oleh

Nama Ampyang Diambil Dari Jalan Yang Rusak, Benarkah?

Citrust.id – Jika mendengar kata ampyang indra perasa tentu akan langsung menjuru pada manisnya gula merah dan gurihnya kacang tanah. Usut punya usut, investigasi citrust.id kali ini akan menguak sejarah dari jajanan tradisional khas tanah Jawa yang satu ini.

Tepatnya di Kelurahan Kecapi, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon terdapat sebuah home industri ampyang yang tetap eksis meski zaman telah bertransformasi dengan gedung-gedung pecakar langit.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Owner Loano Food, Sumbana, nama ampyang ini ternyata diambil dari sebuah kondisi jalan yang sangat rusak lengkap dengan lubang-lubang dan bebatuan.

Konon katanya, jalan seperti itu sering disebut dengan istilah jalan ampyang oleh orang-orang terdahulu. Berkaca dari situ, nama ampyang pun mulai melekat pada jajanan yang satu ini karena teksturnya yang tidak rata dan bergelombang.

“Untuk asal pasti daerahnya tidak banyak yang tahu, ada yang mengatakan ampyang berasal dari daerah Solo, adapula yang menyebutnya berasal dari Yogyakarta. Yang pasti ampyang ini berasal dari daerah Jawa.” Ungkap Sumbana kepada citrist.id, Minggu (27/10/2018).

Lebih lanjut Sumbana mengatakan, jika dahulu ampyang hanya terbuat dari gula merah dan kacang tanah saja. Beda halnya dengan sekarang, beragam inovasi mulai dikembangkan oleh para pelakunya untuk menambah daya tarik pembeli.

Mulai dari inovasi rasa, bentuk, bahkan tidak sedikit pula yang membuat eksperimen dengan menambah bahan lain seperti perasan jahe, atau bentuknya yang dibuat menyerupai pola hati, bahkan tidak sedikit juga yang menganti bahan dasar kacang tanah dengan jenis kacang lainnya.

Sumbana membenarkan hal demikian. Menurut dia dalam pembuatannya memang diperlukan sebuah gebrakan agar ampyang tetap dicintai. Dalam hal ini, ia mengaku menambah sedikit perasan jahe pada ampyang guna menciptakan sensasi rasa hangat pada badan.

“Apalagi kalau dikolaborasi dengan teh hangat disaat hujan. Rasa hangat dan manisnya pas ditambah saat cuaca sedang dingin-dinginnya,” terangnya.

Sempat disinggung terkait sedikitnya pelaku usaha jajanan tradisional yang hingga saat ini masih bertahan, ia pun berharap jajanan seperti ampyang miliknya tidak lapuk dimakan waktu dan mampu bersaing dengan jajanan modern dipasaran.

“Harapannya, jajanan tradisional seperti ampyang ini tidak hilang. Bisa selalu eksis di masyarakat, mau tidak mau kita selaku pengusaha jajanan tradisional harus berani berinovasi untuk menarik minat pembeli,” tandasnya./dhika

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed