oleh

Politik 2018-2019: Sebuah Jalan Menuju Kekuasaan (1)

Oleh : Bintang Irianto

Tulisan ini merupakan bagian dari memotret kejadian-kejadian pada dinamika politik sekarang ini yang pesat sekali, karena pada saat semua terkonsetrasi kepada pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak di tahun 2018, maka seluruh mata akan melihat perhelatannya. Dari 171 daerah, ada 17 provinsi, 39 kota dan 115 kabupaten yang sedang menyelenggarakannya bukan sesuatu yang sangat mudah bila kemudian ini dilaksanakan secara bersamaan.

Melihat itu semua, maka semua komponen kekuatan negara di fullkan untuk menyelesaikan proses ini secara damai dan mendapatkan calon-calon kepala daerah yang memang bertanggung jawab bagi pembangunan masyarakatnya, dan berkeadilan serta berkesejahteraan untuk meningkatkan kehidupan masyarakat yang lebih baik.

Konsentrasi negara saat ini, sepertinya difokuskan kepada berjalannya proses dinamika demokrasi pada pilikada 2018 ini, oleh karenanya menjadi sebuah keharusan semua stakholder masyarakat bisa menjaga dan menyejukan bila kemudian pergesekan pergesekan politik terjadi, sehingga dampak dari perhelatan politik ini tidak berimbas ke barisan yang lebih bawah.

Survey dan Jalanan Partai kedepan

Dari semua keramaiannya dan kesibukannya, maka kita akan melihat partai-partai yang dianggap sebagai partai lama yang mempunyai financial, mesin partai yang bagus, basis massa yang permanen, dan kekuasaan yang cukup, tentunya poses pilikada ini bukan sesuatu yang susah. Atau mungkin bisa dikatakan sebagai sebuah acara rutinitas yang biasa dilakukan setiap lima tahun sekali, kalau boleh dikatakan partai-partai seperti ini, contoh PDI-P, Golkar, Gerindra, Demokrat, PKB, pasti tancap gas dan langusng  jossss. Sedangkan partai-partai kelas menengah seperti PKB, Demokrat dan NasDem, PKS, PPP, dan Perindo (partai yang baru masuk)  , PPP dan Hanura tentunya akan sedikit ngos ngosan untuk ikut bersaing atau paling tidak menyamakan dengan tiga partai diatas.

Beda dengan partai yang memang lama akan tetapi secara financial melemah, basis massa berkurang, dan kekuasaan parlement juga sudah tidak mempunyai ketajamannya, maka pilikada tahun ini harus berani melakukan percepatan konsolidasi dan perbaikan struktur untuk menyiapkan mesin partainya yang memang bisa joss seperti partai yang sedang manggung sekarang. Contoh partai-partai ini adalah PBB, PKPI, dll nya.

Kita mencoba melihat atau memotret kontestan dari tahun 2009, dimana partai seperti PDI-P dan Golkar serta saat itu partai Demokrat menjadi pesainganya yang sangat luar biasa dalam memenangkan kekuasaanya untuk mencapai keterwakilannya di DPR, tiga partai besar yang saat itu berkuasa terus memainkan proses-proses politiknya, PDI-P dan Golkar tetap masih kuat biarpun ada peristiwa-peristiwa politik tetap saja urutannya saling berebut kedua dan ketiga karena saat itu Demokrat dengan pemerintahan SBY menjadi nominasi memenangkan pertarungan di pemerintahan dan legislasi senayan.

Pada tahun 2014, dimana SBY lengser maka partai Demokrat pun mengalami penurunan prosentase kekuasaannya,  tetapi kedudukan yang menjadi pemenangnya selalu PDI-P dan Golkar, akan tetapi ada partai yang mulai meperlihatkan taringnya menuju prosentase masuk lima besar seperti Gerindra. Partai Gerindra masuk dalam kapasitas tersebut karena perolehan suaranya didapatkan dari majunya prabowo menjadi Presiden di tahun 2014 bersaing dengan jokowi, biarpun bukan menjadi pemenang, akan tetapi Mantan Danyon Kopasus ini menyumbangkan suaranya ke pileg.

Menjadi menarik, dalam beberapa hari kebelakang Lembaga Survey Indonesia (LSI) Deni JA melakukan survey di 34 provinsi terhadap 1.200 responden yang dilakukan tanggal 7 14 Januari 2018. Dan hasil surveynya PDIP 22,2%, Golkar 15,5%, Gerindra 11,4%, Demokrat 6,2%, PKB 6,0%, NasDem 4,2%, PKS 3,8%, PPP 3,5 %, Perindo 3,0%, PAN 2,0%, Hanura 0,7%, PSI 0,3%,PBB 0,3%,PKPI 0,2%. Hasil LSI tetap menepatkan PDI-P dan Golkar juga Gerindra, menjadikan tiga besar dalam perolehan suara menuju 20019. Persoalan survey itu, akan terjadi apa tidak, seperti beberapa partai yang menyatakan bahwa survey tersebut jangan sampai ada penggiringan, mau disadari apa tidak bahwa PDI-P dan Golkar masih menjadi kekuatan partai terbesar yang memang secara basis massa mempunyai kekuatan yang permanen.

Ditambah juga, survey yang dilakukan oleh Saiful Mujani Research Consulting (SRMC) menepatkan bahwa naiknya PDI-P dalam survey LSI semakin meningkat, karena tidak lepas dari peran Jokowi sebagai presiden yang di dorong oleh partai berlambang banteng ini. Kapasitas Jokowi yang semakin hari semakin meroket dengan kerja-kerja nyatanya melalui pembangunan jalan tol, perdagangan yang mulai menerobos pasar-pasar internasional, Pembagian prosentase Freeport dengan pembangunan papuanya, serta beberapa kebijakannya yang sangat kontroversial akan tetapi baru terasa kemudian hari, menjadikan populeritasnya semakin meninggi dan beberapa lembaga survey tetap menepatkan tingkat elektabilitas Jokowi belum ada yang menandingi. Maka wajar kemudian ketika SRMC menyatakan bahwa tingkat kenaikan PDI-P sekarang karena mulai senangnya masyarakat melihat kerja-kerja nyata yang dilakukan oleh Presiden RI ini.

Maka yang menjadi pertanyaan, adalah akankah bahwa PDI-P dan Golkar menjadi pendekar pada pemilu tahun 2019 serta pilpres??, atau kemungkinan Gerindra akan menyusul menyaingi salah satu dari dua partai tersebut oleh karena kemungkinan besarnya Calon Presiden Prabowo akan kembali masuk dalam pertarungan Pilpres ??, dan tentunya kekuatan-kekuatan Gerindra akan di full kan semua untuk mengambil posisi kekuasaan RI 1 dan Legislatif. Apalagi kemudian pada pilikada 2018, bahwa banyak calon-calon yang di dorong kebanyakan dari PDI-P, Golkar, Geindra, dan Demokrat serta PKB dan PKS NasDem juga lainya. Maka wajar kemudian, tingkat kerawanan konflik sosial dan politik dikhawatirkan terjadi karena gesekan-gesekan 2018 adalah bagian pemanasan terhadap pileg dan pilpres 2019.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed