oleh

Petani dan Tantangannya

Catatan DADANG KUSNANDAR

LAHAN pertanian semakin tergusur. Menyusur jalan raya berbagai kota di Jawa bagian Barat pemandangan itu bukan fatamorgana. Lahan pertanian beralih fungsi menjadi area pemukiman. Baja, besi dan semen menggantikan bulir padi yang menguning.

Yang ada ialah jerami kering dan tak jelas kapan hendak ditanam benih padi lagi karena di atas lahan itu tertulis: Di lokasi ini dibangun perumahan rakyat/ regency dan sejenisnya. Data dua tahun sejumlah lahan pertanian Jawa Barat sudah terkontaminasi oleh limbah industri. Contohnya lahan pertanian penghasil beras terbaik di Jawa Barat, yakni di Kawasan Rancaekek, Bandung yang memiliki luas 450 hektare rusak akibat limbah pabrik.

Petani makin kehilangan ruang geraknya. Di sisi lain banyak petani yang menyekolahkan anak-anaknya melanjutkan studi di berbagai kampus non pertanian. Seakan tidak ingin anak-anaknya jadi petani seperti orang tuanya. Anak keturunan petani desa telah meninggalkan cangkul dan bau sawah serta menggantinya dengan angka-angka kalkulatif manajemen atau sirkuit teknik informatika dan sebagainya.

Dilema pertanian Indonesia tidak hanya terpusat pada kelangkaan lahan garapan. Akan tetapi berbagai tantangan kerap menghadang. Dari dilatasi pembangunan/ perencanaan wilayah kota/ kabupaten hingga menurunnya minat meneruskan tradisi bercocok tanam di kalangan keluarga petani.

Tantangannya lantas terletak pada kemampuan melaksanakan intensifikasi pertanian dengan lahan sempit namun menghasilkan produksi pertanian dalam jumlah maksimal. Sudah menjadi rahasia umum, Belanda negeri di Eropa yang jauh lebih kecil dibanding Indonesia namun berstatus pemasok sayur-sayuran terbesar sedunia. Begitu pula Thailand yang berhasil membudidayakan tanaman padi bertingkat di hamparan plastik.

Kini terus berkembang pertanian hidroponik di Jawa khususnya. Keberadaannya semoga menjadi stimulan untuk kembali ke kesadaran bertani di lahan sempit guna menghasilkan tanaman produktif, bahkan dari halaman rumah. Kesadaran di atas kiranya merupakan jawaban teori Robert Maltus tentang deret ukur dan deret hitung menyoal kebutuhan pangan manusia.

Selamat Hari Tani Nasional 24 September. Semoga para ahli pertanian Indonesia terus berinovasi dan mengeksplor keilmuannya bagi pengembangan pertanian di Indonesia. []

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed