oleh

Pepatah Kanjeng Sunan

Oleh Dadang Kusnandar*

PEPATAH Sunan Gunungjati yang jarang diungkap adalah Ake lara ati, namung saking duriat, artinya jika sering disakiti orang hadapilah dengan kecintaan tidak dengan aniaya. Ujaran sederhana ini menyimpan makna kita harus memberi yang terbaik kepada siapa pun, meski orang tersebut pernah menyakiti kita. Berat sekali melaksanakannya, terlebih ketika ia dimanifestasikan pada koridor politik. Bayangkan, seseorang yang pernah menyakiti kita yang pernah menghujat kita, lalu harus kita maafkan dan tetap berbuat baik padanya. Betapa sulitnya dan hanya nol koma sekian persen yang mampu melakukannya.

Lantas kenapa Sinuhun wong Cerbon memberi fatwa tersebut kepada pengikutnya? Apakah memang rasa kemanusiaan itu lebih tinggi dan lebih penting ketimbang sakit hati? Apakah memang etika sosial mengajarkan untuk selalu berbuat baik kepada siapa saja kendati ia telah berbuat jahat kepada kita?

Kehidupan sosial kerap menyeret manusia abai pada moralitas. Ukuran sukses seseorang sering diukur berdasarkan kuota kekayaan dunianya. Alhasil, satu dan lain berlomba menumpuk kekayaan duniawi. Bukan untuk kebanggaan semata, melainkan juga untuk posisi tawar pada pergaulan sosial. Celakanya, manusia terjebak membenarkan bahwa rejeki sama dan sebanding dengan uang. Padahal (pinjam ujaran seorang kawan): Duit ibarat jenggot, didudut cukul maning. Artinya uang bagai janggut, ditarik (akan) tumbuh lagi. Maknanya adalah kesalehan sosial yang dihantarkan oleh uang yang ada pada kita saat ini. Semakin sering dikeluarkan semakin banyak yang datang. Amaliah atau kesalehan sosial itu kian menumbuhkan janggut uang kita.

Sakit hati sebagaimana dimaksud pada pepatah Sinuhun Jati mengandung makna antara lain, pertama, anak cucu keturunannya kelak harus tetap menjaga moralitas atau kesalehan sosial dengan cara tidak membalas keburukan seseorang dengan keburukan serupa. “Ake lara ati, namung saking duriat” mengajak siapa pun yang membaca pepatah ini untuk segera merenung tentang sikap kita terhadap orang di sekitar kita. Bahwa perbuatan buruk tidak harus dibalas dengan perbuatan buruk pula.
Teringat sebuah kisah pada masa Rasulullah Muhammad saw, kisah teladan tentang maaf tanpa menyakiti hati seseorang. Kita dapat melihat gambaran sikap betapa sabar dan pemaafnya suri teladan kita Rasulullah SAW dalam sebuah kisah yang menceritakan antara beliau dengan seorang pengemis buta Yahudi. []

*Penulis lepas, tinggal di Cirebon.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed