oleh

Mengungkap Jejak Keberadaan Makam China di Majalengka

Citrust.id – Tulisan ini tidak bermaksud rasis atau SARA namun ingin mengungkap sejarah masa silam yang diharapkan menjadi bahan renungan sekaligus pembelajaran bagi generasi masa depan agar bisa diambil hikmahnya dan kesalahan di masa lalu bisa diperbaiki.

Seperti diketahui, di wilayah Kabupaten Majalengka banyak etnis China yang sukses jadi pedagang yang tersebar di wilayah Kecamatan Jatiwangi, Sumberjaya, Kadipaten, Dawuan, Kecamatan Majalengka dan lainnya di samping etnis Arab, India, dan lainnya.

Namun, yang agak mengherankan karena di wilayah Selatan Majalengka seperti Kecamatan Talaga, Cikijing, Maja, dan sekitarnya tidak terdapat etnis China. Konon, menurut beberapa cerita lisan turun temurun mereka dibantai dan berpindah ke Kuningan. Jejak pembantaian itu terbukti dengan banyaknya kuburan China di sekitar Lapangan Bola Desa Talaga Wetan, di belakang SMA Talaga, dan sekitar Terminal Citungtung, Desa Talaga Wetan, Kecamatan Talaga, Kabupaten Majalengka.

Langkah Abduh reporter Citrust.id menelusuri makam-makam China di belakang Terminal Citungtung Kecamatan Talaga, setidaknya menemukan sedikitnya 10 buah makam dan ada puluhan lainnya yang tersebar di sekitar belakang SMA Talaga dan sekitar lapangan Bola Gada-Gada Desa Talaga Wetan. Bersama pegiat Sejarah dari Komunitas Grup Madjalengka Baheula (Grumala) Mang Naro, Eda Suwardaya, Ela Nurela, Uwa Geblug, dan Tata Oemi menelusuri jejak-jejak makam-makam China tersebut yang kondisinya banyak yang masih utuh dan bagus, namun sebagian tertutup ilalang.

Pegiat Sejarah dari Grumala Mang Naro mengungkapkan, pembantaian etnis China di Talaga menurut Buku Sejarah “Tionghoa Dalam Pusaran Politik”, itu dikenal dengan Peristiwa Geger China tahun 1947, yaitu peristiwa pembunuhan dan pengusiran Etnis Tiongha di Majalengka.

“Menurut buku tersebut, peristiwa ini hampir merata terjadi di era Revolusi Indonesia saat itu, sehingga kelompok etnis Tionghoa mengganggap pemerintah Republik ini tidak bisa menjamin keamanan dan keselamatan mereka sehingga dibuatlah pasukan Poa An Tui untuk menjaga keamanan kaum Tionghoa. Banyak oknum pasukan Pao An Tui bertindak “balas dendam” atas peristiwa yang terjadi kepada kelompok mereka dengan bergabung ke Pasukan Belanda dan menggempur para pejuang,” ungkapnya.

Terkait pembantaian etnis Tionghoa di Talaga, menurut Naro dari sumber berita Belanda menyebutkan, jumlah penduduk Tionghoa di Talaga dan Cikijing berjumlah 965 orang. Sebelum pasukan Belanda tiba tanggal 3 Agustus 1947, selama lima hari Perampokan terjadi di Bandjarsari sebuah Desa sekitar Cikijing. Rumah–rumah etnis Tionghoa dihancurkan sehingga Etnis Tionghoa mengungsi ke Talaga.

“Hal serupa terjadi dengan Penduduk Sindang, Pada 5 dan 6 Agustus 1947, 700 etnis Tionghoa dari Talaga, Cikijing, Banjarsari mengungsi ke Kuningan. Dua orang Tionghoa Lim Eng Hin (50) dan Loa Jang Nio (50) dibakar hidup-hidup. Sepuluh rumah etnis Tionghoa yang ditinggalkan pemiliknya dijarah dan dibakar,” jelas Naro.

Sedangkan peristiwa di Maja atau sekarang Kecamatan Maja, menurutnya dengan penduduk Tionghoa berjumlah 189 orang penduduk Tionghoa di tempat ini, sejak 30 Juli 1947 semuanya hilang. Dilaporkan bahwa mereka dipaksa mengungsi oleh Tentara Republik. Pihak militer Majalengka yang melakukan pencarian pada 16 Agustus 1947 kembali dengan sia-sia dan tidak ada tanda-tanda ditemukan di mana mereka berada.

“Ketika tiba di Desa Paniis dan Sukasari yang terletak di atas Maja, ternyata kedua Desa tersebut telah ditinggalkan penduduknya karena takut melihat kedatangan Tentara Belanda. Dua orang penduduk Desa yang tertinggal mengatakan kemungkinan orang-orang Tionghoa tersebut dapat ditemukan di Desa Cibuluh, sebuah desa yang dengan mudah dapat ditempuh dari Talaga,” jelas dia.

Kini, nasib makam Tionghoa tersebut terlantar tidak ada perhatian dari pemerintah. Info dari warga setempat sejak puluhan tahun yang lalu, makam Tionghoa banyak dijarah pencuri karena diyakini banyak benda berharga yang ikut dikubur. Kini nasibnya tidak jelas, bahkan anak zaman sekarang banyak yang tidak tahu keberadaan makam-makam tersebut. /abduh

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed