oleh

Ribuan Guru Se-Kabupaten Majalengka Ikuti Upacara Hari Guru Nasional

Citrust.id – Ribuan guru dari 26 Kecamatan se-Kabupaten Majalengka mengikuti Upacara Hari Guru Nasional dan HUT PGRI Yang Ke 73 Tahun 2018 Tingkat Kabupaten Majalengka di Alun- Alun Majalengka Jalan A. Yani No. 01 Kabupaten Majalengka, Selasa (27/11/2018 ).

Pejabat Upacara Hari Guru Nasional Dan HUT PGRI Yang Ke-73 Tahun 2018 Tingkat Kabupaten Majalengka sebagai Pembina Upacara Bupati Majalengka H. Karna Sobahi, Pemimpin Upacara Kepala SDN Baturuyuk 2 Dawuan Syarief Mukkoyidin dan Perwira Upacara Wakil Ketua PGRI Majalengka Dr. Dartum.

Turut hadir dalam Kegiatan tersebut Bupati Majalengka Majalengka H.Karna Sobahi, Kapolres Majalengka AKBP Mariyono, Danramil 1701/Majalengka Kapten Inf. Imam Burhan, Kajari Majalengka diwakili Alwie, Danlanud S.Sukani diwakili Kapten Tek Edhie , Danyonif R.321/GT Lettu Inf. Rosidi, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Majalengka H Imam Pramudya, Kepala Kemenag Kabupaten Majalengka H Yayat Hidayat, Ketua PGRI Kabupaten Majalengka H Endang Syahrul, Jajaran Kepala OPD Kabupaten Majalengka beserta jajaran Pengurus PGRI Kabupaten Majalengka.

Bupati Majalengka H.Karna Sobahi dalam kesempatan tersebut menyampaikan amanat Tema Hari Guru Nasional tahun 2018 adalah “Meningkatkan Profesionalisme Guru Menuju Pendidikan Abad XXI”.

“Tema tersebut dipilih mengingat tantangan Pendidikan di abad XXI semakin berat Hal ini meniscayakan peningkatan profesionalisme menyangkut sikap mental dan komitmen para guru untuk selalu meningkatkan kualitas agar memiliki kompetensi yang sesuai dengan perkembangan zaman,” ungkapnya.

“Revolusi industri keempat yang sudah merambah ke semua sektor harus disikapi dengan arif karena telah mengubah peradaban manusia secara fundamental. Untuk itu, diperlukan guru yang profesional, guru yang mampu memanfaatkan kemajuan teknologi informasi yang supercepat tersebut untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar pada setiap satuan pendidikan dalam rangka mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul dengan kompetensi global,” tambah Karna Sobahi.

Dikatakan dia, saat ini kurang bijak rasanya jika kita hanya menyalahkan dahsyatnya perkembangan teknologi informasi. Kita harus mampu mengarahkannya menjadi potensi positif alih­alih terkena dampak negatifnya. Terlebih pada tahun 2019 yang akan datang, penetrasi revolusi industri keempat tersebut akan masuk semakin dalam ke berbagai sektor, termasuk sektor pendidikan.

“Oleh sebab itu, peningkatan profesionalisme guru menjadi penting karena hal itu merupakan salah satu syarat utama dalam pewujudan pendidikan yang berkualitas dan berkarakter serta menguasai kecakapan abad XXI yang dibutuhkan oleh setiap peserta didik,” tukas dia.

Karna Sobahi mengatakan, selanjutnya dalam rangka perluasan akses, pemerataan mutu, dan Percepatan terwujudnya guru profesional, pada tahun yang akan datang Kemendikbud akan menerapkan Kebijakan Sistem Zonasi.

“Kebijakan Sistem Zonasi diharapkan akan mempercepat pemerataan kualitas pendidikan di seluruh tanah air. Sistem zonasi tersebut diharapkan akan memudahkan penanganan dan pengelolaan guru, mulai dari distribusi, peningkatan kompetensi, pengembangan karier, dan penyaluran bantuan penyelenggaraan berbagai kegiatan yang dilakukan oleh guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah. Kegiatan­ kegiatan itu dapat dilakukan melalui kegiatan di kelompok musyawarah kerja guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah (KKG, MGMP, KKS, MKPS, KKPS, atau MKPS),” ungkapnya.

Karna Sobahi mengatakan, setidaknya, terdapat tiga ciri guru profesional yang harus dimiliki oleh para guru, di antaranya telah memenuhi Kompetensi dan keahlian inti sebagai pendidik, perubahan zaman mendorong guru agar dapat menghadirkan pembelajaran abad XXI untuk menyiapkan peserta didik yang memiliki keterampilan berpikir kritis, kreatif, inovatif, komunikatif, dan mampu berkolaborasi. Hal tersebut tentu tidak akan dapat diwujudkan jika para guru berhenti belajar dan mengembangkan diri.

“Seorang guru yang profesional hendaknya mampu membangun kesejawatan. Bersama rekan­rekan sejawat, guru terus belajar, mengembangkan diri, dan meningkatkan kecakapan untuk mengikuti laju perubahan zaman. Bersama teman sejawatnya pula guru terus merawat marwah dan menguatkan posisi profesinya. Jiwa korsa guru harus senantiasa dipupuk agar dapat saling membantu dan mengontrol satu sama lain,” jelasnya./abduh

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed