oleh

Peringati May Day, SBMI Indramayu Ajak Purna Buruh Migran Demo

Indramayutrust.com – Sejumlah massa dari Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Kabupaten Indramayu, yang mayoritas merupakan ibu-ibu purna buruh migran, menggelar aksi damai dalam peringatan May Day, di Simpang lima Indramayu, Senin (01/05).

Koordinator lapangan, Tiana Jeanita dalam orasinya mengatakan, berdasarkan data SBMI Indramayu dari tahun 2016 – 2017, tercatat ada 58 Kasus yang ditangani. 17 kasus yang terjadi di Asia Pasifik dan 41 kasus dari Timur Tengah.

“Tentu kita masih ingat bagaimana nasib Rusminiwati yang awalnya akan dipancung, tetapi kemudian diperingan hukumannya menjadi 12 tahun, dan Ruminah yang dijual oleh mafia trafficking ke Syria, apa peran pemerintah daerah dalam pembelaannya? Tidak ada. Keluarga dibiarkan tanpa kehadiran pemkab Indramayu, begitu juga kasus-kasus lainnya,” ungkapnya.

Berdasarkan pengalaman penanganan kasus tersebut, lanjut Tiana, SBMI Indramayu dapat mengambil kesimpulan bahwa kasus-kasus tersebut bisa diminimalisir jika pemerintah Kabupaten Indramayu punya kehendak politik yang baik dalam perlindungan buruh migran.

“Lebih dari 19 buruh migran asal Kabupaten Indramayu yang ditempatkan secara ilegal ke Malaysia oleh pasangan suami istri NW dan NA asal Desa Kedungwungu Kecamatan Krangkeng pada tahun 2014, merupakan fenomena gunung es yang tampak kecil dipermukaan namun sangat besar dibawah permukaan, Jika dikuak lebih dalam, mereka tereksploitasi secara fisik, psikis dan ekonomi,” tegasnya

Sementara, ketua SBMI Indramayu, Juwarih mengungkapkan, perekrutan ilegal tersebut hingga saat ini masih marak terjadi, meskipun pemerintah telah memberlakukan penghentian secara permanen ke 19 negara Timur tengah.

Akibatnya, lanjut Juwarih, buruh migran asal Indramayu banyak mengalami kasus-kasus berat, baik di Asia Pacifik maupun di Timur Tengah.

“Ini artinya kebijakan moratorium yang dikeluarkan pemerintah tidak menjadi solusi efektif karena masih terus terjadi upaya upaya penempatan buruh migran ke luar negeri dengan jalur yang penuh resiko, sehingga kerentanan buruh migran menjadi korban perdagangan orang semakin besar,” tandasnya. (Didi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed