oleh

Pendidikan Karakter

Catatan DADANG KUSNANDAR*

PENDIDIKAN kerap dirujuk sebagai indikator kemajuan bangsa. Konon beredar diktum semakin tinggi pendidikan seseorang semakin tinggi pula status sosialnya. Berbarengan dengannya kehidupan berbangsa menjadi kondusif dalam kerangka pergaulan internasional.

Ki Hajar Dewantoro terenyuh mendapati fakta lemahnya pendidikan anak bangsa di Nusantara pada era kolonial. Hanya keturunan menak yang berhak mengenyam pendidikan formal sebagaimana ditetapkan pemerintah Belanda. Kenyataan ini membuat Ki Hajar Dewantoro dan kawan-kawan membangun Taman Siswa di Yogyakarta.

Sementara beberapa pesantren tradisional sudah beroperasi melaksanakan kegiatan pendidikan sesuai dengan sistem pengajaran agama Islam berdasar kreativitas kiai pendiri pondok pesantren. Salah satu kemajuan luar biasa pengajaran di pesantren, adalah ketika masuknya pelajaran ilmu bumi (geografi) dan berhitung di pondok pesantren Asembagus Situbondo Jawa Timur pada kepemimpinan Ki As’ad Syamsul Afirin.

Pelajaran ilmu bumi diam-diam menanamkan nasionalisme karena berbekal pengetahuan itu, santri tahu kekayaan alam di negerinya sendiri. Terlebih kekayaan alam itu tengah dirajah orang asing atas nama berbagai kepentingan. Dengan pengetahuan geografi pula kitab-kitab klasik karya Ibnu Sina dapat ditelusur keberadaannya. Al Kindi adalah salah seorang geografer muslim yang ternama, juga Al Biruni.

Berkembangnya geografi di dunia Islam dimulai ketika Khalifah Al- Ma’mun (Dinasti Abbasiyah) yang berkuasa dari tahun 813 hingga 833 M memerintahkan para geografer Muslim untuk mengukur kembali jarak bumi. Sejak saat itu muncullah istilah mil untuk mengukur jarak. Sedangkan orang Yunani menggunakan istilah stadion.

Pendidikan nasional di Indonesia dengan demikian memadukan berbagai referensi. Baik dari kultur lokal maupun pengajaran agama. Tak ketinggalan pula lompatan teknologi informasi dan komunikasi. Kohesivitas referensi itu lantas memperkokoh rangka bangun pendidikan bangsa.

Pertanyaan yang mengemuka, renungan apakah yang dapat dipetik dari peringatan Hari Pendidikan Nasional tiap tanggal 2 Mei apabila modernisasi pendidikan (saat ini) tidak menyentuh substansi kebangsaan? Ketika kelompok satu dengan kelompok lain saling hujat dan saling gugat melalui jalur hukum. Ketika penyebaran kebencian (hate speach) melalui media sosial dan media mainstream menguasai alam pikir bangsa Indonesia.

Telah hilangkah spirit Ing ngarso sing tuludo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani dari karakter pendidikan bangsa? []

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed