelola PAUD ini. Dengan mandiri dan swadaya PAUD ini berdiri dan bertahan hingga sampai saat ini, hingga sudah meluluskan generasi ke-4‎. Trimakasih telah mendidik anak-anak warga kami,” ungkap Kuwu Desa Kanci Kulon, Laksanawati.

‎Menurut Friedricch Wilhelm August Frobel, tokoh pendidik asal Jerman, pendiri lembaga pendidikan anak Kindergarte, yang merupakan pelopor PAUD dunia ‎pada tahun 1840 mengatakan, anak-anak usia dini diilustrasikan sebagai tunas tumbuh-tumbuhan yang memerlukan pemeliharan dan perhatian dari “Juru Tanam”.

Dari ilustrasi tersebut, Frobel menyampaikan bahwa sang juru tanam mempunyai peranan yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan tunas tumbuh-tumbuhan. Begitu juga pertumbuhan dan perkembangan anak-anak usia dini yang sangat membutuhkan peran sang pendidiknya.

Sedangkan, menurut bapak pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, pendidikan anak usia dini adalah budi pekerti dan sistem omong. Bentuknya bukan mata pelajaran, tetapi menanamkan nilai martabat kemanusiaan, nilai moral watak, dan pada akhirnya pembentukan manusia yang berkepribadian.

Seperti halnya, ing ngarso sing tulodo (pendidikan berada di depan wajib memberikan teladan bagi anak didik). Ing madya mangun karso (pendidikan berada ditengah-tengah harus lebih banyak membangun atau membangkitkan kemauan, sehingga anak mempunyai kesempatan untuk membuat sendiri). Dan Tut wuri handayani (pendidikan di belakang wajib memberi dorongan dan memantau agar anak mampu bekerja sndiri).

Semangat itulah yang diimplementasikan oleh enam guru PAUD Khaerunnisa, yakni Carika Yudistira, Dede Konturoh, Suna’ah, Fatkhiyah dan Melisa, serta Mutiarawati, pahlawan tanpa tanda jasa sesungguhnya‎.

Ya, mereka tanpa dibayar rela meluangkan waktu, tenaga, pikiran dan materi untuk membebaskan kampungnya dari belenggu kebodohan. Lebih spesial lagi, salah satu dari mereka, yakni Carika Yudistira yang sekaligus sebagai kepala PAUD Khaerunnisa, hingga merelakan rumahnya untuk kegiatan belajar mengajar PAUD tersebut.

Mereka seolah tidak mau berpangku tangan berharap kepada pemerintah. Mereka sadar, bahwa jika ingin maju, pantang berharap dan segera bertindak sekecil apapun daya dan kemampuan.

“Jangan tanyakan apa yang diberikan bangsa untuk kita. Tapi, tanyakan apa yang kita berikan untuk bangsa‎,” tegas Carika, saat berbincang dengan Cirebontrust.com.

‎Meski begitu, demi kemajuan dan untuk pengembangan pendidikan PAUD Khaerunnisa, tentunya penunjang yang layak tetap dibutuhkan. Seperti halnya gedung, fasilitas kegiatan belajar mengajar, dan penunjang lainnya yang dibutuhkan PAUD pada umumnya. (Riky Sonia)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed