oleh

Tarling Tak Pernah Mati

Catatan DADANG KUSNANDAR*

DI usianya yang renta, Djana Partanain masih mahir memainkan gitar. Melalui petikan gitarnya, lelaki 83 tahun itu melantunkan lagu-lagu tarling klasik. “Ini baru dasarnya saja. Kalau pentas di panggung ada 3 (tiga) buah gitar yaitu melodi dan bas”, katanya. Ditingkah suling yang ditup Mang Gorek (Sadiya), 4 (empat) instrumen tarling cerbon makin asik didengar.

Bagi Mang Djana, tarling merupakan bagian tak terpisah dari kehidupannya. Menurutnya sejak tahun 1940-an ia sudah bergabung dengan grup tarling Bapak Barang di Cibelok. Melancong ke beberapa tempat mementaskan tarling termasuk mendirikan grup tarling di Brebes Jawa Tengah menjadikannya semakin akrab dengan seni tradisi Cirebon.

Sampai dengan tahun 1980-an Mang Djana kerap tampil di grup tarling Bayangkara (milik Kepolisian), termasuk juga di grup tarling Korem. Kurun waktu 1970 hingga 1980-an grup tarling Candra Kirani dalam setahun bisa manggung sebanyak 60 kali. Hingga tahun 1990-an Candra Kirana sering pula diundang Kantor Dinas Pariwisata untuk tampil dalam HUT Cirebon. “Tapi sudah 3 (tiga) tahun ini tidak ada undangan pentas lagi dari pemerintah daerah”, ungkapnya.

Upaya melestarikan tarling Cirebon terus dilakukannya. Konon ia sempat beberapa kali melatih siswa SLTA di Kota Cirebon, meski pun program tersebut akhirnya tidak berlanjut. Bahkan tidak jelas hasilnya. Secara tegas lelaki renta yang tetap energik itu menyediakan dirinya untuk melatih tarling kepada siapa saja secara gratis di sanggarnya. Pernah juga ada pelatihan tarling di Gedung Kesenian Nyi Mas Rarasantang Cirebon. Akan tetapi proyek Dinas Kebudayaan dan Pariwisata itu pun raib, entah kenapa.

Rumah yang merangkap sanggar Candra Kirana di Jalan Kapten Samadikun Gang Melati 7 Kota Cirebon itu tampak sunyi. Tarling kian sepi dari pertunjukkan. Bahkan untuk pentas di hotel berbintang pun hanya sekadar impian. Padahal Mang Djana sempat menjadi tutor pelatihan tarling di sebuah hotel dengan peserta cukup banyak. Mereka ada yang dari Sulawesi, Kalimantan dan Sumatra. Katanya akan dibentuk Tarling Nusantara. Namun ketika ditanya adakah wujud pelatihan tersebut, Mang Djana menjawab lesu, “Saya tidak tahu”.

Dokumentasi fisik atas karya Mang Djana pun ternyata tidak ada. Ketiadaan peran manager memungkinkan berlangsungnya dokumentasi yang buruk. Kaset lagu-lagu tarling yang di tahun 1990-an diproduksi Dian Record Jakarta, tidak ada satu pun di tangan Mang Djana, dan tidak ada juga di tangan anggota Candra Kirana.

Ketika ditanya besaran tarif sekali pentas, dengan 16 kru dan pemain, ia menjawab Rp 20 juta. Pertanyaannya adalah, bersediakah warga Cirebon kembali menyediakan panggung bagi seni tradisi Cirebon yang makin tergeser itu? Kendati demikian ia yakin bahwa tarling tidak akan mati. []

Info Seminar

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed