oleh

Politik 2018-2019, Sebuah Jalan Menuju Kekuasaan (9)

Oleh BINTANG IRIANTO

DALAM sejumlah tulisan yang lalu, menyoal kemungkinan terbentuknya tiga poros di Pilpres 2019 terjawab sudah.

Dalam proses politik yang berlangsung, apalagi 4 Agustus-10 Agustus 2018 pendaftaran harus sudah masuk ke Komisi Pemilihan Umum (KPU), mengharuskan poros yang terbentuk hanya dua di Pilpres 2019, akan tetapi dengan format yang berbeda. Format di sini adalah dengan memunculkan pasangan yang berbeda sesuai dengan kesepakatan-kesepakatan politik dari kubu Prabowo.

Ini bisa terlihat saat pembukaan Ijtimak Ulama di Hotel Peninsula Jl. S Parman, Jakarta Barat (27/7/2018) yang dihadiri oleh beberapa petinggi partai seperti Prabowo, Amin Rais, Yuzril Ihza Mahendra, Zulkifli Hasan, Anis Bawesdan, Ahmad Heryawan, Rizal Ramli serta mantan Jubir HTI, Ismail Yusanto serta lainnya.

Di salah satu media online dijelaskan, dalam pidato Prabowo dengan jelas menyatakan akan mendukung tokoh lain yang lebih baik pada Pilpres 2019.

Dalam pertemuan tersebut satu persoalan yang muncul kemudian, akankah Prabowo mundur dalam pencalonan dan menggantikannya dengan pasangan lainnya?

Menurut penulis, kalaupun ternyata Prabowo secara legowo mundur dari pencalonan Capres, maka ada beberapa nama yang muncul dan tentunya tidak lepas dari peran partai yang mendukung secara jelas, karena kesepakatan-kesepakatan tersebut akan memberikan kesempatan-kesempatan lainnya untuk maju. Beberapa nama yang muncul tersebut adalah Anies Baswedan, Rizal Ramly, Ahmad Heryawan, dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Kenapa AHY? Karena Partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini tidak bisa dianggap enteng, sebab mempunyai hitungan kursi yang memberikan kontribusi untuk mengusung Capres dan Cawapres.

Ini bisa dilihat, sebelum merapat ke Kubu Prabowo yang ditandai dengan pertemuan mereka pada Selasa (24/7) di kawasan Mega Kuningan Jakarta, SBY gencar mendorong puteranya AHY untuk masuk dalam gelanggang pencapresan, serta terus mendesak secara perlahan tapi pasti membuat poros di luar poros Jokowi dan Prabowo.

Tetapi akhirnya kita semua tahu, manuver politik SBY tersebut gagal dan kemudian merapat ke kubu Prabowo. Ada banyak hal yang bisa dimaknai dalam kejadian tersebut, salah satunya adalah kesetian partai-partai di Poros Jokowi yang tidak diragukan lagi, yakni PDI-P, Partai Golkar, PKB, Partai NasDem, Partai Hanura, dan PPP.

Format Lama atau Format Baru?

Melihat perkembangan tersebut, dimana pendaftaran Capres dan Cawapres akan dilaksanakan pada tanggal 4 Agustus-10 Agustus dan penetapan calon akan dilakukan pada 20 September 2018, maka tentunya pasangan calon akan semakin mengerucut dan harus ditemukannya kesepakatan yang cepat dan tepat.

Oleh karena itu, yang akan dilakukan oleh kubu Prabowo adalah dua kemungkinan, bisa menggunakan format lama dengan tetap menjadikan Prabowo sebagai Capres dan Cawapresnya lainnya, atau mengambil calon baru dengan menempatkan Capres dan Cawapres dari beberapa nama yang sudah dikatakan seperti di atas selain dari Prabowo.

Akan tetapi dari keempat nama di atas, tokoh yang memiliki tingkat popularitas yang paling tinggi adalah Anies Baswedan. Hal ini berdasar hasil survei sejumlah lembaga survei. Di urutan kedua dari segi popularitas adalah AHY. Nama lain seperti Rizal Ramli dan AHER tidak begitu populer untuk maju dalam Pilpres.

Penulis coba menganalisa beberapa nama yang akan dipasangkan, andai Prabowo tidak mencalonkkan diri.

Pertama Pasangan Anies Bawesdan dan AHER. Menurut penulis kemungkinan ini tidak terjadi, karena biar pun AHER mempunyai kemungkinan akan didorong oleh PKS, akan tetapi kita bisa melihat beberapa persoalan yang muncul dalam internal PKS.

Dengan terjadinya konflik internal, maka elektabilitas partai menjadi terganggu. Walaupun PKS merupakan partai setia yang terus mendukung langkah-langkah politik Prabowo selama ini.

Selanjutnya Anies Bawesdan-Rizal Ramly. Kita tahu Rizal Ramli merupakan seorang ekonom, sehingga ia ahli dalam persoalan ekonomi. Bisa saja nama ini masuk dalam bursa pencalonan cawapres di Kubu Prabowo yang akan mendampingi Anies. Sekali lagi, ini hanya jika Prabowo legowo tak turut “bertarung” dalam Pilpres 2019. Akan tetapi persoalannya, adakah partai yang akan mendorongnya Pencawapresannya?

Maka akan berbeda ketika pasangan yang akan dimunculkan adalah Anis Baswedan dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Karena ada yang melatarbelakanginya secara rasional.

Pertama, bahwa Anies merupakan Gubernur yang didorong dari Partai Gerindra, serta saat dilakukan survei hasilnya juga cukup memuaskan. Sama seperti AHY, dimana didukung oleh Partai Demokrat dan mempunyai tingkat popularitas yang sama dengan Anies Baswedan.

Sedangkan, andai tetap Prabowo yang diajukan sebagai Capres, maka cara yang paling aman adalah dengan mengambil AHY sebagai cawapresnya, dikarenakan secara survei dan penguatan di basis kepartaiannya antara Gerindra dan Demokrat menempatkan kedua partai ini diprediksikan masuk dalam hitungan lima besar di tahun 2019.

Artinya, bahwa Agus Harimurti Yudhoyono dipasangkan dengan siapapu di kubu Prabowo akan menempatkan dirinya di posisi sebagai cawapres, karena mempunyai kekuatan survei dan partai yang menjadi pegangan politiknya. Wallahu ‘a’lam bishawab.

*Analis Politik dan Kebijakan Publik.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed