oleh

Nenek Artiyem Dapat Bantuan dari Baznas dan Dinsos Majalengka

Citrust.id – Artiyem (82), nenek miskin sebatang kara dan tinggal di gubuk tidak layak huni akhirnya mendapatkan program rutilahu dan rantang kanyaah dari Dinas Sosial Kabupaten Majalengka.

Program rutilahu hari ini didapat dari Baznas. Program yang memungkinkan dan paling cepat dari Baznas,” kata Camat Kecamatan Majalengka, Hendra Krisniawan, Kamis (7/2/2019).

Dikatakan dia, program rutilahu akan segera dilaksanakan dan sudah koordinasi dan didukung tokoh masyarakat setempat. Artiyem juga mendapatk program Rantang Kanyaah dari Dinsos berupa makan dua kali sehari.

“Ada juga warga miskin di Cijati yang terkena kanker stadium 4 dan berobat di RSHS sudah mendapatkan bantuan langsung dari Pak Bupati dan Baznas. Sekarang bisa menjalani pengobatan hingga tuntas,” ungkapnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, potret kemiskinan di Majalengka kembali muncul. Nenek Arkiyem (82) warga Blok Sindangsari RT 06/03, Kelurahan Sindangkasih, Kecamatan Majalengka, Kabupaten Majalengka hidup sebatangkara. Ia tinggal di rumah gubuk berukuran 6 m x 3 m yang sering bocor. Arkiyem makan mengandalkan belas kasihan warga serta ketua RT setempat.

Sesekali saat kondisi tubuhnya sehat serta saat musim kapuk, Arkiyem yang sudah dua tahun ditinggal suaminya itu terkadang memungut kapuk randu di perkebunan milik tetangganya, Suha, untuk dijual dengan harga yang tidak seberapa. Kapuk hasil memungutnya di kebun terkadang diperoleh 4 hingga 5 kg. Itu dikumpulkannya selama tiga hari dan diolah selama seminggu.

Arkiyem tinggal di rumah gubuk berdinding bilik dan triplek. Lantai rumahnya berupa tanah yang saat hujan deras terkadang banjir dari pekarangan masuk ke dalam tumahnya. sebagian atap rumahnya pun terkadang bocor. Dia tak memiliki jamban sendiri. Jadi ketika mandi atau buang air besar atau bahkan buang air kecil sekalipun harus berjalan terlebih dulu. Jaraknya kurang lebih 30 meter. Penerangan listrik kini diperoleh dari tetangganya.

“Teu gaduh padamelan, sok mulung kapuk wae. Panon tos teu awas (tidak punya pekerjaan, suka memungut kapuk, penglihatan sudah kurang jelas,” ungkap Arkiyem yang sudah dua tahun menderita katarak.

Ketua RT setempat, Didi Muhdi mengungkapkan, Arkiyem selama ini hidup mengandalkan belas kasihan tetangga dan warga lain, kalau tidak ada tetangga yang memberi makan, dia langsung datang ke rumahnya yang jaraknya sekitar 500 meter.

“Biasanya, kalau belum ada yang memberi makan, dia datang ke rumah. Kadang tiap pagi atau sore saya yang langsung mengantarkan makanan. Kalau sudah makan, dia menolak diantarkan makanan. Alasannya, kalau tidak ada makanan, dia akan atang sendiri ke rumah,” ungkap Didi.

Arkiyem mengalami kemiskinan semenjak suaminya masih ada. Rumah yang ditempatinya saja dibangun dari hasil rereongan masyarakat, jauh sebelum program rutilahu ada.

“Beberapa hari lalu, kusen pintunya baru diganti. Kayunya diperoleh dari pemberian material. Rumahnya harus segera di rehab karena dindingnya juga sudah lama rusak,” kata Didi. (Abduh)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed