oleh

Perjumpaan Digital

Catatan DADANG KUSNANDAR

BERDASAR pengamatan lembaga pengembangan SDM di Jakarta, teknologi komunikasi yang diharapkan mempermudah kehidupan, pada banyak kasus justru menimbulkan kerumitan dan kekaburan. Dua hal yang tidak ditemukan di era manual. Rumor bahkan bisa memporakporandakan tatanan yang sudah ada.

Era digital yang mempercepat akses komunikasi memungkinkan semua orang menjadi subjek informasi. Didukung kesenangan menggunakan media sosial, setiap orang menampilkan dirinya sendiri. Menguatnya eksistensi diri di dunia maya makin menimbulkan kerumitan dan kekaburan.

Beda tajam era manual dengan era digital terletak pada kerenggangan (untuk tidak menyebut keengganan) tatap muka. Penanda kontinuitas sosial justru ada pada tatap muka. Orang per orang bertemu secara langsung membicarakan berbagai masalah. Tatap muka kini menjadi barang mewah seakan segala permasalahan dapat terselesaikan melalui perjumpaan digital.

Pada mulanya teknologi komunikasi dibaktikan bagi upaya mendekatkan jarak antarmanusia. Alexander Melville Bell adalah ayah dari Alexander Graham Bell (penemu telepon) dan ia penyandang disabilitas tuna rungu. Bell yunior tergerak mengeksplorasi penemuannya supaya manusia dapat berkomunikasi dalam segala ruang dan waktu. Meski pun ayahnya tidak dapat menggunakan penemuan teknologi anaknya sendiri.

Dengan kata lain komunikasi bertujuan mempermudah kehidupan. Namun dalam perkembangan berikutnya komunikasi dan informasi memperumit dan mengaburkan.

Lihat saja fakta keseharian pengguna dunia digital. Informasi dari dunia maya diyakini sebagai “kebenaran”. Tanpa reserve sebuah informasi disebarluaskan. Tanpa menelaah informasi yang saling tumpang tindih itu memadati jagat raya. Bahkan sering terjadi tanpa membacanya, informasi telah tersebar demikian cepat.

Banyaknya pelaporan kesalahan atas penyebaran informasi saat ini memperlihatkan bahwa akselerasi teknologi tidak berjalan seiring dengan kemampuan menyerap makna. Lebih rumit dan lebih mengaburkan lagi ketika sebaran informasi itu menimbulkan keresahan publik.

Kita sebagai pengguna dunia digital mestinya tidak gampang terpedaya oleh segala sesuatu yang tidak dipahami. Ingatlah bahwa teknologi digital yang mempercepat arus informasi dan komunikasi diciptakan oleh manusia. Jangan terbalik kegunaannya: Manusia diperdaya teknologi. []

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed