oleh

Nasionalisme Maya

Oleh Dadang Kusnandar*

ABAD komunikasi yang kian terbuka sepertinya lebih menyukai pemahaman global daripada nasional. Kabar dari sudut dunia mana pun mudah dan cepat diakses jikalau ada jaringan internet. Kita di mana pun bisa segera tahu tingkah polah manusia tanpa harus bersua satu sama lain.

Dari sudut pandang teknologi, kondisi ini patut disukuri lantaran memperlihatkan kemajuan peradaban manusia. Akan tetapi fenomena mutakhir dunia maya di Indonesia sejak tahun 1990 justru memperlihatkan sebuah kenyataan pahit, yakni melemahnya patriotisme dan nasionalisme.

Seorang teman bertanya, kenapa sekarang sering timbul perpecahan akibat kebebasan ekspresi di media sosial. Ia mengernyitkan kening tanda pusing. Ia menyayangkan lunturnya nasionalisme Indonesia yang terkoyak. “Mereka yang menguasai media massa itulah pemenang pertarungan”.

Saya lupa siapakah yang pertama kali mengucapkan kalimat ini. Buku-buku karya ahli komunikasi massa pun kerap mengutip kalimat tersebut disertai contoh fakta keberhasilan memenangkan “pertarungan”.

Jika benar sang pemenang adalah yang menguasai media massa, apakah pertarungan di abad kini dominasi pertarungan media?

Pertarungan media yang menyebarkan dampaknya ke segala lini kehidupan, terus mengisi hari-hari kita di Indonesia. Baik itu masalah sosial, politik, budaya, bahkan agama.

Pilkada DKI 2017 yang heboh dan dampaknya masih terus terbaca hingga kini, merupakan bukti pemenang pertarungan tidak lain adalah penguasa media. Hanya saja penguasa media dalam konteks ini bukan tokoh tunggal, bukan raja media. Melainkan kerjasama yang terorganisir semua kalangan/ lapisan masyarakat pada sebuah kesepahaman. Kata kuncinya adalah kesepahaman bahwa minoritas dilarang memimpin mayoritas, apa pun kelebihan dan kehebatannya.

Kesepahaman kolektif yang subjektif inilah pemicu merebaknya ketaksepahaman. Diperkuat oleh jaringan media, ujaran tokoh tertentu, maupun hasrat untuk berbeda dengan yang lain maka kesepahaman berganti wujud menjadi ketaksepahaman. Semakin dipertentangkan keadaan ini semakin meruncing serta memancing disharmoni.

Perdebatan mengenai hal ini terus bergulir di media sosial dan media massa lainnya. Sepertinya kita tengah digiring pada pertikaian antarsesama anak bangsa. Sepertinya pula kita menjadi bagian di dalam pertikaian itu dan secara sadar masuk ke arena sebagai petarung media.

Ahok yang mendekam di sel penjara Mako Brimob Kelapa Dua, Habib Rizik Syihab yang tengah diincar kepolisian, tak pelak menggeser kesepahaman kita tentang Indonesia Raya. Diam-diam kita tergelitik untuk terus menyuarakan kebebasan berpendapat, berserikat dan berkumpul lantaran dilindungi oleh Undang-undang Negara.

Akibatnya para pemangku kekuasaan menjadi gamang. Seakan tak kuasa meredam fenomena kebangkitan abad media saat kiwari.
Faktanya terlihat pada keberanian netizen menulis/ berkomentar apa saja termasuk mempertanyakan posisi pemerintah.

Ketika pemerintah memenangkan sebuah kelompok pada suatu pertarungan, kelompok yang kalah seketika mengajukan proses hukum. Lalu nitizen pendukungnya beramai-ramai bersahutan dan mempublish ulang kesalahan tokoh dari kelompok pemenang.

Sebaliknya pihak yang dimenangkan pun tak tinggal diam. Mereka bersegera mengungkap data-data lama kesalahan sosial sang korban agar terus terjerembab pada tubir gulita. Ironinya syukuran atas kemenangan pun sambil mensyukuri nasib buruk sang korban.

Pertanyaannya di manakah nasionalisme kita di abad kini? Apakah hanya karena kebencian kepada seseorang yang berbeda agama/ ideologi, kemudian kita bebas mem-bully di media sosial tanpa pertimbangan akal jernih? Di manakah kebhinekaan Nusantara yang dulu berdarah-darah diperjuangkan para pendiri bangsa?

Media akhirnya menjadi ajang untuk saling meniadakan. Satu dengan lain saling menyihir, berspekulasi, mencibir dan sebagainya.
Seingat saya fungsi media itu ada empat, yakni to informate, to educate, to entertaint dan to influence. Agaknya kini semua pengguna media hanya mengambil to influence (untuk mempengaruhi). Sementara fungsi mendidik (to educate) telah berlalu entah ke mana. Uniknya lagi manakala ada reportase yang bersifat to informate (mengabarkan), banyak pembaca ragu pada kebenaran reportasenya lalu serentak menuangkan ketidakpercayaan itu melalui komentar dan tanggapan di media sosial.

Telah hilangkah nasionalisme kita? Telah menjauhkah patriotisme kita? Begitu hebatkah kuasa keberpihakan subjektif hingga mampu mengalahkan paham kebangsaan?

Semestinya abad media massa (dan media sosial) menempatkan kita untuk tetap bersatu pada keindonesiaan. Tidak mudah terpancing pada pertikaian yang memecah kebhinekaan. Justru keberbagaian Indonesia sejatinya merupakan berkah yang mesti disyukuri. Kebhinekaan itulah yang mendorong kejayaan Nusantara, di samping ia telah teruji sejarah hingga  wilayahnya membentang luas ke samudra raya.

Mari kembali kepada Indonesia Raya. Kembali pada kesejatian diri untuk terus berada pada kemandirian.

Terakhir ujaran Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo tahun lalu tentang proxy war mengajak kita untuk berhati-hati dan tidak terjebak dalam perang media. Gatot mengingatkan bahwa perang di abad kini dapat berlangsung tanpa pengerahan pasukan, melainkan cukup dengan kekuatan jaringan media massa.

Dengan demikian sebagai anak bangsa yang cinta tanah air dan masih memiliki nasionalisme, kuasa subjektif dan kolektif jangan sampai menggeser buah pikir yang bening. Berawal dari buah pikir yang bening disertai paham kebangsaan, tetaplah kita menjadi bangsa Indonesia. Bangsa dan negara kepulauan yang dicemburui oleh seluruh bangsa dan negara lain di luar Indonesia. []

*Penulis lepas, tinggal di Cirebon.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed