oleh

Sudut Pandang dan Ibnu Rusyd

Oleh AGUK IRAWAN

TEKS, tafsir dan sudut pandang adalah semacam tubuh, bagi anggota badan. Ia menyatu dan tak terpisahkan—sebuah sintesis dari variasi yang banyak. Tapi sintesis itu berbeda dengan penyatuan. Makanya sudut pandang dan tafsir bersifat dialektik.

Ia bukan identitas yang satu dan pasti. Lebih penting lagi, relasi dari teks, tafsir dan sudut pandang itu harus bebas dari sebuah dogma makna yang bisa dianggap mutlak. Jika pun seorang mencoba memaksakan tafsir dan sudut pandangnya sebagai satu-satunya makna dan kebenaran, maka itu bisa berbahaya bagi teks, tafsir dan sudut pandang lain.

Kondisi semacam itu, pernah dialami oleh seorang hakim dan filsuf besar di Kordoba. Yaitu Ibnu Rusyd (W.1197 M) yang hampir dihukum pancung karena teksnya, –sebagaimana yang dikisahkan oleh Abdul Wahid al-Marakizi dalam karyanya Al-Mujib fi Talakhis.

Al-Kisah, suatu hari sang filosof itu menulis; Raitu al-Zarafah ‘ind Malik al-Barrain. Membaca kalimat ini, sang asiten hakim Ibnu Rusyd kemudian melaporkan kepada Sang Khalifah Manshur. Kontan, amarah sang Khalifah meledak. Ia tak menyangka hakim yang jenius itu menghinanya sedemikuan rupa. Ia dianggap sebagai Jerapah yang mengangkang di dua al-Bar-Bar.

Memang saat itu kalimat Barbar punya nilai traumatik dan menyimpan makna yang terkesan merendahkan, karena terkait bentangan sejarah panjang antara orang Arab-Maroko dan Eropo-Yunani. Jadi mendengar ini Sang khalifah, tak heran, langsung geram dan ingin menyeret Ibnu Rusyd itu kehadapannya.

Singkat cerita, pada suatu malam filsuf itu digelandang ke hadapan Sang Khalifah. Setelah diinterogasi kemudian Ibnu Rusyd menjelaskan, bahwa kalimat itu sama sekali tak mengandung penghinaan, tapi justru sebaliknya, yaitu pujian atau sanjungan.

Karena yang dimaksud dengan al-Barrain bukanlah bar-bar, melainkan dua negeri besar; Andalus dan Maroko. Karena kehebatan itu ia menganggap sang Khalifah bak Jerapah, yang gagah, jangkung, tetapi lembut dan santun. Mendengar ini Sang Khalifah merasa tersipu dan malu. Lalu setelah memahami, ia pun tersenyum dan memeluk erat Ibnu Rusyd.

Relasi teks dan sudut pandang ini, dengan kontkes yang berbeda bisa disandingkan dengan kalimat Islam Nusantara. Betapa banyak orang yang bertindak yag seakan akan ia seperti Sang Khalifah atau sebagai hakim dan mengadili dengan cara sepihak, tanpa mau membaca atau mendengar dari sang pemilik kalimat atau istilah itu.

Padahal bagi mereka, atau mungkin juga kita, Islam Nusantara adalah semacam pengejawantahan dari Islam rahmatan lil’alamin, dan ironis istilah ini pula yang dipakai justru untuk menubruknya.

Padahal demikian penting relasi antara teks, tafsir dan sudut pandang. Ia tak bisa berdiri sendiri, tetapi saling berkaitan dan menjadi entitas. Dalam waktu yang bersamaan ia bisa menjadi utuh sekaligus tak utuh. Wallahu’alam.

Dalam Kereta Api Taksaka menuju Cirebon. 17 Juli 2018.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 comments

News Feed