oleh

Rampak Genteng Jadi Daya Tarik Festival Musik Keramik JAF 2018

Citrust.id – Jatiwangi merupakan daerah tanah berbunyi. Dari gagasan itu, Jatiwangi Art Factory menginisiasi Festival Musik Keramik muncul dan pertama kali diadakan pada 2012 lalu.

“Sejak tahun itu, Jatiwangi sepakat untuk mengadakannya setiap tiga tahun sekali dan menamai tahun diadakannya festival itu sebagai Tahun Tanah,” kata Direktur Rampak Genteng Ahmad Thian Vultan, Jumat (9/11/2018).

Festival Rampak Genteng pertama melibatkan 1001 peserta. Sedangkan pada 2015 lalu melibatkan 7000 peserta. Tahun ini akan dilaksanakan di eks pabrik gula Jatiwangi, Kabupaten Majalengka.

“Rampak Genteng ketiga ini targetnya pun semakin bertambah, menjadi 11.000 peserta terdiri dari perampak genteng, peniup suling tanah, penabuh tambur, penari, dan juga paduan suara yang bersatu dalam harmoni. Dan festival ini adalah satu-satunya festival musik keramik yang ada di dunia,” jelas dia.

Adapun peserta yang akan terlibat dalam rampak genteng ini, antara lain: siswa-siswi sekolah, mahasiswa/i, guru dan dosen, buruh genteng, polisi, pemerintahan, ibu-ibu PKK, pemuda/i karang taruna, komunitas motor, pecinta alam, pecinta kopi, literasi, paduan suara, dan lainnya.

“Jatiwangi sebagai sentra genteng, produksi gentengnya semakin menurun, dan jumlah pabrik gentengnya pun mulai berkurang dalam sepuluh tahun belakangan. Genteng Jatiwangi terancam, salah satunya karena masuknya pabrik-pabrik industri asing. Festival ini menjadi salah satu cara untuk meneguhkan genteng sebagai identitas Jatiwangi, yang dibunyikan dengan lantang bersama ribuan warga Jatiwangi dan sekitarnya,” ungkapnya.

Saat ini, setiap hari sejak bulan September lalu, warga berlatih rampak bersama di desa-desa dan sekolah-sekolah. Para pemuda-pemudi bergerak sebagai pelatih rampak yang siap disebar ke lebih dari 20 titik per-harinya secara rutin. Antusias dan kreativitas membuat semua orang menyatukan semangat untuk menyambut Minggu 11 November 2018.

“Dengan festival musik keramik di tahun ini, warga juga sedang membangun kesepakatan untuk kota terakota, membangun budaya baru dan berinisiatif merancang kota oleh tangan dan pikiran warganya sendiri untuk keberlangsungan tanah genteng di Jatiwangi,” jelasnya./abduh

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed