oleh

Politik 2018-2019 : Sebuah Jalan Menuju Kekuasaan (6)

aitrades

Oleh : Bintang Irianto

Wacana pilpres 2019 sudah mulai terasa melebihi pemilukada 2018 serta persiapan pileg yang sama waktunya dengan pilpres. Dinamika pemikiranya terus berjalan seperti air yang tanpa sekat masuk pada kesemua lini pembahasan seluruh persoalan di negri ini, kait mengait, cepat dan lompat tidak meyudahi diskusi-diskusi kecil tentang siapa berpasangan dengan siapa untuk menjadi penguasa di negri ini.

Dari survey-survey tentang tokoh yang masuk kedalam pemahaman para koresponden dimunculkan bak seperti bunga yang terus mekar tumbuh diilalang politik kekuasaan, wacana antara tokoh agama dan nasionalis juga terus menjadi makanan banyak pengamat, sekaligus antara civil dan militer masih hangat saja untuk dikaji pada pentas sejarah bangsa ini. Tokoh Agama dan Nasionalis, Civil dan Tokoh Militer, selalu muncul pada setiap wacana hajatan demokrasi di rutinitas lima tahunan, mengapa dan bagaimana hal itu terjadi? karena geopolitik kita masih menepatkan posisi antara agamis, nasionalis, dan tokoh militer pada setiap kajian-kajian politik, atau mungkin dari kalangan inilah bahwa nama Indonesia terlahir dan berkembang sampai dengan sekarang ini.

Kita dapat mencatat, kepemimpinan pada era awal kemerdekaan kepemimpinan negri ini dipegang oleh Soekarno yang menjadi Presiden pertama Republik Indonesia terlahir dari kalangan Nasionalis, periode kedua Soeharto juga lahir dari kalangan Militer, periode ketiga diambil B.J. Habibi yang dianggap sebagai periode penghantar kekuasan dalam era reformasi merupakan seorang teknokrat juga seorang agamis yang nasionalis. Masuk pada periode keempat muncul Abdurahman Wahid atau Gus Dur dari kalangan agamawan yang merupakan Mantan Ketua PBNU dan Ketua Prodem (Pro Demokrasi) yang sangat fenomenal ini.

Periode lanjutannya Presiden kelima adalah Megawati Soekarno Putri seorang Srikandi Nasionalis dan putera Soekarno juga merupakan seorang nasionalis tulen, dilanjutkan periode ke enam oleh Soesilo Bambang Yudhoyono merupakan tokoh dari kalangan militer dan seorang nasionalis memimpin dua periode pada era reformasi. Setelah itu Joko Widodo yang juga terlahir dari kalangan nasionalis sejati yang memimpin dari bawah diawali karir politiknya menjadi Walikota Solo, Gubenur DKI dan akhirnya terpilih menjadi Presiden RI ke tujuh.

Dari deretan ini terlihat nasionalis, agamawan atau tokoh agama menjadi slogan yang akan menjadi dan akan memimpin negara ini. Nah, ternyata wacana-wacana inipun masih berkembang pada era sekarang ini, serta banyak juga menggunakan analisa-analisa dari frame keilmuwan barat atau modernis, tetap saja wacana tentang ketiga hal tersebut menjadi topik pembahasan.

Nasionalis, Agamawan, dan Kalangan Milter ?

Pada beberapa hari lalu, tulisan sebelumnya sudah saya tulis beberapa kemungkinan analisa yang akan muncul untuk masuk dalam pasangan calon 2019, kita katakan saja bahwa kemungkinan paslon ketiga muncul pada dua kekutan paslon yang sudah “booming” seperti Jokowi dan Prabowo kemungkinan ketiganya masih dalam bayang-bayang. Beberapa pasangan yang akan mememani Jokowi dan Prabowo tetap saja di kategorikan masuk dalam wacana nasionalis, agamawan atau santri, dan tokoh militer.

Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo merupakan tokoh militer, Muhaimin Iskandar (Cak Imin) adalah Santri-Nasionalis, Anis Bawesdan merupakan salah satu tokoh agamawan, Agus Harimurti Yudhoyono jua merupakan tokoh yang dilahirkan dari Kalangan Militer. Andai kemudian, mengapa lainya tidak disebut, penulis pikir dari skala dan skema penyatuan atau koalisi partai dan yang dianggap rasional secara realitas politik dan kemungkinan yang terpastikan cuma nama-nama ini yang akan masuk kedalam kancah 2019 nanti. Artinya, bahwa selain wacana nasionalis, agamawan-santri, tokoh militer akan mengkerucut masuk kedalam lima nama ini, tentunya juga bukan saja hanya berdasarkan survey yang menjadi
tolak ukurannya, akan tetapi koalisi yang sudah permanen dari partai yang mempunyai basis kekuatan dibawah juga menjadi perhitungan mendasarinya.

Menurut penulis, survey hanya sebagai alat penglihatan atau pemetaan yang sifatnya dinamis dan tidak bisa dijadikan barometer untuk menepatkan figur yang mengharuskan kemenangan karena tingkat populeritas dan elektabilitas, akan tetapi kekuatan partai juga menjadi penentu untuk menepatkan pasangan siapa dengan siapa oleh karena kaitannya adalah “suara” kemenangan melalui mesin politik dan jaringan (network) yang sudah berjalan dengan sendirinya melalui tokoh dan simpul basis. Maka penilaian tersebut sangat rasional, bila kita menepatkan lima tokoh itu yang akan atau berhak untuk maju dalam pasangan dengan Joko Widodo dan Prabowo Subiakto, kalau memang tidak ada paslon ketiga yang muncul dikemudian hari.

Dari kelima nama yang mucul ini dinamis melihatnya, kita juga susah menepatkan posisinya andai pasangan Jokowi yang dikategorikan nasionalis berpasangan dengan Agamawan, yang muncul adalah Muhaimim Iskandar dan Anies Bawesdan. Pada posisi ini antara Muhaimin Iskandar dan Anies Bawesdan penulis rasa akan memilih Muhaimin Iskandar oleh karena posisinya sebagai santri dan ketua PKB, dimana partainya salah satu mewakili basis keagamaan dan nasionalis.

Andai Joko Widodo (nasionalis) berpasangan degan tokoh militer, apakah Gatot Nurmantyo atau Agus Harimurti Yudhoyono, penulis lebih melihat maka pilihannya adalah Gatot Nurmantyo karena posisi kalangan purnawirawan dan keluarga TNI akan memilihnya, dimana posisi Gatot masih baru saja menyelesaikan tugasnya di lingkungan militer. Memang memilih Agus Harimurti Yudhoyono bisa menggaet kalanga militer karena ada tokoh SBY dibelakangnya sekaligus Partai Demokrat merupakan partai yang masih berdiri tegak dengan kekuatan basisnya, akan tetapi penulis memprediksi
ada hal lain kemungkinan Gatot Nurmantyo yang dipilih.

Begitu juga sebaliknya, kalau Prabowo Subiakto (militer) akan berpasangan dengan kalangan agamawan atau santri maka tokoh yang muncul adalah Muhaimin Iskandar dan Anies Bawesdan. Pada posisi ini, sesungguhnya Muhaimin Iskandar mempunyai posisi tawar yang sangat bisa dilakukan karena posisi sebagai ketua partai, lebih memungkinkan dari pada Anies Bawesdan, tetapi kemungkinan ini tidak bisa di prediksi secara serampangan karena tergantung bangunan posisi dan bangunan kepentingan yang akan muncul dikemudian hari.

Sedangkan kalau posisi Prabowo memilih kalangan militer juga, maka yang akan muncul adalah Gatot Nurmantyo dan Agus Harimurti Yudhoyono, hal itu tetap disebabkan jaringan yang sudah terbangun oleh kedua tokoh tersebut. Akan tetapi prediksi penulis, maka prabowo akan mengambil Agus dikarenakan penambahan suara partai yang akan menjadi analisa untuk menepatkan pasangan koalisi partai mendorong paslon sesuai dengan peraturan pemilu.

Tokoh Dari Kalangan Partai Menjadi Penentu Paslon??

Penulis memprediksikan, bahwa Cak Imim atau Muhaimin Iskandar dan Agus Harimurti Yudhoyono akan menjadi bandul dalam pasangan koalisi Nasionalis, Agamawan (Santri), dan militer ini. Hal ini didasari dengan komposisi partai yang menjadi bandul untuk kemenangan atau meraih suara berdasarkan basis kekuatan dibawahnya.

Dalam beberapa Survey yang dilakukan hampir semua analisa dari lembaga survey, PKB dan Demokrat masuk dalam lima dan enam besar partai yang akan masuk dalam pileg 2019. Ini artinya bahwa kedua tokoh itu yang mewakili dari kalangan partai dan akan menjadi penentu kekuatan partai yang sudah mendorong nama-nama yang akan maju dalam pilpres 2019.

Akan tetapi bisa saja, bahwa kedua tokoh ini akan menjadi nominasi serta mendinamisasikan kebekuan politik terhadap dua kekuatan yang sudah muncul sebelumnya. Hal itu tergantung dari dinamika politik yang terus tetap berjalan kedepannya, apakah akan semakin mengkerucut atau kemudian memang memunculkan pigur pasangan baru??. *** Wallahu A’lam Bishawab

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed