oleh

Sarapan: Memilih Menu dan Iklan Koran

Oleh ANA MELANISAKMAD*

“HINDARI makanan yang diiklankan di televisi”

Imbauan itu tegas disampaikan Michael Pollan (2009) dalam bukunya Food Rules.

Sebenarnya ini pesan klasik yang disampaikan lewat laku oleh orangtua kita terdahulu: memakan hasil berkebun sendiri atau makan hasil olahan dapur sendiri. Selain alasan ekonomis toh terbukti anak-anaknya menjadi sehat dan kuat.

Saat pagi hari, dapur menjadi tempat paling ramai dan aroma paling sopan untuk membangunkan orang tidur. Setiap daerah memiliki tradisi masing-masing mengenai sarapan. Bagi para petani yang beragkat ke sawah sebelum matahari terbit, pasti akan membawa sarapan mereka ke sawah. Kerapkali menunya pun bukan nasi, melainkan umbi-umbian hasil kebun atau sesederhana pisang rebus untuk sekedar pengganjal perut.

Tak masalah. Inggris memulai kampanye sarapan pada 1920’an, disusul bangsa Roma mulai menyosialisasikan sarapan pada pertengahan abad ke-19. Dimana ritual sarapan dahulunya hanya roti, keju dan biji-bijian rebus hingga masyarakat mulai menambahkan ikan dan daging sebagai menu sarapan untuk menunjukkan kemakmuran. Sedangkan semenjak 1966 pada masa Orde Baru mulai menggulirkan program swasembada pangan.

Aturan makan tiga kali sehari menjadi jadwal paten bagi setiap keluarga di Indonesia. Namun, sarapan yang digalakan pemerintah Orde Baru melalui ibu-ibu PKK, dengan anjuran empat sehat lima sempurna menarik para ibu rumah tangga untuk membeli bahan makanan pokok di warung atau supermarket terdekat.

Ibu-ibu di jauhkan dari kebun sendiri. Ritual sarapan yang begitu akrab dengan para pekerja dan para siswa menjanjikan konsentrasi lebih jika tidak melewatkannya, waktu sarapan mengikuti waktu sebelum dimulainya jam belajar di sekolah dan jam kerja di kantor, antara jam 07.00 pagi hingga jam 10.00 siang. Antara peluang dan kemudahan.

Restoran cepat saji memberi jawaban akan kepraktisan bersarapan. Hal sesederhana sarapan harus diselesaikan dengan uang. Dan seringnya gaya makan seperti itu akan kehilangan budaya-budaya yang tertanam di dalam keluarga, seperti sopan santun, adat makan dan seringkali mengesampingkan penanaman nilai moral seperti berdoa sebelum makan.

Pengaruh panganan yang pertama kali masuk ke tubuh pada pagi hari berdampak besar bagi tubuh dan kesehatan pencernaan. Selain itu, makanan juga menjadi pengaruh besar bagi laku hidup manusia. Bagi yang terbiasa mengawali pagi hari dengan sarapan yang berkarbohidrat berat, bisa saja langsung mengkonsumsi nasi. Bagi yang tidak terbiasa mengkonsumsi karbohidrat berupa nasi di pagi hari, bisa memilih menu lain, menyesuaikan dengan kemampuan tubuhnya menerima asupan makanan.

Sarapan tidak bisa digeneralkan dengan mengkonsumsi makanan tertentu bagi semua orang.

Di pertengahan tahun 2016 sebuah perusahaan yang bergerak dalam industri pangan, menyelenggarakan acara gerakan sarapan nasional di Indonesia. Sarapan yang seharusnya menjadi media berkumpul dengan keluarga dan saling memulai doa dengan harapan dan doa terbaik dilibas, beralih dengan lomba berebut hadiah dan panggung musik. Tidak terlalu tragis rasanya jika ini menimbulkan pertanyaan, “bagaimana kini budaya sarapan yang berkembang pada keluarga di Indonesia?”

Kebiasaan sarapan keluarga di tahun 1980 menuju keluarga tahun 2000’an sudah mengalami perubahan budaya yang begitu berbeda.

Kini sarapan bukan lagi menjadi bagian kebutuhan untuk pemenuhan akan kesehatan, melainkan bergeser makna menjadi gaya hidup baru. Acara yang diselenggarakan oleh perusahaan makanan itu bahkan bukan hanya kegiatan sarapan bersama dengan menu-menu yang sehat, tetapi disisipi pula kegiatan panggung hiburan, pembagian hadiah dan aneka kegiatan lainnya.

Seringkali ini menjadi ajang untuk swafoto yang nantinya akan di pampang di sosial media. Agaknya kini media sosial lebih sering lapar dibanding dengan perut manusia.

Jika dibandingkan dengan sosok Knut Humpston (1890) harus rela menggigit jarinya saat kelaparan, karna tidak memiliki bahan makanan sedikit pun dan benar-benar tidak memiliki uang.
Penghasilannya sebagai penulis selalu dibagikan bagi siapapun yang lebih membutuhkan. Knut hanya menyimpan kertas dan alat tulis untuk tetap dapat menyalurkan ide-idenya pada sebuah karya tulis. Knut yang rela tak memiliki makanan, namun merasa tetap mampu hidup dengan kertas dan alat tulisnya.

Ironis memang membandingkan gaya hidup masyarakat modern yang mengaku menduduki puncak peradaban, namun membalik konsep lapar dan merasa lapar. Makan bukan menjadi kebutuhan, namun merasa butuh. Dan seringkali, merasa lapar dihadirkan oleh indra penglihatan, penciuman atau pendengaran. []

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed