oleh

Pergeseran Tarling

Oleh DADANG KSUNANDAR*

MODERN atau klasik dalam seni tradisi ternyata multitafsir. Ukuran modern bukan sebatas perangkat musik yang disertakan pada pentas. Begitu pula bukan pada kurun waktu.

Berbincang pada suatu senja  dengan maestro musik Askadi Sastrasuganda di Desa Cangkring Kecamatan Plered Kabupaten Cirebon, memberi inspirasi baru tentang pemahaman seni klasik dan seni modern. Lelaki 85 tahun yang tetap tekun pada pilihannya (baca: budaya Cirebon) itu menjelaskan penggunaan gitar yang menggantikan peran kecapi pada pentas tarling Jayana pada masa pendudukan Jepang di Cirebon dapat dikatakan modern.

Namun ketika dua buah sendok makan dimainkan sebagai kecrek, itu pun sudah modern. Asumsi Askadi menunjukkan bahwa kreativitas seniman lah yang memposisikan kriteria modern.

Nama besar yang tak terelak bagi asal mula kesenian tarling ialah Jayana. Lelaki asal Karang Ampel Indramayu ini menikah dengan Sri Maryati asal Kampung Cucimanah Kelurahan Jagasatru Kota Cirebon. Masa pendudukan Jepang di Cirebon, menurut budayawan gaek Askadi Sastrasuganda di kediamannya Desa Cangkring Kecamatan Plered Kabupaten Cirebon, makin mempopulerkan gitar.

Pada mulanya Jayana hanya seorang diri bermonolog membawakan kisah rakyat Cerbon dengan iringan suling yang ditiup oleh Barang, warga keturunan Tionghoa yang telah lama mukim di Cirebon. Jayana mengiringi monolognya dengan kecapi. Entah kenapa tidak dinamakan piling (kecapi suling). Agaknya lantaran berat menenteng kecapi maka gitar yang lebih praktis dan cukup gagah saat itu, maka peran kecapi tergeser.

Materi monolog Jayana dengan bahasa Cerbon dominan mengisahkan kehidupan sehari-hari masyarakat. Digelar di mana saja dengan posisi penonton duduk lesehan beralas tikar pandan. Kemahiran Jayana berkisah kerap membuat penonton trenyuh larut dalam kisah.

Mirip tonil di tempat lain atau Masres di Cirebon. Hanya saja Jayana tidak melibatkan banyak kru kesenian tatkala pentas.

Selain Jayana ada pula Uci Sanusi dari Desa Jemaras yang boleh dikata pendiri tarling.

Perkembangan tarling semakin ajeg manakala Abdul Adjib sukses memodifikasi dengan menyertakan banyak seniman yang terlibat. Ada nayaga, sinden dan pemain panggung.

Peran Askadi saat itu bukan sebagai pemain tarling, melainkan kemahirannya menulis cerita menginspirasi penampilan tarling Putra Sang Kala pimpinan Abdul Adjib.

Kisah yang ditulis Askadi antara lain Baridin Ratminah. Berdasar ide temannya, Mama Dam dan Mbok Wangsih ternyata dua orang tetangga Askadi di Desa Cangkring.

Askadi Sastrasuganda yang tetap terlihat energik  itu, hingga kini terus berkarya.  10 buku siap cetak yang diikat tali rapia teronggok lesu di rumahnya. Semuanya telah diprint dan dijilid sederhana, mirip laporan tugas siswa SLTP. Buku-buku itu bertutur tentang banyak hal menyangkut budaya Cirebon.

Kembali ke perannya di dalam seni tarling, Askadi pun menyebut Sunarto Martaatmadja (Kang Ato). Selain itu katanya ada 10 grup tarling di Kota/ Kabupaten Cirebon.

Penonton tarling pasti trenyuh menyaksikan derita Ratminah sesaat setelah menjadi kedanan kepada Baridin lantaran kemat kebo gupak. Uun Kursiasih pemeran Ratminah dengan pakaian lusuh persis perempuan biasa dan robek di beberapa tempat, dengan rambut terurai ~tergila-gila memanggil-manggil nama Baridin. Dari kejauhan Ratminah melolong dan hanya ingin berjumpa dengan Baridin.

Kendala yang muncul ketika tarling terus berderak ialah keinginan penonton. Sinden baru  muncul menembangkan sebuah lagu, penonton naik ke panggung dan berjoget. “Ini merusak penampilan tarling”, papar Askadi.

Ironinya ketika tarling kian diminati dan diundang pada hajatan, tak sedikit penonton yang mabuk berjoget di atas panggung.

“Mambu toor (arak Cap Motor)”, ungkap Askadi. Bau miras yang berasal dari mulut penonton yang berjoget itu merusak pentas tarling. Sinden pun diganggu oleh gaya joget penonton mabuk itu. Mendapati tontonan seperti itu, banyak penonton bubar alias meninggalkan arena pertunjukkan.

Lebih mengejutkan lagi manakala tarling sukses menjadi ikon kesenian Cirebon. Peran gong dan kecrek diganti oleh organ. Padahal dulu saat Jayana pentas, kecrek hanya menggunakan dua buah sendok makan. Masuknya sendok sebagai kecrek menandakan tarling pada masa itu dapat dikatakan modern, sebagaimana ditulis di atas.

Tahun 1990-an muncul istilah tardut (tarling dangdut). Beberapa grup tarling terpaksa menjadi “pemuas” dahaga penonton. Organ tunggal dengan vocalis berbusana aduhai  disertai goyang menggoda sukses melahirkan tardut. Ditambah dengan request penonton tardut secara menulis judul lagu di selembar amplop berisi uang, tarling ala Jayana-Uci Sanusi-Abdul Adjib tergeser.

Sementara vocalis tardut pun sering menyebut nama pejabat sipil dan militer yang hadir, berharap saweran. Pun menyebut nama penonton yang terlihat dari panggung.

Kecrek dan gong yang tergantikan oleh organ, penampilan tarling yang mengalami pergeseran, penonton mabuk sambil berjoget ~pada gilirannya semakin membuat tarling tidak laku manggung.

Kelesuan undangan manggung tak pelak menjadikan turunnya harga (nominal) pentas tarling. Pengundang bahkan hanya memanggil Kang Ato seorang diri, panitia menyediakan sebuah gitar. Tembang tarling klasik Kang Ato cuma diiringi gitar yang dipetik Kang Ato di depan mikrophone. Di seberang sana, penonton ngobrol sendiri, asyik berselfie melalui kamera ponselnya. Suara Kang Ato pun tidak jelas lantaran buruknya kualitas sound system.

Hingga kapan kondisi tarling seperti itu? Akankah masa keemasan tarling berulang?

Askadi Sastrasuganda mengoleksi ratusan kaset lagu-lagu tarling tempo doeloe. Diproduk oleh sebuah studio rekaman Jakarta, ratusan kaset itu terdiam. Tidak ada yang menyalin ke dalam compact disc atau usb, terlebih yang mengekspos melalui aplikasi youtube.

Tarling riwayatmu dulu dan kini bergantung pada kehendak penonton. []

*Penulis lepas, tinggal di Cirebon.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 comments

News Feed