oleh

Lidah dan Kemaksiatan

Oleh Dadang Kusnandar

SUFI besar kelahiran Nihawand Persia namun besar di Baghdad, Al Junaid al-Baghdadi memaparkan sebagaimana dikutip dalam kitab Risalah al-Qusairiyah pernah berkata: Sewaktu aku berusia tujuh tahun dan sedang bermain-main di hadapan al-Saqati, dan al Saqati ketika itu sedang melakukan pembicaraan tentang al-syukr, lalu bapak saudaraku itu bertanya kepadaku, “Anakku, syukur itu apa?” Aku menjawab kepadanya bahwa syukr itu ialah bahwa seseorang itu tidak melakukan maksiat terhadap Tuhan dengan menggunakan nikmat yang diberikan Tuhan kepadanya.

Bapak saudaraku berkata, “Nikmat Tuhan yang diberikan kepada engkau itu tentulah (termasuk) lidahmu.” Al-Junaid seterusnya berkata, “Mataku senantiasa berlinang apabila aku teringat apa yang telah diucapkan oleh al-Saqati tersebut.”

Pembaca budiman, nikmat Tuhan berupa lidah tentu saja mesti optimal penggunaannya. Terlebih pada bulan mulia Ramadhan yang kurang seminggu kita jalani. Berbagai ucapan senantiasa harus dijaga untuk membiasakan kita bersyukur atas nikmat lidah yang diberikan Tuhan kepada kita. Sebaliknya apabila lidah diumbar bebas mengatakan apa saja, maka rasa syukur atas lidah pasti berbuah keburukan. Menjaga lidah berarti menjauhkan dari perbuatan maksiat. Semakin kerap berbuat maksiat semakin jauh dari rasa syukur dan pertobatan. Padahal tidak ada main-main untuk pertobatan.

Pada pengajian rutin Rabu malam di kantor Pimpinan Cabang Nahdhatul  Ulama (PCNU) Kota Cirebon, 17 Mei 2017 yang lalu, Sutejo Ibnu Pakar  (kang Tejo) menerangkan bahwa Allah merasa bangga kepada orang yang melakukan taubat nasuha, akan tetapi jangan sekali-kali mengulangi perbuatan-perbuatan maksiat. Taubat nasuha dapat diawali dengan kesungguhan meninggalkan perkara/ ucapan yang tidak berguna. Lalu bertahap meningkat pada rasa syukur atas pemberian lidah. Lidah itu mesti basah dengan ucapan-ucapan dzikrullah sembari tak lepas menggantungkan harap bahwa Allah swt dapat seketika mengubah orang buruk menjadi baik.

Menjadi hamba yang takzim dalam pelaksanaan ubudiyah kepadanya. Jangan berputus asa karena tidak ada dosa besar selain musyrik. Allah pasti akan mengampuni. Akan tetapi jangan ulangi lagi perbuatan maksiat. Ramadhan 1438 H kali ini tentu tidak keliru untuk  melakukan pertobatan kepadanya.

Di dalam kitab Iqodzul Himam fi Syarah Al-Hikam halaman 108, sebagaimana diajarkan Kang Tejo, Ibnu Ath Thoilah mengisahkan do`a Al Junaid al-Baghdadi mengenai pertobatan atas kemaksiatan. Do`a itu berbunyi, “Wahai Tuhanku, kemaksiatanku mendorongku untuk melakukan pertobatan. Kadang ketika aku taat padamu mendorongku untuk berbuat maksiat. Apa yang aku khawatirkan dari keduanya?”. Al Junaid meneruskan do`anya: Kalau akku memilih maksiat, Engkau menyambutku dengan dengan kemurahan-Mu, dengan sifat pemaaf-Mu, aku tidak perlu khawatir. Dan kalau aku memilih bertobat/ berbuat baik, Engkau memberiku keadilan.

Di atas diterangkan tentang lidah yang biasa bergunjing dan atau memburuk-burukkan orang lain. Alkisah ada seseorang yang menjelek-jelekkan sahabat Abubakar ash-Shidiq radhiallahu anhu. Tidak lama kemudian orang tersebut muntah darah dan dari mulutnya keluar daging. Ketika diceritakan oleh sabahat lain kepada Abubakar, keluhuran budi sahabat utama ini tampak. Beliau mendatangi orang tersebut kemudian memberinya uang dalam jumlah banyak.

Bayangkan pembaca budiman. Keluhuran ahlak sahabat Abubakar ini mengajak kita untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan, melainkan dengan kebaikan. Cerita di atas juga memuat pesan moral agar kita senantiasa menjaga lidah dari kemaksiatan. Bergunjing, memperolok orang lain tergolong maksiat yang mesti dihindari. Mestinya orang yang berbuat maksiat bisa melihat kemuliaan Allah swt sehingga ia urung melaksanakan perbuatan maksiat. Dan seseorang yang berbuat maksiat sebenarnya ia melihat kelemahan dirinya sendiri. Dalam bahasa sederhana, pengertian maksiat ialah menyalahi aturan Tuhan.

Awal bulan mulia Ramadhan yang terlihat hiruk pikuk dengan kegiatan peribadatan kepada ilahi seyogyanya disikapi dengan belajar menjaga lidah. Lidah yang tak bertulang kadang menyakitkan bagi orang lain. Lidah yang terbiasa diumbar dengan perkataan-perkataan buruk bukan saja mengurangi kekhusyuan ibadah puasa, akan tetapi membatalkan puasa kita. Inilah sebabnya menjaga lidah dari kekeliruan ucap insya allah akan menjauhkan kita perbuatan maksiat.

Membasahi lidah dengan dzikir, bacaan-bacaan baik, lafadz ilahi dan sebagainya sebiasa mungkin merupakan kebiasaan di bulan suci ini. Diharapkan kebiasaan ini berlanjut pada 11 bulan Qomariyah berikutnya. Ramadhan konon dikatakan sebagai bulan latihan. Pemeo ini ada benarnya, tapi tidak tepat benar. Kenapa? Kang Tejo menjelaskan dengan analogi pendidikan formal. Anak-anak selama enam tahun sekolah, ujiannya hanya sekali yakni di kelas enam. Enam tahun itu berlatih dan cukup diberikan buku raport. Tapi di akhir kelas enam siswa SD akan memperoleh ijazah. 11 bulan sebelum Ramadhan itulah bulan latihan, sementara Ramadhan merupakan bulan ujian guna memperoleh ijazah dari Tuhan.

Namun menyadari kelemahan kita sebagai kaum muslim awam teruslah berlatih menjaga lidah. Mulailah pada Ramadhan 1438 ini. Sambil berharap akan kamahamurahan dan ampunan Allah, mari kita laksanakan ibadah Ramadhan secara belajar/ berlatih menjaga lidah dari perkataan yang menyakitkan orang lain. Allahu `alam bish shawab.@

Penulis lepas, tinggal di Cirebon

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed