oleh

Tembus Pasar Ekspor ke Dubai, Perajin Anyaman Bambu Asal Majalengka Raih Juara Nasional Dekranas

Citrust.id – Sungguh membanggakan prestasi yang diraih Suparno, Perajin Anyaman Bambu Kreatif asal Desa Muktisari, Kecamatan Cingambul, Kabupaten Majalengka ini meraih Juara Nasional Dekranas Award dan menembus pasar ekspor ke Dubai hingga 500 set atau satu kontainer per bulan.

“Setelah dibina Dinas KUKM dan Disparbud, kami meraih Juara Nasional Dekranas Award kategori Serat Alam tahun 2013 di Jakarta, dan piagam penghargaan diserahkan langsung Ibu Wapres Jusuf Kalla,” kata Suparno saat ditemui di event Pameran Gebyar Ekonomi Kreatif dan Budaya di Pujasera Jalan KH Abdul Halim no 313 Majalengka, Jumat (22/12).

Dikatakan dia, Produknya merupakan boboko (wadah nasi), kipas, parsel, bakul mini, gantungan kunci, mainan anak, taplak meja dan lain-lain dengan total 30 produk.

“Termasuk membuat stand-stand pameran dari bahan anyaman bambu,” jelas dia.

Awal merintis dari tahun 2014 sebagai Ketua Kelompok Bambu Kreatif yang berdiri 2010, awalnya hanya Boboko turun temurun dari nenek moyang.

“Setelah dibina oleh Dinas KUKM dan Dinas Pariwisata dikembangkan jadi 30 jenis produk,” jelas Suparno.

Suparno mengungkapkan ketika hanya memproduksi Boboko menjual ke bandar yang dijual ke Rajagaluh, Tasikmalaya dan Bandung penghasilan minim. Setelah ada jenis 30 produk penghasilan meningkat drastis.

“Bahkan menjual produk sampai ke Dubai,” ungkap Supano.

Suparno mengungkapkan kelompok di Desanya ada 30 pengrajin bambu kreatif dan 200 orang khusus Boboko di Desa Muktisari.

“Sekarang sudah kewalahan menerima order, ke Dubai saja sebulan 500 set,” jelas dia.

Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Kab. Majalengka, Gatot Sulaeman, melalui Kasi Promosi Pemasaran Bidang Pengelolaan Industri Pariwisata, Budi Adinugraha mengatakan Kelompok Anyaman Bambu Kreatif Desa Muktisari sekarang sudah dimasukan dalam binaan Dekranas, dan menjadi Workshop Kampung Bambu oleh ibu Gubernur.

“Tasikmalaya saja mengambil dari Muktisari, jadi ekspor ke Dubai lewat Tasik karena tidak punya hak paten, dan minimal 1 kontainer. Hal ini sedang kami perjuangkan,” ungkap dia. /abduh

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed