oleh

Pesantren Sebagai Potret Islam Nusantara

Oleh BINTANG IRIANTO

KITA kerap melupakan peran pesantren yang menjadi pilar kehidupan bangsa dan negara di nusantara. Padahal fakta tersebut membuat kajian mengenai pesantren lebih meriah. Sehingga untuk memahami Islam di Nusantara, kita tidak akan bisa melepaskan peran pesantren di dalamnya.

Mengapa pesantren identik dengan Islam Nusantara? karena di dalam pesantren, proses antara kebudayaan dan keagamaan tersinergikan menjadi satu kultur yang sangat kental.

Untuk memahami Islam Nusantara, maka seyogyanya kita memahami dahulu munculnya Pesantren. Hal itu membuat kita bisa memahami bahwa Islam Nusantara merupakan kristalisasi proses panjang keilmuan: yang berabad-abad berkembang dari arus utamanya, Timur Tengah, dan terpelihara sampai dengan sekarang ini.

Hal tersebut membuat kita mengenal, bahwa Islam Nusantara merupakan deretan sejarah perkembangan Islam di Indonesia yang dahulu terkenal dengan nama Nusantara.

Pada studi masuknya Islam ke Indonesia, banyak persepsi yang berbeda mengenai jalur mana yang lebih mendekati kebenaran, khususnya berkaitan dengan proses penyebaran Islam. Karena proses ini akan menempatkan pemahaman kita berkaitan tentang cepatnya jaringan Islam yang sudah tertanam secara rapi di bumi nusantara ini.

Ada yang menyatakan, bahwa masuknya Islam ke Indonesia dilakukan oleh aliran Syiah Kebatinan, ada juga yang mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia melalui bangsa Cina sampai dengan ke Jawa, dan ada juga yang tetap menyatakan bahwa Islam datang ke Indonesia khusus Jawa oleh kalangan muslim aliran Ahlisunnah Waljamah, yang dibawa oleh kalangan Bangsa Arab dan Pedagang Gujarat.

Apapun yang terjadi berkaitan dengan perbedaan masuknya Islam di Indonesia, semuanya mengalami sudut pandang perbedaan dalam melakukan pendekatan sejarah, melalui data-data manuskrip yang sudah ditulis dahulu, atau melalui pendekatan artefak melalui kajian antropologi.
Akan tetapi, kalau dikaji lebih mendalam, sesunguhnya pendekatan-pendekatan yang dilakukan kebanyakn mempunyai ketertundukan dan data yang sama, dimana akan memperkaya pemahaman kita tentang masuknya Islam ke Indonesia.

Akan tetapi masuknya Islam ke Indonesia ada juga mengatakan sejak abad 11 Masehi, dengan bukti adanya Nisan Fatimah Binti Maimun di Gresik Jawa Timur dan batu nisan itu berangka tahun 1802 M. Selain itu, ada juga pendapat yang menyatakan islam masuk ke Indonesia abad 13 Masehi, karena pendapat ini dikaitkan dengan masa runtuhnya Dinasti Abasiyyah di Baghdad [1258]: berita ini dikatakan Marcopolo, dari Ibnu Batuta [1354], dan diperkuat oelh masa penyebaran ajaran Tasawuf di Indonesia.

Islam masuk di Indonesia dan mengalami proses penyebarannya dari abad 7 sampai dengan 13 Masehi. Selama masa itu pedagang arab dibantu oleh pedagang persia dan India turut menyebarkan islam melalui sisi perekonomian. Juga seperti pedagang Gujarat, di masa itu, makin intensif menyebarakan Islam di daerah yang mereka kunjungi terutama di daerah pusat perdagangan.

Pada masa 1285 M berdiri kerajaan bercorak Islam bernama Samudera Pasai, yang merupakan perdagangan pusat penyebaran Agama Islam dengan nama Kesultanan Malaka, dan awal abad ke 15 Kerajaan Majapahit mengalami kemerosotan dan pada tahun 1478 hingga massa keruntuhannya.

Maka Islam di Indonesia sudah mengalami pergumulam dengan Timur Tengah mungkin sekitar abad ke 15-16, dimana proses kontak-kontak yang dilakukan oleh kalangan-kalangan Timur Tengah sudah masuk ke berbagai jalur, semisal ketika ada makam Sa’ad bin Waqash di Guanzhau China dan ini merupakan data yang harus didalami bahwa memang para sahabat Rasulullah sudah melakukan kontak-kontak dengan semenanjung Asia pada abad pertama Islam menjadi negara, atau beberapa abad ke bawahnya ketika Khulafaur Rasyidin memimpin negara yang berpusat di Madinah.

Akan tetapi ketika melihat Jawa berkaitan dengan masuknya Islam, maka kita berkeyakinan bahwa hal tersebut dibawa oleh para Waliyullah tanah Jawa. Bahkan sejarah mencatat Jawa merupakan patok bumi bagi perkembangan Islam di tanah Jawa. Setelah itu kemudian dilanjutkan sekitar abad ke 17-18, kontak Ulama Nusantara dengan Ulama-Ulama Timur Tengah semakin intens, maka kemudian proses pembelajaran itu memicu munculnya berbagai pesantren yang ada sampai dengan sekarang ini.

Pesantren menjadi sebuah tempat pembelajaran ketika era Walisongo sampai dengan dilanjutkan masa-masa berikutnya, yaitu masa para ulama-ulama melakukan pengembangan di seluruh tanah Jawa ini.

Perkembangan tersebut adalah proses saling belajar diantara Ulama kepada Ulama lainnya, yang sudah menjadi kebiasaan, disamping juga transformasi intelektual yang dilakukan oleh Ulama Nusantara yang melakukan pembelajaran langsung dengan dunia Timur Tengah, yang menjadi kutub ilmu keislaman.

Seperti tercatat, bahwa jaringan Ulama yang ditulis oleh Azyumardi Azra mencatat silang perkawanan dari para ulama-ulama dari jalur Sumatera yang sudah melakukan kontak dengan Timur Tengah, melalui jaringan ‘ala al-din al Baghadadi, Ahmad Al-Qusaishi kepada jaringan Sumatera seperti Al-Singkili, Hasan Al-Anjani, Muhammad Ali Syanwani, M. Arsyad Al-Banjari, A’bd Rahman Al-Balawi, Daud Al-Fatah, Syekh Yusuf Al-Maqasari serta lainnya.

Sedangkan di Jawa terdapat nama-nama yang lalu berkaitan dengan jaringan abad 17-18 seperti Syekh Muhyi, Syekh Ahmad Al-Mutamakin, Syekh Muqoyyim, dan Syekh Al-Bantani.

Oleh karenanya, menjadi tidak aneh kalau kemudian melalui jaringan-jaringan para Ulama ini lah, pesantren-pesantren muncul sebagai perkembangan jaringan Islam di Nusantara. Maka bisa dikatakan bahwa Islam Nusantara juga membicarakan pesoalan yang erat kaitannya dengan sejarah pesantren, yang menjadi tolak ukur bagi perkembangan Ulama-ulama di Nusantara ini. Wallahu’alam bishawab []

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed